Mencari kebahagiaan adalah Nostalgia

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Pada pengertian umum, kebahagian dan kesenangan adalah dua kata yang dapat dipertukarkan, walaupun berfungsi untuk memaknai peristiwa berbeda. Kesenangan muncul  secara spontan dan singkat karena stimulus pihak lain. Sedangkan, kebahagian dipercayai hadir karena dorongan personal dalam durasi yang lama. Tapi, keduanya adalah wujud dari keinginan, yakni imaji yang tidak pernah tercapai. Konsep ini memaknai bahwa kebahagian dan kesenangan muncul karena dorongan eksternal yang diusahakan terus menerus karena tidak pernah didapat.

Usaha menjadi kata yang perlu digaris bawahi, terlebih ketika kata ini dibawa dalam ranah kewarganegaraan. Namun, bisakah imaji personal ini dimaterialkan; dikumpulkan lalu dihadirkan menjadi sebuah sistem struktural dan kultural  atas nama “kebahagian bersama”?

Kelompok besar, katakanlah Negara, membangun cara untuk memudahkan mereka  menerka dan mendeskripsikan keinginan warganya—kebahagiaan. Entah hasilnya berujung pada identitas diri yang lagi-lagi membicarakan asal, atau soal batas yang berhilir pada klasifikasi manusia berdasarkan hal-hal yang nampak. Negara berusaha untuk menjamin kehidupan warganya melalui cara itu. 

Variabel itu hadir lewat pernyataan empat pembuat film mengenai Prancis—negara asal mereka. Michel Toesca yang membahas silang sengkarut sistem berdasarkan batas wilayah dan sejarah bangsa, lalu mewujud dalam penggolongan manusia melalui film To The Four Winds (2018). Merie Losier dengan film Cassandro, The Exotico! (2018) yang membicarakan teror pada diri agar terakui dan  tergolong dalam satu kelompok tertentu. 

Selanjutnya Prancis dihadirkan sebagai bangsa pada film Le Grand Bal (2018), karya Laetitia Carton. Lewat sudut pandang subyek yang dipilihnya, Carton menunjukkan klangenan pada tradisi. Alam lain yang hadir sebagai ruang kebahagiaan bangsa Prancis. Ruang ini perlu ditempuh dengan peluh tak berkesudahan. Alih-alih menghadirkan kebahagian yang diidamkan, malah ruang tersebut menciptakan masalah yang tidak hanya bermuara pada masalah rasial, tetapi juga menarik subyek-subyek melewati kodratnya sebagai manusia yang tidak memiliki lelah.

Menyeberang jauh ke Madagaskar, Mickoel Andrianaly mengajak untuk mendedah sikap warga bekas jajahan Prancis dalam mencari kebahagian. Menariknya dalam film Nofinofy (2019), filmmaker menunjukkan posisi Prancis dalam bayangan masa lalu seorang tukang cukur rambut. Menit demi menit mengikuti perjalanan subyek mencapai impian, filmmaker menghadirkan ingatan warga pada Prancis dan impian mereka pada Madagaskar. Salon milik tukang cukur menjadi ruang pertemuan gagasan ini.

Empat film tersebut tayang program Le Mois du Documentaire dengan tajuk Pursuit of Happiness—Mengejar Kebahagiaan. Le Mois du Documentaire—Bulan Dokumenter Prancis— sebenarnya adalah perayaan atau festival film dokumenter yang berlangsung di Prancis dan lembaga-lembaga kebudayaan Prancis di seluruh dunia pada bulan November. Di Yogyakarta sendiri, acara ini rutin diselenggarakan sebagai program parsial Festival Film Dokumenter (FFD) menjelang festival di bulan Desember. Acara ini merupakan kerjasama antara Festival Film Dokumenter (FFD) dan Institut Français d’Indonésie (IFI) Yogyakarta sejak tahun 2016.   

Seluruh film dalam program Le Mois du Documentaire sudah diselenggarakan pada 11-12 November 2019 di IFI-LIP Yogyakarta. Namun, film Le Grand Bal (2018) akan diputar kembali secara khusus 4 Desember 2019 pukul 19.00 WIB di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK).

Close Menu