Kerusakan planet telah mencapai titik di mana kita tak lagi bisa memulihkannya. Seiring dengan kapitalisme yang tanpa ampun mengejar keuntungan di atas segalanya yang mengatalis kehancuran alam kita dan segala isinya––termasuk manusia dan budayanya––hanya menjadi sadar tak lagi cukup. Setiap orang yang menganggap bahwa Bumi adalah rumahnya harus bersikap radikal terhadap sikap normalisasi logika kapitalis.
Pemerintah pun tak lagi dapat diandalkan. Jika pandemi COVID-19 dapat mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk mengambil langkah darurat, maka mengapa kerusakan iklim yang nyata dan jelas mengancam kematian seluruh makhluk di planet ini tak ditangani dengan urgensi yang sama? Seiring dengan terus dieksploitasinya sumber daya dan mesin-mesin yang terus berkontribusi pada ketidakramahan lingkungan tempat tinggal kita, kita harus segera bertindak dan menjadi agen penyelamat untuk dosa-dosa ekologi kolektif kita.

This Is Not Your Garden (2025), di tengah kondisi iklim yang memburuk, berfungsi sebagai doa tobat atas dosa-dosa kita terhadap planet ini––meskipun tak membuahkan hasil. Doa itu tak terdengar karena tak ada kekuatan yang lebih besar yang dapat mengabulkannya. Film pendek ini membayangkan kembali tempat-tempat yang berada di ambang kepunahan, menangkap apa yang tersisa dari Guacheneque Páramo dan Cagar Alam Hutan Macanal, dengan secara digital “melestarikannya” menggunakan model 3D lalu merendernya menjadi lanskap pointilis; seolah mengatakan bahwa kita tak lagi dapat mengalaminya secara indrawi. Namun, penggambaran Espeletia grandiflora (frailejones), Quercus Humboldtii (pohon pasang Kolombia), Eucalyptus globulus (gum putih), dan spesies lain tetap menjadi simulakra atas apa yang tak pernah mudah diakses, dan yang terpenting, nyata dan dapat dirasakan indra manusia. Bahkan dengan kesadaran atas dosa-dosa ekologi kita––yang ditampilkan dalam film sebagai skenario “bagaimana jika” mengenai apa yang mungkin terjadi di masa depan––mengucap doa pengampunan saja tak cukup. Tak ada yang dapat memulihkan kerusakan yang terjadi, tak satu penguasa pun, tak dewa pun, juga mesin sekalipun.

Dengan segala hal ini, This Is Not Your Garden menjadi sesuatu yang pesimistis; menggambarkan bahwa seolah satu-satunya solusi yang dapat kita tempuh adalah mengarsipkan apa yang tersisa dari keanekaragaman hayati melalui mesin yang dibangun di bawah sistem yang sejak awal menyebabkannya tergergerus. Doa penyesalan ini kemudian hanya akan memantul tanpa henti di ruang gema pembicaraan ekologi, yang pada akhirnya, tak akan menjadi lebih dari itu. Itu pun, hanya jika kita mengambil tindakan nyata.
Orang kaya, yang menyadari bahwa kerusakan sudah terjadi di luar batas kewajaran, berusaha menciptakan dewa dari mesin-mesin untuk menyelamatkan diri mereka—mencari cara untuk menghuni Mars atau menemukan planet lain yang bisa menjadi rumah baru mereka. Bagi mereka, mencari planet lain (dan pada dasarnya melanjutkan praktik kapitalisme di sana) jauh lebih murah daripada menyelamatkan Bumi dan seluruh isinya. Bagi kita, orang biasa, deus ex machina adalah hal yang muskil. Bagi kita, Planet B tidaklah ada. (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)
Detail Film
This Is Not Your Garden (Este no es tu jardín)
Carlos Velandia, Angélica Restrepo | 12 min | 2025 | Kolombia
Berkompetisi dalam program Kompetisi Pendek
Festival Film Dokumenter 2025



