Kemasan minimalis dalam mengantarkan struktur bercerita personal dan intim secara konsep menjadikan The Elderphone (2025) sebagai bentuk lain untuk membingkai realitas yang getir. Tatanan yang secara bersamaan mereduksi tetapi juga memperluas diskursus mengenai hubungan keluarga berkelindan dengan kematian dan penghapusan–atau malah pengabadian–kenangan.
Ada nuansa “kurang ajar” dalam nyawa penceritaan film ini, sebuah napas yang jahil sekaligus hangat dengan penerjemahannya sendiri. Sutradara Iqbal Keane Kembaren memotret percakapan dirinya dengan sang nenek seakan-akan punya “contekan” hidup. Kamera statis mampu membungkus film yang mengantar kita pada kilas balik kehidupan sang nenek. Nama-nama yang bergulir menjadi jalur contekan tentang apa yang telah dan akan terjadi dalam hidupnya, atau mereka.

Yang sempat datang, yang sudah pergi, dan yang entah nasibnya kini. Nomor telepon dan informasi dasar tentang Nenek Karo terkuak dengan sendiri dalam lapisan demi lapisan, terkecuali nama aslinya. Namun, kita tahu seluruh ceritanya dalam kurun waktu kurang dari 20 menit. The Elderphone adalah jelmaan pengabadian kenangan dan upaya intervensi realitas yang kuat mengenai konektivitas antara kematian dan teknologi, sebuah metafora mencekam tentang memori dan cara membuat–atau menghapus–nasib kita sendiri. (Gantar Sinaga) (Ed. Vanis)
Detail Film
The Elderphone
Iqbal Keane Kembaren | 18 min | 2025 | Sumatra Utara
Seleksi Resmi untuk program Lanskap
Festival Film Dokumenter 2025



