Adilkah untuk Mendaur Makna Simbolisme “Penyihir” Ketika Perburuan Terhadapnya Masih Terjadi?

— Ulasan Film
FFD 2025

Ketika kita membicarakan witch hunt (lit. perburuan penyihir), biasanya kita akan merujuk pada persidangan penyihir Salem atau perburuan penyihir di Eropa pada abad ke-14 hingga ke-18. Faktanya, hal tersebut terjadi di seluruh dunia: Timur Tengah, Afrika Sub-Sahara, Tiongkok, dan banyak wilayah lain––bahkan di tempat yang begitu dekat, Jawa Timur, yang terjadi pada akhir 90-an. Dengan melihat beberapa kasus perburuan penyihir, mudah untuk mengabaikannya dengan perkembangan pemikiran modern. Kiasannya bahkan ada di banyak media populer, yang memberikan pandangan miring terhadap “penyihir”; kini melalui lensa yang lebih bernuansa.

Saat ini, “penyihir” sedang dalam proses daur makna, perlahan melepaskan stereotipenya yang disimplifikasi. Sebagai contoh, ketika menengok kembali pada Ratu Ilmu Hitam (Lilik Sudjio, 1981) yang dibintangi Suzzanna, kita menemukan penempatan posisi penyihir yang memiliki peran aktif dalam membangun narasinya sendiri. Contoh yang lebih baru, Wicked (Jon M. Chu, 2024), menempatkan dua penyihir yang sangat berbeda untuk menekankan persimpangan feminisme––merefleksikan perjuangan nyata dalam kehidupan, seperti identitas, inklusivitas, dan ekspektasi gender. Dengan keajaiban penyihir yang berdiri di tengah proses pemulihan dari lensa misoginisnya, tak mungkin perburuan penyihir masih terjadi di era sains dan nalar kontemporer kita, kan?

Praktik perburuan dan pelabelan penyihir masih berlangsung di India, terutama di Assam, Jharkhand, Chhattisgarh, dan banyak lainnya. Pembunuhan dengan sihir telah menelan lebih dari 3.000 korban sejak 2000-an.

The Flow of Resilience (2024) adalah karya sinematik yang merangkai arsip pribadi––sebuah diari yang ditemukan, foto-foto lawas, dan kisah lisan yang diceritakan oleh korban––untuk merenungkan kenangan dan pengalaman hidup para perempuan yang dituduh sebagai penyihir dari wilayah India bagian timur laut. Bak menggali arsip trauma kolektif, dokumenter pendek ini berusaha menemukan potongan yang hilang yang secara sistematis dihapus dari sejarah. Film ini mengungkap realitas yang jauh berbeda dari narasi modern saat ini, bahwa label “penyihir” masih digunakan untuk menindas, menghapus, dan menghancurkan kehidupan serta pengalaman hidup perempuan dalam masyarakat patriarkal yang sistemik.

Perburuan dan pelabelan penyihir masih marak dilakukan karena hal tersebut merupakan cara yang sangat efektif untuk membungkam kelompok marjinal dan rentan. Banyak para tertuduh penyihir adalah tabib, janda, bahkan perempuan tua yang dianggap sebagai ancaman terhadap standar patriarki yang mengharuskan perempuan untuk tunduk. Para tertuduh penyihir, kebanyakan dari mereka, tidak tunduk pada norma cis-hetero. Bahkan, alasan sederhana seperti keinginan hidup secara mandiri dan otonom dapat menjebloskan mereka pada tuduhan tersebut. Kisah nyata tentang perburuan penyihir (yang diceritakan oleh penyintas atau kerabat mereka) tetap tersembunyi dan jarang terdengar karena rasa takut atas pelabelan yang dapat berujung pada hukuman mati yang tak adil. Menceritakan kembali pengalaman mereka yang dituduh dan diburu sebagai penyihir hanya akan membuat hidup mereka semakin rentan—karena hal tersebut akan membuat mereka menyalahkan diri sendiri.

Lalu, adilkah untuk mendaur makna simbolisme “penyihir” ketika perburuan terhadapnya masih terjadi? Mengeklaim kembali istilah tersebut tak lantas menjadikannya adil. Namun, yang terpenting adalah kesadaran dan pemahaman kita terhadap ketimpangan realitas yang ada saat ini. Mengambil kembali identitas “penyihir” dan praktik “sihir” sebagai warisan asli dari stigma berbahaya yang ditimpakan oleh kekuatan kolonial sebagai simbol kemajuan interseksional dapat dianggap adil jika pengambilalihan tersebut dilakukan secara sadar, relasional, dan berakar pada solidaritas alih-alih abstraksi; seperti yang terlihat dari pengambilan alih identitas “penyihir” oleh feminisme kulit putih, dan contoh-contoh merugikan lainnya.

Seperti The Flow of Resilience yang menyoroti peristiwa-peristiwa kekerasan di berbagai wilayah yang minim atau bahkan tak tersiar di media internasional, mari kita pastikan bahwa kisah-kisah para tertuduh penyihir tetap lantang terdengar––tertulis dengan gamblang dalam sejarah dan tak hilang bersama proliferasi simbolisme cupet dalam media populer. Karena jika tidak, hal ini akan membuka risiko langkah kolonial––mengubah penderitaan nyata dan penghapusan praktik budaya menjadi metafora belaka. (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)

 

Detail Film
The Flow of Resilience (Boi Thaka)
Pranami Koch | 14 min | 2024 | India
Seleksi Resmi untuk program Spektrum
Festival Film Dokumenter 2025