Keserasian Memukau antara Film dan Lukisan

12—12—2020
Film Review

Pada akhirnya, wajah manusia sama seperti media lukis. Rembrandt menemukan kesamaan itu dan menduplikasikannya ke dalam karya yang kelak menjadi sejarah perjalanan hidupnya. 

Rembrandt memburu emosi-emosi manusia menggunakan kuas. Target utamanya ialah umat manusia. Kemudian melalui dokumenter Rembrandt, Painter of Man (Bert Haanstra, 1957), lukisan gerak batin manusia yang bahagia maupun sengsara itu disingkap dalam gabungan bingkai film. 

Potret wajah Rembrandt yang pertama adalah saat ia berusia 23 tahun. Secara berkelanjutan ia mengabadikan setiap emosi dan momen yang menimpanya. Lukisan dirinya berakhir 40 tahun setelahnya. Namun, dalam rentang waktu itu tak ada perubahan pada sorot mata serta lekuk wajah khas Rembrandt. Kerut wajah tentu bertambah, garis-garis menguat, tapi itu hanya menjadi bukti perjalanan seumur hidup.

Semua lukisan adalah rekaman kepribadian sang pelukis. Film Rembrandt, Painter of Man (Bert Haanstra, 1957) ini menyorot satu demi satu rekaman itu. Haanstra seolah mewawancarai langsung sosok Rembrandt. Ia melihat pelukis besar itu sebagai individu manusia. Kisahnya nampak jelas dan runut meski hanya melalui rentetan lukisan-lukisan tangan Rembrandt.

Titik mula riwayat hidup Rembrandt itu barangkali adalah kehadiran sosok perempuan dalam lukisannya. Ia bernama Saskia. Wajahnya merona, tatapannya berbinar, tangan kirinya memegang bunga. Hatinya pastilah juga sedang berbunga. Siapa sangka jika setiap detail guratan utuh Saskia itu mampu menyentuh hati pelukis tersohor abad ke-17, Rembrandt. Beberapa hari setelahnya Rembrandt meminang Saskia. Dan potret itu menjadi lukisan pertama yang mengantarkan sang pelukis pada kebahagiaan hidupnya.

Sejak saat itulah lukisan-lukisan Rembrandt menjadi lebih berwarna. Bahkan untuk pertama kalinya, ia melukis potret dirinya tersenyum lebar. Pada potret-potret selanjutnya, Rembrandt mempertegas kontras antara bayangan dan cahaya.  Lukisannya pun diliputi tema kemurnian sebuah keluarga.

Rembrandt dan Saskia dikaruniai tiga bayi, tetapi ketiganya meninggal. Senyum lebar dalam potret lukisan dirinya memudar. Wajah muramnya kontras dengan bayangan gelap. Ia bertopang dagu dan matanya sayu. Tapi tak lama kemudian anaknya lahir dan diberi nama Titus. Kelahirannya membawa Rembrandt kembali melukis wajahnya yang tersenyum. 

Persis seperti apa yang diyakini Rembrandt dalam imajinasinya, dunia ini adalah tentang tokoh-tokoh dekat dalam keseharian. Rembrandt pun melukis sosok ibu dan ayahnya. Di sana ia merasa menemukan arti kemanusiaan. Penghiburan hanya hadir lewat keyakinan itu. Dan kisah-kisah dalam kitab suci menjadi sumber inspirasi yang selalu ia kenang. Itulah yang menguatkan hatinya saat mengalami penderitaan yang mendalam. Selama dua puluh tahun sejak kematian Saskia, potret lukisan dirinya tampak murung. Ia menggambarkan kepergian istrinya dengan lukisan perpisahan Daud dan Yonathan, sebuah kisah persahabatan paling indah yang tercatat dalam al-Kitab.

