Siang itu (21/11), di ruang pemutaran Pascasarjana ISI Yogyakarta, pertanyaan apa yang dimaksud dengan “reality sandwich” menggema selepas pemutaran dokumenter Ep.10 Reality Sandwich: Jogja Chronicles (2025) arahan Ho Bin Kim. Film ini mengundang penonton menatap Jogja dengan lebih jeli; tak sekadar sebagai lanskap kota, tetapi juga sebagai medan pertarungan makna, realitas, dan tatapan. Film berdurasi 21 menit ini tergabung dalam Program Perspektif FFD 2025: Post-cinema, sebuah bingkai kuratorial yang memeriksa praktik media kontemporer dan cara teknologi mengubah resepsi kepenontonan.
Di sesi diskusi tanya-jawab, sutradara Ho Bin Kim memaparkan asal-usul dan pendekatan yang ia pakai dalam menggarap dokuserinya tersebut. “Reality sandwich” adalah caranya menguji realitas dengan membiarkannya sebagai pertanyaan terbuka yang diajukan kepada para seniman/kolektif di berbagai kota di belahan dunia. Episode demi episode dibuat tanpa skenario dan patokan artistik tertentu. Batasannya hanya satu: waktu. Satu hari. Untuk Jogja, Kim menyerahkan empat perangkat rekaman sehari-harinya (iPhone, MacBook, action cam, dan camcorder) kepada empat seniman sekaligus rekannya, Wok the Rock, kemudian meminta mereka merekam apa saja. Setelahnya, barulah Kim kemudian menjahit rekaman itu menjadi satu kesatuan wacana.

Lazimnya, di episode-episode Reality Sandwich sebelumnya, Kim sendiri yang memegang kamera dan mendorong para protagonisnya untuk bergerak. Namun, untuk episode Jogja kali ini, ia memberi otonomi penuh pada keempat rekannya tersebut. Ia tidak ikut terjun ke lokasi, tidak mengarahkan, dan tidak tahu rekaman macam apa yang akan ia dapatkan nantinya. Pilihan ini, menurut Kim, selaras dengan etika representasi yang memberi ruang bagi suara-suara (voices) lokal alih-alih menatap Jogja dengan eksotisasi ala kolonial.
Lantas, ini jadi film karya siapa? Pertanyaan etis ini kemudian muncul dalam proses pengeditan. Pada akhirnya, menyunting menjadi batas minimal otoritas yang bisa ia ambil sekaligus sebagai bentuk pengakuan atas posisinya sebagai outsider yang membangun “jembatan” alih-alih “tembok” dengan Jogja dan segala rupa realitas sandwich-nya.
Di balik pendekatan itu, Kim juga menyebut alasan praktis-politis: banyak produksi pengetahuan yang sebenarnya hanya mereproduksi kemapanan-kemapanan yang sudah ada. Ia ingin menggeser fokus ke pengalaman lokal yang organik. Karena itu pula, riset yang berlebihan sebelum penggarapan film justru ia hindari agar tidak terbawa pada prasangka-prasangka seperti itu. Kemudian, proses pascaproduksi film ini digarap Kim di Korea dengan memadatkan hasil rekaman dari empat perangkat menjadi ±21 menit; sebuah keputusan penyuntingan yang memerlukan pemangkasan besar-besaran sekaligus lintas budaya dan bahasa.

Pada akhirnya, Reality Sandwich menandai realitas yang akrobatik; yang terkonstruksi oleh cara kita menatap, merekam, dan memaknai hidup. Dalam dunia yang kian terhubung, paradoks keterhubungan itu justru kerap melahirkan rasa alienasi. Di konteks ini, dokumenter Ho Bin Kim menawarkan cara pandang dan tindak tutur yang segar sekaligus luwes. Ia mengajak kita bermain-main di atas prasangka atas realitas seraya memberi ruang yang lebih terbuka dan lega kepada lapis-lapis kehidupan yang saling berkelindan. (Hesty N. Tyas, 21/11/2025 [Ed. Vanis])



