Membahas Distribusi Film bersama Gayatri Nadya

16—11—2021
Interview

Gayatri Nadya adalah distributor film di KOLEKTIF, sebuah inisiatif distribusi dan pemutaran yang berkolaborasi dengan berbagai komunitas film di Indonesia. Ia juga sempat menjadi tim kurator dan juri di kompetisi film pendek Festival Sinema Prancis, Bandung Shorts, dan menjadi Luang Prabang International Film Festival Motion Picture Ambassador sejak 2017. Nana baru saja menyelesaikan Fellowship Program di SEAD 2019-2020 dan juga masih aktif menggawangi Sinema Paradisco, podcast tentang film.

Kami mewawancarai Gayatri Nadya yang berperan sebagai salah satu dewan juri pada program kompetisi FFD 2020, kategori dokumenter pelajar. Selain itu, Nana (sapaan akrab Gayatri juga menjadi moderator pada program DocTalk Platform Daring dan Disrupsi Tontonan. Pada kesempatan ini, Nana memberikan pendapatnya tentang perkembangan dokumenter pelajar sejak pandemi terjadi, distribusi dokumenter pelajar di masa pandemi serta harapannya untuk dokumenter pelajar Indonesia.

Berikut wawancara lengkap kami dengan Gayatri Nadya:

 

Menurut Anda fenomena apa yang banyak terjadi namun belum mendapat perhatian filmmaker pelajar Indonesia?

Menurut saya yang menarik itu ketika ada isu yang sedang terjadi; apakah itu baru atau sedang dibahas saat itu. Saya pengin melihat betapa isu itu relevan buat pelajar. Misalnya. ada dua isu; yang satu tentang disabilitas, satunya lagi isu pembangunan. Itu adalah isu yang bisa ditemukan di manapun; mau itu pelajar, mahasiswa, atau umum. Saya pengin lihat mereka berbicara dari kacamata sebagai pelajar, sebagai generasi muda. Apa yang membuatnya terasa beda, kalau keluar dari filmmaker pelajar. Kalau yang membuat film seperti ini mereka aktivis atau orang-orang yang sudah lama bergelut di isu ini, pandangannya pasti berbeda. 

Sebagai pelajar, menurut saya mereka bisa memberi kacamata yang sangat segar. Apakah artinya mereka perlu membuka perspektif baru yang tidak terpengaruh oleh pihak-pihak lain atau mencari sesuatu yang dekat itu tidak harus isu-isu yang besar. Mungkin kita yang udah bukan pelajar, udah ga tau lagi masalahnya anak-anak sekolah. Jangan-jangan sudah tidak relevan dengan yang sudah lebih dewasa? Itu yang pengin saya tau. Cara mereka melihat isu itu ga selalu yang besar, tapi yang dekat. Ketika diputar ke pelajar lain, yang merasa satu nasib, itu akan lebih banyak diskusi yang bisa terbuka. Lebih banyak pandangan atau respon dari sesama angkatan itu. Dibanding dari yang berbeda generasi. 

 

Bagaimana Anda memandang perkembangan dokumenter pelajar di Indonesia sejak pandemi terjadi? 

Saya ga terlalu tau finalis (dokumenter pelajar FFD 2020) membuat filmnya ketika pandemi atau sudah selesai sebelum pandemi terjadi. Tidak terlalu terbaca juga. 

Dari film-film (secara umum) yang dibuat selama pandemi, mungkin ada beberapa hal (yang mirip). Mereka mengalami keterbatasan. Keterbatasan produksi, mereka tidak bisa ke tempat yang sudah disurvei atau diriset. Mungkin juga topik-topik yang ingin diangkat jadi lebih terbatas. Sebenarnya ini menarik; apakah keterbatasan itu membuat keterbatasan berkarya? Padahal pada keterbatasan itu, mereka bisa meng-capture sesuatu yang luput dari orang-orang. Lagi-lagi soal kedekatan, pembuat film dapat melihat fenomena atau isu yang dekat dulu. Bisa saja fenomena tersebut merupakan satu hal yang hanya bisa terekam ketika pandemi. 

Mungkin ketika sudah tidak ada pandemi, orang-orang akan berbicara hal lain, dan hal-hal tersebut tidak ada yang mendokumentasikan. Keterbatasan produksi sebenarnya membuat konsep produksi yang jarak jauh atau dengan orang yang terbatas. Itu bisa sangat unik kalau para pelajar yang membuat dokumentasi selama pandemi. Menjadi satu rekaman yang mungkin tidak akan terjadi lagi di 2021. Menarik untuk menandakan satu zaman yang hanya bisa bergantung pada sedikit jumlah orang atau keterbatasan kita akan ruang. 

 

Bagaimana tanggapan Anda mengenai distribusi film pelajar yang dilakukan melalui platform daring?

