Dicintai hingga Titik Kehancurannya

— Ulasan Film
FFD 2025

“Aku mencintaimu seperti Ikaros mencintai matahari—terlalu dekat, dan terlalu dalam.” Kamu pasti sering melihat kutipan itu di internet, di antara lautan puisi cinta dan editan gadis murung. Perishable Idol (Majid Al-Remaihi, 2024) pun terasa seperti kutipan itu. Bukan perihal seorang, tapi suatu tempat yang dulunya mendekap rasa cinta dengan erat hingga tembok-temboknya pun merindukannya dengan pilu.

Ada sebuah pulau 20 kilometer dari pesisir Kota Kuwait bernama Failaka. Orang-orang Yunani memanggilnya Ikarus, menautkannya dengan mitos sang lelaki yang terbang terlalu dekat dengan matahari. Bangsa Sumeria, sebelum Yunani, menamakannya Agarum. Untuk berabad-abad, tempat itu merupakan lintasan bagi para pelaut, pedagang, dan penakluk. Semua orang menginginkan bagian dari tempat itu, masing-masing meninggalkan jejak, menggoreskan segala yang indah menurut mereka pada permukaannya. Mungkin goresan-goresan itu lah yang menandakan awal dari keruntuhan pelannya: dicintai bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk apa yang orang-orang inginkan kepadanya. Dan setelah abad-abad dimana hasrat dan ambisi bertumpang-tindih, bangsa-bangsa besar pun menyeruak masuk kedalamnya pada tahun 1991. Perang Teluk kedua datang, dan keheningan pun datang bersamanya. Tidak ada langkah kaki yang mengganggu tanah itu lagi. Angin mengambil suara-suaranya, dan tembok-tembok pun terbiasa tuk menahan nafasnya, menjaga segelintir memori yang bisa diingat hanya olehnya.

Dokumenter ini tidak secara gamblang menceritakan kisahnya dengan sepenuhnya, namun bergerak layaknya sebuah lamunan dimana masa lalu terus mengintip dari celah-celah tembok. Tidak ada orang, hanya jejak: sekolah terbengkalai, pintu setengah tumbang, ayunan pun bergerak seiring angin yang berhembus. Bingkaian kamera pun bergerak dengan pelan, seakan takut untuk mengganggu yang keramat. Akan tetapi, entah mengapa, pulau itu terasa hidup. Bukan sebagai tempat, namun sebagai ingatan yang menolak untuk dilupakan. Kamu seolah bisa merasakan apa yang dulunya ada: anak kecil yang berlarian, perempuan-perempuan yang menjemur cucian, doa-doa yang dipanjatkan dan terbawa dengan angin sore. Sekarang semuanya hanya hidup berkumandang. Dan disitulah, cerita Ikaros berkeliar: seorang pemuda yang ingin meraih cahaya, yang melupakan bahwa sayap lilinnya dapat meluruh. Failaka, juga, terasa serupa dengannya: suatu daratan yang dulunya gemerlap, diinginkan, dan berkali-kali dibentuk sedemikian rupa sehingga tidak mampu menopang dirinya sendiri lagi.

Perishable Idol bergerak dengan perlahan, seperti penuh hormat, seakan menyimak suatu tempat yang bercakap melalui kesenyapan. Film ini pun seperti mengerti bahwa yang runtuh bukanlah antitesis dari yang indah, tetapi pascacitranya. Bahwa terkadang, merusak bukanlah perilaku dengki, melainkan aksi atas cinta yang mendalam. Mungkin saja, rasa cinta itulah yang dokumenter ini bicarakan: cinta yang fana, yang meninggalkan kehangatan. Cinta yang mengajarkanmu bagaimana keindahan melampaui kehadirannya. Setelah segala hal telah berlalu, ketika dokumenter ini berakhir, kamu tidak akan mengingat sejarah dan fakta-faktanya. Yang kamu ingat adalah rasa cinta terhadap sesuatu sampai pada titik kehancurannya, dan kamu pun tetap menganggapnya indah.

Barangkali saja, beberapa hal tidak dimaksudkan untuk diabadikan, namun hanya untuk diingat. Dan dalam ingatan itu, kamu bisa saja mendengar pulau itu berbisik kepadamu: “Aku pernah dicintai—terlalu dekat, dan terlalu dalam.” Seperti Ikaros, pulau itu meraih binar cahaya dengan terlalu dekat. Terlalu dicintai dengan luar biasa untuk bertahan, tetapi tetap gemerlap dalam ingatan. (Tirza Kanya) (Ed. Vanis/Trans. Timmie)

 

Detail Film
Perishable Idol (سبات النخيل)
Majid Al-Remaihi | 19 min | 2024 | Prancis, Kuwait, Qatar
Berkompetisi dalam program Kompetisi Pendek
Festival Film Dokumenter 2025