Review Film: Danchi Woman (2018)

SHARE

Entah sejak kapan pembangunan, kemajuan, dan modernitas menjadi tidak terpisahkan dari angka. Angka-angka tersebut tidak lagi berhenti pada lembaran kerja indeks pertumbuhan ekonomi namun telah membentuk pola pikir bagaimana cara memosisikan diri di tengah kapitalisme kontemporer. Pola pikir yang secara sadar kita amini dalam level personal-universal, lalu melahirkan peran-peran individu dan kolektif.

Akiko Sugimoto di Danchi Woman (2018) hadir dengan upayanya mengenali sosok Shizu Uchikoshi, seorang perempuan paruh baya penghuni danchi, sejenis komplek hunian murah. Ia merekam kesendirian Uchikoshi di umurnya ke-85, di dalam ruangan yang telah sesak oleh memori. Bilik yang harus segera ia kosongkan karena –seperti penghuni danchi lainnya– Uchikoshi tidak lebih dari seorang tamu yang harus segera pergi kapan pun pemilik rumah menghendaki.

Shizu Uchikoshi harus pergi dan membuka lembaran baru, tanpa satu alasan atau keinginan di kepalanya. Dalam hari-hari terakhir di bilik yang telah 30 tahun ia hidupi, muncul kembali kenangan bagaimana Uchikoshi berakhir di sana. Kita juga diajak menelusuri kisah-kisah di balik satu artefak tertentu yang menemani tiga dekade masa tinggalnya. Bukan karena selama ini kenangan tersebut ia lupakan, namun justru karena ia telah menghidupi ingatan yang sama di ruang yang sama, seorang diri selama berpuluh-puluh tahun.

Ritual membongkar kotak berisi barang di tempat asing menjadi suatu proses reka ulang kenangan. Proses melelahkan baginya yang hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya dalam kesendirian. Meski begitu, lewat rangkaian penceritaan yang dipilih, Sugimoto seolah tidak ingin mengesankan bahwa potongan kehidupan Uchikoshi di film ini merupakan sesuatu untuk ditangisi.

Terlepas dari apa yang tersaji selama 28 menit, Danchi Woman menghadirkan konflik klasik. Kehadiran negara, pengembang swasta, atau siapa pun dengan legitimasi kuasa untuk mengintervensi relasi yang terjadi antara manusia dengan ruang hidup hingga isi kepalanya. Mengaburkan batasan privat-publik, ketika satu pihak memiliki kuasa untuk memonopoli, menciptakan, dan menghancurkan batas-batas tersebut.

Dalam realitas yang Shizu Uchikoshi hidupi, posisi individu menjadi subordinat di bawah kuasa satu otoritas. Entitas otoritas yang dalam film ini hadir tanpa bentuk kecuali lewat perbincangan antar penghuni danchi. Sugimoto kemudian memperlihatkan sekelebat instrumen perpanjangan tangan otoritas ini: petugas yang membantu Uchikoshi mengemasi barang-barang guna mempercepat proses kepindahannya. Sekilas kehadiran mereka terlihat seperti upaya memanusiakan Uchikoshi yang telah terlalu tua untuk melakukan aktivitas fisik. Sugimoto sendiri bahkan merekam bagaimana para petugas tersebut adalah manusia yang tidak bisa tidak berempati dengan keadaan Uchikoshi.

Namun kehadiran mereka sebenarnya justru berfungsi sebagai pengalih perhatian dari masalah fundamental yang terletak pada tataran sistem. Upaya memanusiakan Uchikoshi pada akhirnya dimaknai dengan begitu banal dan superfisial, beban fisik. Tanpa ada usaha untuk memahami Uchikoshi sebagai seorang manusia dengan segala yang telah ia alami di dalam danchi-nya.

Melalui kisah Shizu Uchikoshi, Akiko Sugimoto berhasil menyentuh isu-isu yang sangat relevan. Perampasan ruang hidup yang hadir dalam berbagai bentuk dan danchi hanyalah salah satunya. Krisis pengungsi akibat perang tak berkesudahan hingga mereka yang terusir dari rumahnya atas nama pembangunan di berbagai tempat adalah wajah lain dari apa yang Sugimoto rekam. Dengan pendekatan berbeda namun tujuan yang sama, memainkan narasi bahwa tanah adalah komoditas semata, lalu mencabut hak individu untuk mempertahankan ruang hidupnya. Dan hanya bisa bernegosiasi tentang tenggat dan biaya sewa.

Sugimoto merekam sisi lain dari pembangunan, kemajuan dan modernitas. Sisi lain yang selalu sama di belahan dunia mana pun selama manusia di dalamnya mengamini dan membiarkan pembangunan dimaknai sedangkal angka laporan akhir tahun instansi pemerintah. Ia akan selamanya menjadi ruang kosong yang tidak menyisakan sudut bagi ingatan, momen, dan relasi manusia. Mengutuk siapa pun di dalamnya untuk mati dalam keadaan asing di tanah dan dari dirinya sendiri.

 

Danchi Woman adalah satu dari dua film yang diputar dalam program “Fragmen Kecil Asia”. Film ini akan diputar pada 11 Desember 2018 pukul 15.00 WIB di IFI-LIP Yogyakarta. Cek jadwal untuk mengetahui agenda lengkap Festival Film Dokumenter 2018.

 

Penulis: Fahmi Khoirussani

Close Menu