Selang lama belum ada lagi lukisannya yang laku. Bahkan Rembrandt terlilit hutang dan menjual perabot rumah. Tampaknya itu semua tak lebih berharga dari alat-alat lukisnya. Ia percaya akan bangkit dari kegagalan itu dan berpegang teguh pada nilai estetika yang ia miliki. Sampai akhirnya ia kembali menjadi perbincangan dengan lukisan agungnya berjudul The Night Watch. Rembrandt berani keluar dari pakem melukis pada zaman itu, yaitu potret satuan pengamanan sipil yang dipimpin oleh Kapten Banning Cocq.

Rembrandt banyak merefleksikan konflik misterius tentang eksistensi, spiritualitas, dan materi yang menyelimuti tiap diri individu. Namun selalu ada titik ketenangan yang ditemukan di antara oposisi-oposisi itu. Bagi Rembrandt, penuaan wajah adalah yang paling mampu berbicara secara mendalam.

Rembrandt adalah maestro. Saat berusia 25 tahun, nama Rembrandt sudah dikenal. Orang mulai banyak membicarakan karyanya tentang pelajaran anatomi tubuh. Lukisannya banyak dikagumi dan diinginkan. Sebab Rembrandt tak pernah lepas dari prinsipnya. Segala sesuatu akan bersinar ketika selalu pada jalur yang otentik dalam diri. Baginya suatu makna yang cukup hanya dapat ditemukan dalam satu wajah manusia. Tak hanya soal kecemerlangan dan kelimpahan hidup, terkadang kebodohan dan kesombongan manusia disingkap dalam karyanya. Akhirnya, Rembrandt mulai memberi tanda tangan pada setiap lukisannya dan orang-orang membayarnya.

Tiga abad setelahnya riwayat hidup Rembrandt kembali diabadikan dalam wujud lain. Lukisan-lukisan itu kini digambar ulang dalam sebuah film berjudul Rembrandt, Painter of Man (Bert Haanstra, 1957) ini. Haanstra mengikuti jejak Rembrandt dan merangkainya menjadi satu kisah emosionil. Ada semacam kemuraman sekaligus cahaya harapan dalam hidup secara bersamaan. 

Pijakan yang diambil Rembrandt dan Haanstra sama. Antara lukisan dan film keduanya meletakkan elemen cahaya sebagai kunci. Rembrandt menimbulkan efek artistik yang dramatis dalam lukisannya ketika dilihat dengan cahaya yang terang. Sedang Haanstra melalui film menyuguhkan kenikmatan menonton hanya melalui selarik cahaya remang. Sehingga melalui dokumenter ini dapat ditemukan keserasian yang menarik. Rembrandt mengubah sesuatu yang bergerak menjadi diam. Haanstra mengubah yang diam menjadi sesuatu yang bergerak.

Selain itu, dokumenter Rembrandt, Painter of Man (Bert Haanstra, 1957) berhasil menunjukkan bahwa sinema semacam ini pun mampu memantik kesan tersendiri dalam alam pikir penonton. Dibumbui musik dan narasi yang selaras, kisah-kisah hidup Rembrandt seperti mendekat dengan sendirinya.

Sutradara yang berkontribusi besar dalam karya dokumenter di dunia itu mampu menemukan benang merah kisah hidup sang pelukis besar. Alurnya sudah ditemukan, komplikasi hingga koda cerita dirangkai sedemikian rupa. Haanstra juga menunjukkan bagaimana seorang manusia terus menua secara permanen. Maka tak ayal jika karya Haanstra ini diputar dalam  Festival Film Dokumenter (FFD) 2020 pada program Retrospektif. Dokumenter ini menjadi salah satu perjalanan karya Bert Haanstra serta memberi pengalaman penonton perihal bahasa sinema sendiri.

Film Rembrandt, Painter of Man (1957) karya Bert Haanstra ini dapat disaksikan dalam rangkaian program Retrospektif, kamu bisa menyaksikannya secara gratis di sini.

 

Penulis: Dina Tri Wijayanti

Bagikan ini
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email