Apa jadinya jika 4 film pendek tentang dan dari satu kota yang sama didudukkan dalam satu program pemutaran? Seperti kiriman kartu pos dari teman yang jauh di sana, Serial Docs Docs: Short! mempertemukan 4 dokumenter karya para sutradara asal Ulsan, Korea Selatan yang tergabung dalam program UMFFmentary kepada penonton FFD 2025. Mereka mempresentasikan 4 judul, yakni: The Time of Yeast (Zipper, 2023), Water Celery (Yu So-young, 2022), Welcome to New World (Curtaincall and Friends, 2024), dan Ulsan Vulture (SongSong, 2025). Pada Selasa (25/11), program ini diputar di Pascasarjana ISI diikuti dengan sesi diskusi bersama para pembuat film.

Keempat film ini setangkai-seikat berangkat dari keresahan sekaligus kedekatan sehari-hari dalam lanskap dan geliat kota Ulsan. Film pertama, The Time of Yeast, mengikuti ibu-ibu pembuat nuruk, starter fermentasi soju tradisional. Sang sutradara mengartikulasikan momen “menunggu” yang menegangkan sekaligus kolektif. Momen di mana setelah hari-hari yang panjang dan monoton, para ibu kembali berkumpul bersama untuk membuat nuruk. Film kedua, Water Celery, mengabadikan kehidupan Lee Jung-ae, penjual seledri air terakhir di pinggir jalanan Ulsan. Film ini meminjam watak seledri air sebagai metafora atas ketabahan sang protagonis dalam menjalani musim demi musim kehidupan yang acapkali tak memberinya pilihan, selain bertahan.
Jika dua film pertama meletakkan kamera pada protagonis yang merupakan perempuan paruh baya dengan pancarona kehidupannya, film ketiga, Welcome to New World, menengok pada perempuan-perempuan muda pekerja kebudayaan di Ulsan. Eun-Jeong menghabiskan siangnya untuk bekerja di perusahaan dan malamnya untuk mengelola komunitas pemutaran film independen bernama Curtaincall. Suatu saat, ia memilih untuk resign dan berfokus mengelola komunitasnya. Di balik saat-saat yang menggairahkan dan terasa seperti destination, keresahan eksistensial mulai muncul dan menggerogoti Eun-Jeong sehingga ia pun bertandang ke kawan-kawan seperjuangannya. Film keempat, Ulsan Vulture, mengarahkan kamera ke langit, ke kawanan burung nasar yang berperan vital dalam turut merawat kesinambungan ekosistem di Ulsan. Di tengah kepak sayap burung nasar di langit Ulsan yang mendung, persoalan dan pertanyaan ekologis pun muncul. Subtil dan begitu sensitif.

Pada keempat film, kamera diletakkan dalam berbagai angle yang fungsional untuk mengukuhkan agensi para subjek. Para pembuat film merangkum arah pandang mereka. Cerita-cerita lokal bukanlah topik eksotis, melainkan pengalaman dan situasi hidup yang perlu senantiasa dipertanyakan sehingga terpercik kesadaran kritis terhadap apa yang terlihat wajar dan mapan di keseharian, tapi sesungguhnya kompleks dan kontestatif. Politik sehari-hari yang emansipatoris.
Sebagai satu program kuratorial, serial Docs Docs: Short! #3 bergerak seperti kompas yang menunjuk 4 arah sekaligus. Arah yang ditawarkan bukan destinasi, ia menjadi semacam perjalanan dan undangan untuk membaca waktu, ketahanan, pertemanan, dan perawatan. Di tengah dunia yang menjanjikan koneksi tanpa lelah, keempat film ini mengingatkan bahwa koneksi yang bermakna memerlukan waktu, tubuh, dan kerja sama tanpa henti.

Setiap kota menyimpan kisahnya. Empat film dari Ulsan ini menunjukkan bahwa, meski berasal dari latar kota yang sama, ada begitu banyak sudut pandang yang beragam untuk menceritakan geliat kehidupan di dalamnya. Kekhasan masing-masing cerita justru beresonansi lintas batas. Jika dijadikan cermin bagi Indonesia, pun dunia, program Docs Docs: Short! #3 ini memproyeksikan isu-isu yang senapas meski tak serupa: lingkungan yang rapuh, kerentanan pekerja, dan mekanisme bernegosiasi dengan berbagai dinamika hidup yang akrobatik di dunia ini. (Hesty N. Tyas, 25/11/2025 [Ed. Vanis])



