Ayah dan Ingatan-Ingatan yang Tumpah

— Ulasan Film
FFD 2025
Our Father Hour (2025)

Sosok ayah senantiasa memiliki posisi tersendiri di benak anaknya. Baik ketika ia masih ada maupun saat ia sudah tiada, entah karena meninggal atau meninggalkan keluarganya dengan sengaja. Kenangan itu akan senantiasa melekat di lubuk hati anaknya, bahkan ketika ia telah tiada. Our Father Hour (Aziz Hammad Kusteja, 2025) menawarkan pembacaan atas kenangan mengenai sosok ayah melalui animasi. Adegan dalam setiap bingkai gambar dikonstruksi untuk mengisahkan kisah dua protagonis, Raindza dan Jilan. Ingatan-ingatan mereka akan sosok ayah digambarkan ulang dalam dokumenter animasi ini.

Our Father Hour (2025)

Raindza merupakan gadis yang ditinggalkan ayahnya dengan sengaja ketika ia duduk di kelas 6 SD. Sedangkan Jilan kehilangan sosok ayahnya yang meninggal ketika ia duduk di bangku kelas 1 SMP. Meskipun memiliki pengalaman kehilangan yang sama, perbedaan cara kehilangan membuat mereka memiliki cara yang berbeda untuk merelakan kepergian ayah mereka. Kisah Raindza dan Jilan dituturkan dalam 3 babak penceritaan dalam dokumenter sepanjang 13 menit ini. Penonton akan dibawa pada tegangan perasaan yang tersisa atas penyesalan dan sedikit dendam dari masa lalu. Sebuah pertanyaan besar terlontar: bagaimana jadinya jika ayah masih ada di dunia?

Ragam cerita yang jujur dan subtil dari masing-masing penutur membawa penonton pada dunia yang sama dan perasaan yang serupa. Perasaan sedih dan haru hadir di antara visual animasi melalui rekaman tutur dan musik pengiring. Dokumenter ini menghadirkan ruang imersif partisipatif yang membawa kita hanyut pada perasaan dan imaji tentang sosok ayah yang tumpah ruah. (Ahmad Radhitya Alam) (Ed. Vanis)

 

Detail Film
Our Father Hour
Aziz Hammad Kusteja | 13 min | 2025 | D.I. Yogyakarta, Indonesia
Berkompetisi dalam program Kompetisi Pelajar
Festival Film Dokumenter 2025