Beberapa waktu lalu, aku harus mengemas ulang barang-barang di kos sebelum pulang ke kampung halaman seraya menyortir yang tak terpakai. Satu per satu barang dikemas dalam kardus, sebagian dibuang, sebagian lainnya disimpan. Saat menatap sudut ruangan yang terasa lebih luas, sebuah perasaan merasukiku. Bukan karena akan meninggalkan ruangan, tapi karena udara di dalamnya terasa berbeda. Hampa. Semua kenangan ikut berkemas dan berpamitan.
Perasaan tersebut kembali muncul ketika menyaksikan Inventory (Ivan Marković, 2025). Perjalanan singkat menyusuri gedung yang perlahan kehilangan penghuninya menyulap kita untuk larut pada kehampaan. Tidak ada narasi verbal dan musik dramatis, hanya gambar-gambar yang sunyi, benda-benda yang ditinggal sendiri, dan ruang-ruang yang masih menyimpan jejak kehidupan. Dalam kesunyian itu, Inventory menjadi sarana meditasi visual tentang kehilangan. Minimnya sosok manusia di layar mengusik kita untuk justru merasakan keberadaannya yang begitu kuat.

Inventory dapat dibaca sebagai refleksi sosial tentang negara yang menyimpan sejarah, yang seluruh penghuninya pernah berdampingan dalam perjalanan yang sama. Fragmen kehidupan yang diteropong melalui benda mati—kursi, pintu, jendela—yang tergeletak dalam ruangan adalah simbol dari segala yang tak akan kembali. Film ini berbicara dengan bahasa yang universal tentang perasaan kehilangan dan duka yang tak selalu memiliki padanan kata.
Menonton dokumenter pendek ini membuatku berpikir, barangkali hidup kita pun tak ubahnya seperti ruangan itu. Begitu banyak hal yang kita tinggalkan dan tak sempat kita hitung, hingga pada akhirnya menyadarkan kita bahwa kehilangan adalah sebuah keniscayaan. (FadliAwan) (Ed. Vanis)
Detail Film
Inventory (Inventar)
Ivan Marković | 21 min | 2025 | Serbia
Berkompetisi dalam program Kompetisi Pendek
Festival Film Dokumenter 2025



