Satu Kota, Empat Mata: Siapa Menatap Siapa?

— Ulasan Film
FFD 2025

Awalnya, kupikir “sandwich” dalam judul film ini akan merujuk pada generasi sandwich yang menjadi poros ekonomi bagi diri beserta keluarga besarnya. Namun, dugaanku agak keliru rupanya. “Sandwich” yang dimaksud dalam dokuseri arahan Ho Bin Kim ini lebih semacam lapis-lapis spektakel: cara realitas dihadirkan melalui lapisan tatapan, layar, dan logika perangkat. Yogyakarta menjadi interface tempat fakta diakrobatikkan dan makna dikonstruksikan. Menjadi seleksi resmi untuk program Perspektif: Post-cinema, film ini menegaskan konteks zaman ketika sinema bukan lagi media dominan, melainkan satu simpul dalam ekosistem layar yang terhubung dari ponsel hingga platform “yang nyata”.

Eksperimennya tampak ringkas. Ruang tafsirnya terbentang luas. Empat perangkat, yaitu iPhone, MacBook, action cam, dan camcorder menghasilkan 4 politik tatapan. Dengan modus operandinya, masing-masing merekam percakapan spontan dan acak di ruang publik, percakapan dan perjumpaan layar-di-dalam-layar, ritme keseharian yang melekat pada tubuh kota Yogyakarta, hingga rekaman perjalanan yang berusaha menjaga jarak dari naratornya sendiri. Layar merebut dan mengokohkan agensinya, kemudian tumpuk-undung menghadirkan realitas yang tak kalah campur-aduknya. Yang dipertontonkan adalah cara perangkat dan kebiasaan menonton membentuk pengalaman estetika baru sekaligus membangun struktur perasaan manusia terhadap apa yang disebut “nyata”.

Pertanyaan akhirnya tidak berhenti pada apa yang kita lihat, melainkan bagaimana kita melihat—dan dengan kuasa apa/siapa. Selama 21 menit, dokumenter yang dimulai dengan seruan “reality sandwich” oleh Wok the Rock ini mengingatkan bahwa penonton merupakan lapisan dalam sandwich itu sendiri. Tatapan kita menentukan makna. Sebagai undangan, film ini mengajak kita menyimak fragmen bawah sadar kolektif Yogyakarta yang terekam lewat mata-mata pinjaman. Mari datang, duduk, menonton, dan tanyakan pada diri sendiri, “Siapa sebenarnya yang menatap siapa?” (Hesty N. Tyas) (Ed. Vanis)

 

Detail Film
Ep.10 Reality Sandwich: Jogja Chronicles
Ho Bin Kim | 21 min | 2025 | Indonesia
Seleksi Resmi untuk program Perspektif
Festival Film Dokumenter 2025