Review Film: Swim Team (2016)

SHARE

Swim Team (2016) tidak hadir sebagai dokumenter yang hanya berteriak tentang advokasi, hak hidup, dan inklusivitas; ini adalah film untuk ditonton oleh keluarga.

Penonton diajak untuk menelusuri perjalanan Jersey Hammerheads, sebuah tim renang yang  diinisiasi pasangan Michael dan Maria McQuay untuk Special Olympics, olimpiade khusus bagi penyandang difabel. Di dalamnya, anak mereka –Mikey McQuay– juga turut bergabung. Namun, regu ini tidak serta merta dijalankan seperti kelompok hobi bagi penyandang disabilitas. Mereka benar-benar menerapkan visi yang matang sejak awal: menggunakan model pelatihan serius, mematok target tinggi, dan membangun iklim sekaligus pola pikir kompetitif; termasuk untuk anak mereka sendiri. Lewat Hammerhead, kita diajak untuk merasakan keharuan dalam mengalami kompetisi besar melalui perjalanan pihak yang dipandang sebelah mata; seperti film Coach Carter (2005).

Dokumenter Swim Team memang sengaja menyediakan diri sebagai ruang bicara bagi orang-orang terpinggirkan. Olahraga (apalagi kompetisi) bagi penyandang difabel memang belum banyak mendapat sorotan dari masyarakat, termasuk media –yang berperan besar dalam menularkan perhatian tersebut. Terlebih, kebanyakan atlet yang bergabung dalam Hammerhead merupakan keturunan Asia dan Hispanik. Sudah difabel, minoritas pula; kondisi yang jarang sekali diwakili oleh media-arus-utama.

Namun, film ini tidak mengangkat isu disabilitas dengan nada keras dan sulit dimengerti; mereka melakukannya lewat sentuhan-sentuhan intim yang bisa dipahami oleh siapa pun. Kita bisa merasakannya melalui penceritaan tentang tiga personil utama Hammerheads yang diangkat dalam film; Mikey McQuay, Robbie Justino, dan Kelvin Truong. Mereka bertiga ditampilkan sebagai anak-anak biasa yang mengalami masalah-masalah remaja pada umumnya. Mikey tumbuh sebagai anak SMA polos dan kaku yang masih memamerkan koleksi boneka-boneka hewannya. Senyatanya ia tidak siap untuk masuk ke tahap kehidupan selanjutnya; kuliah atau bekerja. Dan tentu ada kekhawatiran dari orangtua tentang bagaimana jadinya Mikey ketika sudah masuk ke usia 18 nanti. Robbie masih membaca seperti anak sekolah dasar. Dan, meskipun bersikap ramah pada orang-orang, ia tidak memiliki teman; begitu dalam pandangan ibunya. Sedangkan, Kelvin kesulitan untuk mengontrol tubuh dan emosinya, terutama ketika harus berhadapan dengan orang banyak. Terasa seperti film coming-of-ages bukan?

Tidak hanya itu, film ini juga tidak lupa untuk melihat sudut pandang dari orangtua mereka. Dimulai dari curahan hati soal ketakutan akan nasib anaknya di masa mendatang, usaha membangun masa depan yang cemerlang, tekanan dari berbagai pihak, dan lain sebagainya. Lara Stolman, selaku sutradara, merajut cerita-cerita tersebut menjadi kisah intim tentang keluarga yang berjuang untuk menciptakan kehidupan bahagia dan sukses versi mereka. Semua itu dilakukan untuk anak-anak mereka sendiri; sesuatu yang dapat lakukan oleh setiap orangtua di jalan ceritanya masing-masing.

Melalui Swim Team, kita berusaha mengenali aktivitas berenang sebagai usaha memahami manusia lewat cerita-cerita di dalam dan di luar kolam kompetisi. Berenang, bagi personil Hammerheads, adalah tahap lanjutan dari usaha belajar pengendalian diri, perilaku disiplin, saling pengertian, harga diri, dan keterampilan hidup lainnya yang sering kali tidak banyak didapat di lingkungan sekolah. Bagi orangtua, kegiatan tersebut menjadi saluran untuk menanamkan nilai-nilai penting dalam kehidupan sekaligus menumbuhkan potensi anak; yang bisa dijadikan acuan untuk merakit masa depan. Dan, melalui dua sisi cerita tersebut, film ini memiliki porsi yang cocok dan perlu untuk dikonsumsi anak sekaligus orangtua secara bersamaan. Itulah mengapa Swim Team adalah film keluarga.

 

Swim Team merupakan salah satu film dalam program “The Feeling of Reality” yang akan diputar pada 11 Desember 2018 pukul 19.00 WIB di Societet Militair TBY. Cek jadwal untuk mengetahui agenda lengkap FFD 2018.

Penulis: Anas A.H.

Close Menu