Menyaksikan Sutradara Perempuan Korea Selatan

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Kemenangan Bong Joon-ho di Cannes Film Festival membuat sinema Korea Selatan makin semarak dibicarakan di seluruh dunia. Meskipun bagi para penggemar film, sebelum Parasite (2019) berjaya, film Korea Selatan telah menawarkan ciri khas baru dalam sinema dunia, semakin sejajar dengan Jepang. Nama-nama seperti Kim Ki-duk, Hong Sang-soo, atau Park Chan-wook tentunya sudah tidak asing lagi di telinga pegiat film yang mengikuti sinema Korea Selatan. Dari beberapa nama tersebut, karpet merah perfilman Korea Selatan masih didominasi oleh sutradara laki-laki, lantas di manakah sutradara perempuannya?

Pada pertengahan 2019 muncul gerakan Sending My Spirit di Korea Selatan. Seperti diberitakan BBC, gerakan tersebut mendorong orang-orang untuk membeli tiket film yang bintang utamanya perempuan. Bahkan, ketika tidak bisa menghadiri langsung pemutaran film, mereka bisa tetap “hadir” dalam bentuk semangat guna mendukung sutradara perempuan untuk terus memproduksi film tentang perempuan. Upaya ini diharapkan bisa membantu film-film seperti itu agar bertahan dan sukses di box office. Gerakan ini dimulai dari Seoul Women’s University yang merasa perlu adanya keragaman dalam industri film Korea.

Di industri film Korea Selatan, suara perempuan tidak terwakili dengan baik. Berdasarkan laporan Korean Film Council (KOFIC) yang dipublikasikan BBC, antara 2014 sampai 2018, ada peningkatan pembuat film perempuan sebanyak 8,5 persen dan film dengan bintang utama perempuan sebanyak 31,2 persen. Meski begitu, mereka tidak mencatat adanya kamerawan perempuan sepanjang 2018. Tahun lalu KOFIC mendirikan Fair Environment Centre yang mencoba memengaruhi kebijakan keberimbangan gender dalam industri film. Mereka memberi dana 1,66 miliar won (sekitar 20 miliar rupiah) dalam proyek mengatasi diskriminasi dan kekerasan seksual di industri film.

Industri perfilman yang masih didominasi laki-laki sesungguhnya tidak hanya di Korea Selatan. Fenomena ini bisa ditemui hampir di seluruh dunia. Mengapa dan bagaimana fenomena ini terbentuk tentu membutuhkan pembahasan yang lain lagi.

Melalui program Focus on South Korea: Remapping South Korean Women Directors, Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 bekerjasama dengan Seoul Independent Documentary Film Festival (SIDOF) untuk menyajikan karya-karya perempuan sutradara asal Korea Selatan. Program ini dirancang untuk memperkaya khazanah perfilman Korea Selatan yang selama ini nama besarnya dikuasai laki-laki. Meskipun demikian, program ini tidak akan membedah ketimpangan sutradara perempuan dan sutradara laki-laki. Apakah film yang disutradarai oleh sutradara perempuan bisa menggambarkan tokoh utama perempuan sebagai pihak yang berdaya dan progresif? Lebih jauh lagi, program ini sebenarnya bertujuan mengajak penonton untuk menyimak karakter-karakter film yang digarap oleh sutradara perempuan.

Dua dari enam film yang ditayangkan dalam program ini mengajak penonton menyaksikan perselisihan antara Korea Selatan dengan Jepang pada dua periode yang berbeda. Jika film East Asia Anti-Japan Armed Front (Kim Mirye, 2019) bertutur dengan rapi dalam rangkaian arsip dan wawancara, film Heart of Snow: Afterlife (Kim So-Young, 2018) menyajikan ceritanya dengan lebih tenang dan puitik.

Film East Asia Anti-Japan Armed Front (Kim Mirye, 2019) menceritakan pengeboman Mitsubishi Heavy Industries di Tokyo yang dilakukan oleh Front Bersenjata Anti-Jepang dari Asia Timur pada 30 Agustus 1974. Pengeboman tersebut dilakukan karena Mitsubishi Heavy Industries memasok senjata militer untuk Amerika Serikat melawan Vietnam Utara dalam Perang Vietnam pada awal 1970-an. Menyusul pengeboman Mitsubishi, serangkaian perusahaan Jepang juga diserang oleh kelompok tersebut. Setelah lebih dari 40 tahun berlalu, sang pembuat film berkunjung ke Jepang untuk menelusuri jejak pemikiran mereka.