Ini menarik ya, ketika mereka belajar formalnya sudah daring dan berkarya juga daring. Satu hal yang saya khawatirkan adalah kebosanan terhadap semua orang yang menikmati konten daring. Ketika menonton film atau tontonan, pasti maunya ada hiburan. Gimana caranya pembuat film mengkomposisi tontonan ini atau penyelenggara acara (dalam konteks ini adalah festival atau ekshibitor) mulai berubah menjadi daring itu membuat konten-konten yang masih enak dilihat? Mungkin pendek-pendek, tidak langsung nonton film dua jam. Itu mempengaruhi skema distribusi.

Kami pelaku distribusi perlu juga mencari strategi. Bagaimana supaya orang mau menatap layar lagi, yang tujuannya adalah hiburan? Diharapkan ada sesuatu yang baru. Apalagi kalau buat pelajar nonton film lagi setelah mereka seminggu menatap layar dan ditambah tugas-tugasnya yang berat. 

Menurut saya itu challenge buat pelaku distribusi dan juga pembuat film; bagaimana supaya tidak ada kebosanan. Apalagi isu-isu dokumenter kan banyak yang menganggap “serius”. Apakah itu tetap bisa menarik buat orang, terutama teman-teman pelajar untuk menikmati konten-konten dokumenter? Strategi yang perlu dibuat atau mungkin masih dieksplorasi itu komposisi program. Tidak bisa hanya nonton film dokumenter, harus ada sesuatu. Misalnya dapat ditambahkan program diskusi setelah pemutaran film atau mungkin dapat juga memperpanjang rentang waktu menonton. Memperpanjang rentang waktu menonton di sini maksudnya adalah penonton diberikan kesempatan menonton satu film dengan rentang waktu beberapa hari tidak harus hari itu juga selesai. Jadi artinya waktu kita untuk menikmati film itu lebih panjang. Orang nanti mikirnya wah hari ini gak usah nonton banyak-banyak dulu, tapi dapet kontennya. Seperti yang sekarang dilakukan FFD dengan daring. Waktunya cukup longgar, jadi menyantap konten itu ga buru-buru. 

 

Apa harapan Anda untuk dokumenter pelajar Indonesia?

Saya masih perlu melihat dokumenter pelajar di tempat lain, bahkan di luar festival. Mungkin ketika ada festival dia ada wadahnya, namun ketika tidak ada festival dia harus ke mana? Saya masih perlu melihat itu dulu.

Mungkin dari finalis-finalis yang udah ditonton di FFD ini, saya sih pengin lihat sesuatu yang sangat dekat dan relevan buat mereka. Tapi juga bisa dimengerti sama yang bukan pelajar, lebih penting sesama generasinya itu. At the end of the day, sebenernya bikin film itu buat penonton. Tapi ketika penonton yang disasar itu ada di dalam circle mereka sendiri, saya rasa responnya akan lebih menarik. Seperti berbicara pada diri sendiri, tapi bukan bikin film untuk diri sendiri.

Menurut saya itu yang lebih bisa banyak dieksplor, apalagi kalau nanti bisa memengaruhi sesama pelajar. Meskipun sama-sama pelajar belum tentu sama-sama filmmaker. Menurut saya itu penting, karena yang namanya dokumenter itu menariknya benar-benar bisa sangat bebas. Tapi sebebas-bebasnya itu perlu juga diberi respon. Respon itu penting dari sesama pelajar yang ada meskipun bukan dari sesama filmmaker. Itu sih, mencari sesuatu yang relevan dan bisa dieksplor. 

 

Bagaimana pengalaman Anda di FFD yang digelar secara daring saat ini?

Ini seru sih, karena saya terakhir ke FFD itu dua tahun lalu, kebetulan absen tahun lalu. Challenge-nya semua kegiatan pemutaran online kan kita tahu lah dengan pembajakan juga tadi kebosanan menatap layar. Jujur dengan adanya yang versi online tahun ini dari FFD, sebenarnya cukup memangkas waktu dan juga mungkin keterbatasan ruang. Tidak bepergian ke suatu tempat sudah tidak masalah dan kita juga bisa mengatur waktu kita untuk menonton film yang mana tanpa terbatas jadwal. Sebenarnya ini satu hal yang sangat solutif buat banyak orang dan juga dengan platform yang cukup aman. Saya rasa ini bisa jadi satu jawaban juga buat saya, sebagai distributor juga buat temen-temen yang ingin menikmati film dengan cara daring. Karena kita tidak tahu keterbatasan ini akan sampai kapan. Satu hal yang menarik juga untuk teman-teman penonton dan juga pelaku distribusi untuk mulai beradaptasi. 

Kita tidak bisa berharap semua benar-benar kembali normal karena tidak akan ada normal lagi menurut saya setelah ini. Jadi ini satu cara untuk pembuat film, penikmat dan juga distributor belajar gimana membagi-bagi film yang tentunya tidak akan menghilangkan luring. Daring ini tetap akan jadi salah satu senjata baru buat kita semua. Menarik sekali, sudah saya rasakan di FFD jadi bukan satu hal yang gagap lagi bagi banyak orang. Sudah sangat dipermudah, menjadi complimentary.

 

Penulis: Dinda Agita

Bagikan ini