Warna-warni Individual Distorted dalam Film Hitam-Putih 

— Berita
FFD 2025

Penayangan film A DISTORTED INDIVIDUAL. (Adythia Utama, 2025) untuk pertama kalinya digelar pada 22 November 2025 di Langgeng Art Foundation. Film ini berkompetisi bersama tiga nominasi lainnya dalam kategori Kompetisi Panjang Indonesia di Festival Film Dokumenter 2025. Setelah pemutaran, penonton diajak untuk mengikuti sesi tanya jawab dengan sutradara Adythia Utama. Sesi tanya jawab dipandu oleh Vanis sebagai moderator.

Sesi dibuka dengan pertanyaan tentang pengalaman menayangkan film di luar lingkaran biasa sang sutradara. Adythia menjawab bahwa hal tersebut merupakan momen menarik, karena suasana terasa menarik rather than datar. Vanis melanjutkan percakapan dengan bertanya tentang posisi ganda Adythia sebagai pembuat film dan persona Individual Distortion, menyoal cara kedua peran tersebut saling beralih atau melebur. Adythia menjelaskan bahwa kedua figur tersebut pada dasarnya adalah sama, dimana Individual Distortion mewakili versi dirinya yang lebih percaya diri dan energik. Meskipun ia menggambarkan dirinya sebagai orang yang tidak secara alami memiliki rasa percaya diri, menghidupkan persona tersebut membuatnya mampu tampil dengan berani, “Ketika saya menjadi Individual Distortion, saya mendorong diri sendiri untuk menjadi percaya diri,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah proses pembuatan film ini memiliki skenario alternatif terkait kemungkinan masuk nominasi atau tidak di AMI, Adythia menjawab bahwa kedua kemungkinan sudah dipersiapkan, “Saya yakin 80% akan masuk, dan 20% tidak.” Namun, hasilnya tidak dapat diduga, menyiratkan bahwa pembuatan film ini tidak dapat ditebak. Pada akhirnya, akhir film pun diimprovisasi, direkam saat ia sedang melakukan perjalanan di Italia dan tampil di Pestapora.

Salah satu penonton berkomentar tentang nada film yang menghibur, menanyakan apakah kritik humoris yang ditujukan kepada AMI merupakan hal yang intensional. Adythia menjelaskan bahwa meskipun salah satu teman yang diwawancarai dalam film secara aktif mengkritik AMI dan menyoroti argumen bahwa AMI penuh kecurangan, tetapi prosesnya menunjukkan bahwa untuk masuk ke AMI tidaklah mudah. Ia menambahkan bahwa meskipun niatnya adalah membuat film yang kritis, hasilnya justru lebih seperti otokritik bagi dirinya.

Sesi tanya jawab juga membahas keputusan teknis dan pilihan gaya film, termasuk pendekatan visual hitam-putih. Adythia menyatakan bahwa ia terinspirasi oleh film-film hitam-putih era 1990-an dan menjelaskan bahwa grading warna akan lebih sederhana, sambil juga merujuk pada aspek filosofis bahwa nada monokrom memungkinkan penonton untuk mengevaluasi apa yang mereka anggap nyata atau semu dalam persona dirinya.

Selain itu, penonton juga bertanya tentang pizza terbaik yang pernah ia makan di Naples, Italia, menyebut L’Antica Pizzeria da Michele yang ikonik dalam film Eat Pray Love (Ryan Murphy, 2010), serta hubungan antara identitas artistik dan kesenangan sehari-hari. Adythia berkomentar bahwa meskipun bermusik adalah hal yang penting, pizza tetap menjadi sumber kebahagiaan utama untuknya, “Jika saya gagal, setidaknya saya masih bisa makan pizza,” katanya dengan bercanda.

Menutup sesi, Vanis bertanya apakah Adit merasa lebih nyaman membuka FL Studio atau Adobe Premiere, dengan mengacu pada perannya sebagai musisi atau pembuat film. Adythia menjawab bahwa ia menikmati pembuatan film dan bercanda bahwa meskipun ia tidak bisa memenangkan AMI, mungkin ia bisa masuk ke FFI, “Tapi jika tidak, setidaknya saya berhasil masuk FFD.” Ia mengucapkan terima kasih kepada penonton yang hadir dengan pernyataan penutup, “Jika Hindia mengatakan untuk cari suara kalian, mungkin saya bisa minta, mari cari rekaman kita.”

Pemutaran A DISTORTED INDIVIDUAL. Akan dilaksanakan untuk kedua kali pada 25 November 2025 di Pascasarjana ISI Yogyakarta. Reservasi tiketnya di ffd.or.id. (Sarahdiva Rinaldy, 23/11/2025 [Ed. Vanis])