Mereka Mengeringkan Kolam Kasih Kita

— Ulasan Film
FFD 2025

Di Saitama yang dikelilingi oleh daratan, terdapat sebuah kolam renang umum yang dengan sayang disebut “laut” oleh penduduk setempat. Kolam renang umum ini telah berdiri selama 52 tahun hingga akhirnya harus dirobohkan pada 2023 dalam rangka memberi ruang bagi pembangunan sekolah baru. Keputusan ini memicu protes keras dari masyarakat. Bukan hanya sebagai tempat rekreasi, kolam renang yang begitu dicintai ini juga menjadi tempat lahirnya ikatan sosial yang erat. Tempat ini adalah tempat di mana penduduk Saitama berbagi kenangan mereka di sela waktu luang.

Numakage Public Pool (2025) dengan lembut menyajikan proses penghacuran tak terhindarkan sebuah situs publik yang sangat dicintai—layaknya duka kehilangan orang terkasih. Mengikuti tahap duka Kübler-Ross, dokumenter ini disusun atas beberapa tahapan: penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Dalam tahapan-tahapan ini, kita mengamati aktivitas keseharian kolam renang umum melalui mata para pengunjung reguler, keluarga, dan pekerja kolam yang berdedikasi penuh memastikan keselamatan para pengunjung. Para pegawai publik tersebut menunjukkan pengabdian mereka dalam menjaga kolam renang tetap disukai dan aman yang dibuktikan dengan 52 tahun tanpa kecelakaan sejak operasinya di hari pertama!

Melalui dokumenter ini, Sutradara Shingo Ota telaten mendokumentasikan upaya publik dalam mencegah penghancuran kolam renang tersebut. Pidato penuh semangat dalam rapat dewan, surat-surat yang ditulis oleh anak-anak, dan kerja keras para pekerja kolam renang menyoroti kemanusiaan komunitas yang bersatu untuk menjaga perawatan kolektif. Bahkan, ketika ada lahan kosong di Saitama, lahan-lahan tersebut tak dapat didayagunakan karena merupakan kepemilikan pribadi. Atas nama penghematan, tempat yang begitu berharga bagi penduduk lokal harus dihancurkan untuk sekolah baru. Bukan berarti pendidikan tak layak mendapat perhatian, tetapi neoliberalisme membuat pilihan sangat terbatas. Meneropong masalah yang lebih besar, perihal ini bukan tentang rekreasi versus pendidikan—itu hanyalah dilema palsu. Masalahnya adalah pada logika neoliberalisme yang merusak keintiman sosial di bawah retorika modernisasi. Dengan demikian, kehilangan ini melahirkan dampak emosional bagi penduduk Saitama.

Fenomena neoliberalisme ini tak hanya melihat ruang publik berbiaya rendah sebagai sesuatu yang bisa dibuang, tetapi juga mendevaluasi perawatan publik atas nama rasionalitas fiskal semata. Saat Numakage Public Pool (lit. Kolam Renang Umum Numakage) dihancurkan dan upaya untuk mempertahankannya gagal, penduduk terpaksa menerima kenyataan pahit. Kolam kasih dan seluruh koneksinya dikeringkan, menara penjaga kolam dihancurkan, meninggalkan penduduk Saitama dengan kesedihan dan reruntuhan tempat yang pernah menjadi sumber kebahagiaan bagi mereka.

Sayangnya, hal serupa ini terjadi di mana pun—dekat dengan kita. Ruang publik di sekitar kita juga berada di ambang penghacuran. Meskipun ada kelimpahan lahan yang diprivatisasi, beberapa situs publik Jakarta Selatan akan dihancurkan untuk memberi ruang bagi taman yang lebih besar dengan fasilitas yang mubazir. Taman-taman di sekitarnya akan “direnovasi”. Pasar dan para pedagangnya akan diusir agar lapangan padel bisa dibangun—olahraga yang sekaligus berfungsi sebagai penanda kelas. Taman-taman yang semula terjangkau pun berubah menjadi tempat perlindungan bagi kelas menengah atas, mengucilkan semua orang yang sangat membutuhkan ruang ketiga yang mudah dijangkau. Kenali kecenderungan neoliberalisme ini, karena menyadari kekejamannya akan membuat kita sadar bahwa ini bukanlah satu-satunya cara. Sadari bahwa pengetatan anggaran/ austeritas bukanlah hal yang tak terhindarkan. Pertahankan empati dan perawatan kolektif kita, dan kita akan diingatkan bahwa ruang publik yang kita cintai juga penting bagi kesejahteraan kita. Yang terpenting, tak ada tanah yang boleh eksklusif, ia adalah mutlak milik semua orang. (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)

 

Detail Film
Numakage Public Pool (沼影市民プール)
Shingo Ota | 80 Min | 2025 | Jepang
Seleksi Resmi untuk program Utopia/Dystopia
Festival Film Dokumenter 2025