Sama seperti judul ulasan ini, BALANE 3 (Ico Costa, 2025) mengajak kita untuk merasakan pengalaman berkunjung ke Balane 3, pemukiman di Inhambane yang terletak di sebuah kota di bagian selatan Mozambik. Menonton film ini adalah berselancar dari pagi hingga malam menjelang, menekankan pegalaman indrawi dalam menghabiskan satu hari penuh bersama para warganya.
Dengan pendekatan observasional, sutradara Costa menempatkan penonton sebagai pengunjung yang ikut hidup, menatap, dan sesekali ikut diam. Tak ada narator yang mendikte ataupun wawancara yang menjadi informan, segalanya berjalan senatural hembusan napas. Absennya “cerita besar” atau resolusi dramatis untuk seorang protagonis membuat kita justru menikmati film ini secara utuh. Costa menghadirkan fragmen, percakapan, dan tawa kecil yang dengan luwes membangun narasinya sendiri.

Melalui momen keseharian––nelayan yang pulang melaut, pencuci mobil di pinggir jalan, tukang daging, sekolah, salon rambut, pasar, dan pesta dansa malam hari––kita menyaksikan hidup dan koneksinya dengan perjuangan. Tulisan our survival stopped us from living (lit. perjuangan menghambat kita menikmati hidup) muncul di dinding; menegaskan bahwa terkadang kita tak lagi menikmati keseharian dan hal kecil yang kita lihat dan alami hanya karena kita harus bertahan hidup. Dituturkan dengan ritme yang tenang dan tanpa interupsi, BALANE 3 mengundang kita untuk ikut rehat sejenak dan menikmati hidup di Balane 3, seharian. (FadliAwan) (Ed. Vanis)
Detail Film
BALANE 3
Ico Costa | 98 min | 2025 | Prancis, Portugal
Berkompetisi dalam program Kompetisi Panjang Internasional
Festival Film Dokumenter 2025



