Shin Hua (2020): Warisan Tanpa Penerus

01—12—2020
Film Review

Shin Hua (2020) menyajikan sejarah tempat cukur tertua di Indonesia yang masih bertahan hingga saat ini meski sepi pelanggan.  

Shin Hua (Erick Sutanto, 2020) menghadirkan kisah tentang tempat cukur yang pada 18 Februari 2019, dinobatkan menjadi toko pangkas tertua di Indonesia. Dahulu, Shin Hua merupakan tempat cukur paling ramai dan terkenal di Surabaya. Hingga seiring berjalannya waktu, Shin Hua mulai kehilangan pelanggannya. Tempat cukur yang berdiri sejak 1911 kini semakin sepi dan kini berada diambang kebangkrutan; Kalah dengan toko-toko baru  yang penuh inovasi. 

Tempat cukur ini memang telah sepi, namun pemiliknya tetap konsisten menjaga keberadaan Shin Hua. Menjaga usaha cukur rambut warisan keluarga, meski banyak rintangan menghadang. Saat ini Shin Hua diurus oleh Freddy sebagai generasi kedua. Dari 12 bersaudara, hanya ia seorang yang bersedia meneruskan usaha cukur ayahnya. Bahkan generasi ketiga tidak ada yang mau melanjutkan usaha cukur rambut warisan Kakek mereka. Hal ini yang menyebabkan Freddy tetap mengurus Shin Hua di usia senjanya.

Sejak berdiri bangunan Shin Hua belum pernah direnovasi. Dekorasi Shin Hua yang khas film Tionghoa jaman dulu memiliki daya tarik sendiri bagi pengunjung. Freddy tidak ingin merenovasi bangunan karena ingin mempertahankan kenangan Shin Hua pada masa kejayaannya. Masa di mana para petinggi daerah yang mengajak kerabat di pemerintahan kota menggunakan jasanya. Namun itu dulu, kini pelanggan setia Shin Hua telah banyak yang berpulang. Hingga kian hari Shin Hua semakin kehilangan eksistensinya.

Erick selaku filmmaker menghadirkan Freddy untuk menceritakan sejarah Shin Hua. Hadirnya Freddy sukses membuat kita merasakan pahit manis perjalanan Shin Hua. Mulai dari masa keemasannya, di mana dalam sehari pelanggan bisa mencapai 125 orang atau lebih. Hingga betapa pedihnya masa ketika Shin Hua dalam sehari tidak memiliki pelanggan sama sekali.

Shin Hua (2020) menyajikan potret alat-alat cukur yang berumur tua milik Freddy. Alat-alat cukur tua yang dihadirkan mampu membuat pikiran kita terbang ke masa lalu. Masa di mana alat-alat cukur tua tersebut digunakan saat Shin Hua sedang ramai-ramainya. Membayangkan kursi-kursi kosong Shin Hua terisi oleh pelanggan yang sedang dicukur rambutnya.

Sedih rasanya melihat tempat cukur warisan keluarga yang dulunya ramai kini menjadi sepi. Lebih sedih lagi jika membayangkan Shin Hua hanya akan menjadi sejarah. Menjadi sejarah karena saat ini tidak ada generasi ketiga yang mau meneruskan usaha cukur rambut Shin Hua. Memang Shin Hua saat ini telah sepi, akan tetapi cerita di dalamnya akan tetap hidup dalam pikiran pelanggan dan masyarakat luas.

Film Shin Hua (2020) merupakan salah satu bagian dari program Lanskap. Tonton filmnya secara gratis di sini.

 

Penulis: Dinda Agita

Bagikan ini
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email