Sebelum dunia mengenal nama mereka, ada seorang gadis yang menulis dan seorang gadis yang membakar. Satu bersembunyi di balik dinding, mengajarkan ketakutan untuk berbicara melalui tinta. Yang lain berdiri di tepi laut, membiarkan amarah terasa seperti kebebasan. Mereka tidak pernah bertemu, tetapi entah bagaimana angin membawa kisah mereka satu sama lain, menyeberangi lautan, melintasi abad, hingga sejarah, yang tenang dan keras kepala, mengizinkan mereka bersentuhan.
Mari sebutkan nama mereka: Anne Frank dan Martha Christina Tiahahu. Dua gadis yang menolak untuk menghilang. Dua detak jantung yang terus mekar dalam kegelapan. Sutradara Noah Berhitu dibesarkan di antara dua dunia: Belanda, di mana nama Anne menjadi bisikan penghormatan, dan Maluku, di mana kisah Martha masih bergetar di bawah gelombang. Di antara kenangan itu, ia menemukan pantai yang tenang di mana keduanya dapat beristirahat, keduanya dapat merasa menjadi bagian.

Dalam Statues Rule the Waves (2024), Berhitu membiarkan mereka bertemu dalam jiwa. Dokumenter ini tidak menceritakan kisah mereka, melainkan mendengarkannya. Ia bernapas bersama mereka. Rasanya, seperti membuka jendela setelah bertahun-tahun diam, atau menemukan cangkang kerang yang menyenandungkan nama seseorang. Ia melayang seperti kenangan: perlahan, lembut, seperti sinar matahari yang bergerak melalui air. Buku harian Anne dan perlawanan Martha menjadi dua cara untuk mengucapkan doa yang sama: Aku masih di sini.
Untuk sejenak, kita hampir bisa merasakan keduanya hidup dan berkilau. Dan setelah 40 menit, dokumenter ini memudar, tetapi cahayanya tidak. Ia bertahan seperti garam di kulit, seperti cerita yang tak bisa berhenti didengar. Mungkin itulah kenangan: laut, yang selamanya kembali. Dan jika laut tak pernah berhenti datang, apakah mereka benar-benar pernah pergi? (Tirza Kanya) (Ed/Trans. Vanis)
Detail Film
Statues Rule the Waves
Noah Berhitu | 35 min | 2024 | Belgia, Indonesia, Belanda
Seleksi Resmi untuk program Docs Docs: Short!
Festival Film Dokumenter 2025



