Menjelang sore yang cerah, galeri Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat semakin ramai oleh pengunjung. Hari itu, Sabtu (21/11/2025), pameran bertajuk Dalam Gelap, Kugenggam Ingatan kolaborasi Forum Film Dokumenter dan Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat dibuka. Pameran ini merupakan salah program dalam rangkaian Festival Film Dokumenter 2025. Pada hari pertama pembukaan pameran, Dito Yuwono, selaku Direktur Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat langsung mempersilakan para pengunjung untuk menelusuri karya-karya yang dipajang dan diinstal di dalam galeri.
Di antara arsip, catatan yang terlupakan, dan ingatan yang nyaris tak bersuara, Suvi Wahyudianto dan Maharani Mancanagara mencoba membongkar kembali sejarah Indonesia yang terfragmentasi. Pemerani ini merupakan ruang bagi upaya itu. Bukan sekadar pameran karya, tetapi hadir sebagai ajakan untuk menyelami memori kolektif bangsa dan mempertanyakan siapa yang berhak menyusun kisah di dalamnya. Melalui pendekatan riset sejarah, keduanya tidak sekadar menyajikan karya yang estetis, tetapi juga menghadirkan cara lain membaca sejarah melalui arsip, dokumentasi, dan pengalaman personal.
Suvi Wahyudianto merupakan seniman asal Madura yang telah lama menaruh perhatian pada relasi identitas, kekerasan, dan sejarah di tanah kelahirannya. Pada 2023, ia menempuh perjalanan selama 20 hari menyusuri ingatan kolektif konflik antara komunitas Madura dan Sambas yang terjadi pada 1999—peristiwa yang jarang dibicarakan secara terbuka dan kerap tenggelam di balik narasi besar reformasi.

Dalam perjalanan itu, ia ditemani Aloysius, fotografer dan videografer dari Sambas. Bersama, mereka mencoba memahami kembali peristiwa yang di masa kecil hanya hadir sebagai bisik-bisik: kabur, kelam, dan penuh jarak. Perjumpaan dengan saksi, bentang alam, dan arsip membawa mereka pada cara baru melihat sejarah: lebih intim, lebih manusiawi, dan membuka ruang kemungkinan rekonsiliasi.
Dalam pameran ini, Suvi menghadirkan beberapa fragmen dalam satu kerangka karya yang utuh. Karya utamanya berupa laman aktivasi dari sebuah perjalanannya bersama Aloysius. Mereka merupakan generasi pascakonflik dari konflik antaretnis pada 1999 yang melibatkan suku Madura dan suku Dayak di Kalimantan. Peristiwa itu merupakan latar belakang yang membuat generasi selanjutnya dari Madura mewarisi sejarah gelap dari masa lalunya. Mereka percaya melalui seni, sebagai ahli waris dari trauma, mereka menjawab hantu ketakutan dan pertanyaan yang bergentayangan dan selama ini dipertanyakan.
Ada beberapa fragmen karya Suvi yang dipamerkan di Cemeti: lukisan sejumlah 20 karya, instalasi kostum, fragmen fotografi yang ditangkap ketika melakukan performance art di lanskap Madura. Secara detail, kalau kita melihat lagi pada instalasi kostum, ada beberapa simbol yang terdapat di pundak. Terutama simbol kaki sapi, burung Enggang (Rangkong), dan rumah yang terbuka dan tembus pandang. Kostum-kostum itu pulalah yang digunakan Suvi dalam melakukan performance art.
Pada karya fotografinya, Suvi meletakkan medium terpal sebagai alas dari foto yang dicetaknya di atas kertas. Menurutnya, terpal merupakan medium sebagai ruang mitigasi pertama ketika bencana terjadi, baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Baginya–dan dalam karyanya–terpal merupakan ruang aman pertama.
Pengunjung dapat mengaktivasi laman untuk mengalami perjalanan Suvi di Madura, kemudian menaiki kapal 32 jam ke Pontianak lalu pada akhirnya sampai di Sambas. Di setiap lanskap, Suvi dan Aloysius melakukan performance art untuk mengabarkan rekonsiliasi mereka secara mendasar, melalui pertemanan, persahabatan, dan saling percaya. Melalui karyanya, Suvi sedang membekukan peristiwa, sebuah fragmen yang akhirnya berlipat dan menjadi isu internasional. Ini merupakan cara Suvi mengolah traumanya menjadi upaya rekonsiliasi melalui ragam fragmen instalasi seni rupa lintas matra.

