Review Film: Beautiful Things (2017)

SHARE

“Flee, my friend, into your solitude! I see you deafened with the noise of the great men, and stung all over with the stings of the little ones. Forest and rock know how to be silent with you. Be like the tree which you love, the broad-branched one — silently and attentively it overhangs the sea. Where solitude ends, there begins the market-place; and where the market-place begins, there begins also the noise of the great actors, and the buzzing of the poison-flies”

Thus Spoke Zarathustra, Nietzsche

 

Menangkap realitas yang terlalu bising hingga mengasingkan suara di dalam kepala, Giorgio Ferrero di Beautiful Things (2017) menawarkan renungannya atas keberadaan manusia di tengah himpitan gerak mesin industri. Bagaimana relasi manusia dengan diri dan sesamanya terjadi bersamaan dengan upaya-upaya penyangkalan bahwa keheningan adalah suatu yang tak terhindarkan.

Jukstaposisi menjadi kata kunci bagi Giorgio Ferrero dalam membaca realitas ini. Meninggalkan analisis kelas, Ferrero menghadirkan dunia dari kaca mata teknisi kapal kargo, ilmuwan, teknisi kilang minyak, hingga pekerja di pusat pengolahan limbah. Lalu menyandingkannya dengan narasi kehidupan sepasang kekasih, dan berhasil mengungkap pertanyaan personal yang menyeruak di balik kebobrokan kapitalisme.

Beautiful Things pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar rekaman kisah tentang mereka yang terasing oleh relasi produksi kapitalistik, karena keterasingan tersebut tidak pernah berhenti pada lingkup proses produksi. Ia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia sebagai makhluk sosial di peradaban kapitalisme lanjutan.

Namun bagi mereka yang tidak memiliki kemewahan berupa distraksi produk peradaban hiper-konsumtif ini, keheningan bukan lagi suatu ketakutan; melainkan satu-satunya bingkai dalam melihat kehidupan. Dengannya, mereka berhasil menangkap harmoni yang terjadi di antara desingan gesekan logam, dan kesunyian yang diisi dengan mimpi akan bagaimana kehidupan mereka semestinya.

Dalam realita yang sama sekali berbeda, Ferrero menghadirkan kisah sepasang kekasih yang menghidupi mimpi kapitalisme. Rumah untuk menaungi keduanya, berbagai macam peranti untuk memuaskan hasrat konsumerisme, serta keramahan semu kehidupan perkotaan. Dan keterasingan, bagi Ferrero, merupakan benang merah penghubung kedua realita yang terpisah ini. Karena ia menolak untuk berdiam diri di tempat terjadinya proses produksi eksploitatif. Keterasingan telah hadir di tengah pesta bersama kerabat, hingga relasi paling intim di kamar dan ruang keluarga; keganjilan yang meninggalkan keduanya pada kebahagiaan semu nan kosong.

Benang merah ini kemudian Ferrero rajut dalam dua buah komposisi audiovisual. Berisi pembacaannya terhadap keempat karakter pekerja. Memori masa kecil yang dihabiskan bersama monster logam di kilang minyak, ingatan akan sosok ibu dari seseorang yang telah merasa asing dengan relasi manusia dalam masyarakat siber. Ingatan yang hadir sebagai satu-satunya penghubung dengan manusia lain. Fragmen-fragmen tentang ikatan perkawinan dari sosok yang telah menghabiskan hidupnya dalam pengembaraan dan menjadi asing dengan konsep kasih sayang. Hingga masa lalu karakter pekerja pengolahan limbah tentang hidup sebelum dijadikan martir peradaban hiper-konsumtif, memori yang sama sepinya dengan realitas yang ia hidupi.

Sementara dalam komposisi yang lain, Ferrero menawarkan suatu sikap quasi-anarki sebagai penutup filmnya, lewat karakter sepasang kekasih yang jengah akan rutinitas mereka. Hidup dalam siklus beli-buang yang tiada habisnya, hanya menyisakan sedikit ruang yang semakin sempit bagi keduanya untuk menjadi manusia. “He who obeys, does not listen to himself”, sabda Nietzsche. Maka mereka memilih untuk mengacungkan jari tengah kepada siklus hidup ala konsumen di altar tempat ia dirayakan; supermarket. Pilihan untuk menolak hidup dalam dunia nir-manusia dan hanya berisi gunungan produk, dalam satu ritual tarian di mana keduanya sadar bahwa pilihan untuk menjadi manusia selalu berada di tangan mereka.

Beautiful Things hadir tanpa intensi untuk menggurui dengan pesan ‘politis’ karena Ferrero tidak ingin berada di satu barisan dengan mereka yang menjadikan suara berakhir sebagai noise kosong dan hampa. Karena kesunyian merupakan persepsi belaka, ia tidak lain adalah suatu bentuk keberpihakan untuk mendengarkan suara yang satu, dan mengabaikan suara lainnya. Dan Ferrero memilih untuk memaknai kesunyian dalam penolakannya atas dikotomi bunyi dan sunyi. Ia sadar bahwa dalam peradaban di mana suara menjadi komoditas dagangan, makna sering kali terpenjara oleh bahasa. Ferrero mencoba memahami kesunyian melalui orang-orang yang kisahnya ia rekam, mendengarkan dirinya sendiri, lalu menentukan sikap lewat kisah sepasang kekasih yang tidak lagi takut menghadapi kesunyian dan menolak menjadi asing.

 

Beautiful Things merupakan bagian dari program “Perspektif”, yang akan diputar pada 5 Desember 2018 pukul 13.00 WIB di Societet Militair TBY. Agenda lengkap pemutaran FFD 2018 bisa diperiksa di jadwal.

 

Penulis: Fahmi Khoirussani

Close Menu