“Ritual without reverence is empty.” (lit. Ritual tanpa sikap menghormati adalah kesia-siaan)
Dalam The Analects, Konfusius bilang bahwa tanpa kemanusiaan, ritual hanyalah cangkang kosong. Spirit itu bergema dalam A Land With No Ceremony (Bichun Yang, 2024), film yang berangkat dari sebuah kepulangan seorang violis ke kampung halamannya di Hong Kong pada 2020, ketika pembatasan pandemi mulai dilonggarkan. Dari sanalah film bergerak dan bermain-main di antara batas nonfiksi dan fiksi; berusaha menangkap atmosfer sosial modern yang terasa lebih mengerikan dari kenyataan itu sendiri–sebuah konstruksi dunia di mana kehidupan sehari-hari terus berlangsung, tetapi makna dan ritmenya kian tergerus oleh hegemoni modernisasi.

Dunia, sialnya, mematok duka dengan harga. Tidak hanya can’t afford to live, tetapi juga can’t afford to die. Terhimpit di sana-sini hingga mati. Di Tiongkok, biaya pemakaman membuat yang berduka kesulitan berduka. Muncul istilah “sibuqi” yang berarti tak mampu mati dengan layak dan “grave slave”, mereka yang berutang demi memakamkan keluarganya. Dalam konteks itu, film Yang menjadi perlawanan halus terhadap sistem yang selalu tertukar dalam menakar sehingga makna dan ritual jadi mahal dan tersisihkan.
Di balik segala lapis relasi kuasa dan ceritanya, A Land With No Ceremony menawarkan “ceremony” tandingan, yakni: kehidupan sehari-hari. Keseharian kita sudah cukup sakral untuk di-upacara-kan. Melalui tempo yang ritmis dan tak tergesa-gesa, film ini memprovokasi kita untuk memberi perhatian pada dan merayakan keseharian. Ia memperlambat dunia, memaksa kita melihat tubuh yang bekerja, menunda, menanggung. Batas antara fiksi dan dokumenter bukan sekadar strategi estetis, melainkan cara untuk menguji kembali apa yang disebut “nyata” dan bagaimana makna direkonstruksi di baliknya.

Ceremony masih eksis, tapi ia berubah bentuk: dari prosesi menjadi perhatian, dari kegegap-gempitaan menjadi kesederhanaan dalam keseharian. Tidak ada upacara hari ini karena upacara itu telah melebur dan menubuh dalam laku hidup sehari-hari, dalam cara kita merawat dan meruwat yang ada di kanan-kiri. (Hesty N. Tyas) (Ed. Vanis)
Detail Film
A Land With No Ceremony
Bichun Yang | 94 min | 2024 | Tiongkok, Hong Kong
Berkompetisi dalam program Kompetisi Panjang Internasional
Festival Film Dokumenter 2025