Sementara itu, Maharani Mancanagara menggarap sejarah dari pintu yang lebih personal: keluarga. Selama hampir satu dekade, ia menelusuri kehidupan kakeknya, R. Soegriwo Joedodiwirdjo—seorang guru yang dituduh terlibat PKI pada 1965. Tuduhan itu mengubah hidupnya menjadi deretan kekerasan sistematis: penahanan, stigma, dan penghapusan dari narasi resmi negara.
Sebuah buku harian yang ditemukan selama riset membuka pintu baru bagi Maharani. Melalui catatan itu, ia bukan hanya memahami kisah keluarganya, tetapi juga menemukan bagaimana luka sejarah dibangun melalui penghilangan cerita individu. Karyanya kemudian menawarkan ruang bagi publik untuk membaca kembali sejarah negara, bukan hanya dari buku pelajaran, tetapi dari pengalaman manusia yang terdampak.
Di tengah gelombang ketegangan geopolitik global dan dinamika sosial-politik dalam negeri, pameran ini juga mencerminkan kegelisahan lebih luas mengenai bagaimana sejarah dikonstruksi, dimonopoli, lalu dipakai untuk kepentingan kekuasaan. Narasi tunggal—yang selama ini menyingkirkan suara minor, saksi, dan korban—menjadi tantangan yang masih relevan. Melalui karya-karya Suvi dan Maharani, seni tampil bukan hanya sebagai ekspresi, tetapi sebagai perlawanan terhadap penghapusan memori dan pembungkaman tafsir alternatif.
Di Yogyakarta, karya Maharani bukan kali pertama dipamerkan. Sebelumnya, karya yang sama juga sempat dipamerkan selama ARTJOG 2025 di Jogja National Museum. Namun, terdapat perbedaan ruang dan praktik instalasinya membuat pengunjung akan menemukan pengalaman berbeda ketika merespons karya tersebut. Ima, salah seorang pengunjung pameran menerangkan bahwa dengan ruang yang tidak dibuat benar-benar gelap dengan dengan dicat hitam, menghadirkan kesan baru untuk mendengarkan kembali di dalam kotak tersebut. Ia juga menerangkan responsnya terhadap karya Maharani, “Karya Maharani merupakan sebuah karya dokumenter yang dihadirkan melalui suara di dalam kotak telepon. Menjadi menarik ketika karya dokumenter tersebut dihadirkan melalui suara dan membaca teks, bukan melihatnya secara visual,” jelasnya.

Program pameran ini merupakan bagian dari perjalanan panjang Forum Film Dokumenter dan Cemeti untuk membangun ruang belajar lintas disiplin. Tidak hanya untuk mempelajari kembali sejarah, tetapi juga untuk menanamkan makna lebih luas tentang solidaritas—terutama dalam konteks krisis, konflik, dan ketidakadilan di berbagai wilayah dunia.
Dalam senyap ruang pamer, arsip, suara rekaman, fragmen memori, dan karya visual menyatu. Di sana, sejarah tidak tampil sebagai catatan kaku, tetapi sebagai sesuatu yang hidup—rapuh, kompleks, dan terus perlu dipertanyakan. Dalam gelap, ingatan yang pernah ingin dilenyapkan menemukan cahaya. Dan lewat seni, ia kembali berbicara. (Ahmad Radhitya Alam, 21/11/2025 [Ed. Vanis])