Genosida terhadap orang-orang Korea di Vladivostok, Rusia, pada 1920 yang dilakukan oleh tentara Jepang disajikan dalam film Heart of Snow: afterlife (Kim So-Young, 2018). Para tentara Jepang juga mengeksekusi tokoh-tokoh revolusioner, seperti Kim Afanasi dan Alexandra Petrovna Kim, sebelum terjadinya migrasi paksa pada 1937.

Empat film lainnya menyoroti perkara identitas. Film-Film ini menunjukkan kecenderungan cerita yang personal, bahkan ketika isu yang diangkat pun cukup universal. Beberapa cerita berasal dari lingkungan dan pengalaman pribadi pembuat film. Dalam Optigraph (Lee Wonwoo, 2017), pembuat sekaligus subjek utama film yang telah lama tinggal di Amerika Serikat mencoba menelusuri peristiwa sejarah di kampung halamannya pasca kematian sang kakek. Kepergiannya meninggalkan tugas bagi Wonwoo untuk menyelesaikan permintaan penulisan biografi sang kakek. Memori si pembuat film tentang kakeknya adalah seorang tua yang sederhana dan baik hati. Namun, nama sang kakek dijadikan sebagai kepala departemen keamanan pada awal Perang Korea. 

Relasi antara ibu dengan anak perempuan dikisahkan dalam film The Strangers (Sohee Myoung, 2018). Myoung kerap kali bermimpi buruk di musim gugur. Karena sangat ingin menghilangkannya, Myoung memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, Chuncheon, yang kini sudah tak lagi sama seperti dulu, serta mengunjungi ibunya yang masih bekerja keras seperti biasa. Myoung merasa tidak berdaya karena di satu sisi ia merasa mengerti ibunya, namun pada saat yang sama, ia tidak pernah bisa memahami ibunya. Myoung menangkap potret keluarga dalam ruang dan kenangan yang perlahan menghilang. Apakah kita benar-benar ditakdirkan untuk disakiti dan saling membenci?

Film The Unseen Children (Aori, 2018) memotret diaspora masyarakat Korea Utara melalui pengalaman para remaja yang mencoba kabur dari negara tersebut. Perjalanan dua imigran wanita Korea Selatan beda generasi yang bekerja di perkebunan kiwi di Selandia Baru direkam dalam film Sweet Golden Kiwi (Kyuri Jeon, 2018). Film tersebut mengisahkan bibi si pembuat film yang sudah bekerja di rumah pengemasan kiwi sejak 30 tahun lalu, serta seorang perempuan muda yang bekerja di perkebunan dan pengemasan kiwi dengan mengandalkan visa bekerja dan berlibur di Selandia Baru. Dapatkah migrasi dilihat sebagai pelarian dari permasalahan, atau harapan? Atau mungkin keduanya? Jeon memvisualisasikan bagaimana kehidupan individu terhubung dan dipengaruhi oleh realitas pribadi dan realitas sosial, serta bagaimana budaya berpindah dari satu negara ke negara lain.

Keberagaman karakter yang disuguhkan dalam enam film tersebut menunjukkan bahwa posisi sutradara amat penting diduduki perempuan, terutama ketika menarasikan cerita-cerita perempuan. Para sutradara perempuan bisa memberi lebih banyak ruang bagi perempuan untuk bersuara dan disuarakan di ruang representasi film. Kedalaman kisah dan kompleksitas ditampilkan dalam karakter perempuan. Karakter perempuan tidak lagi dipandang secara hitam putih, karakter perempuan protagonis umumnya digambarkan sebagai sosok penyabar dan pasrah dengan kondisi yang ada, sedangkan karakter perempuan antagonis cenderung digambarkan sebagai sosok pembenci. Karakter perempuan dalam film menampilkan perempuan dari sudut pandang realitas. Bahwa pada kenyataannya setiap perempuan tentu memiliki pengalaman dan pergulatan yang berbeda dan khas dalam menghadapi batasan-batasan kultural dan struktural.

Program Focus on South Korea: Remapping South Korean Women Directors bisa dinikmati pada 2-6 Desember 2019 di Taman Budaya Yogyakarta dan IFI-LIP Yogyakarta

Close Menu