Hubungan domestik antargenerasi acapkali memiliki ikatan yang rumit. Kisah-kisah yang janggal dan canggung tidak jarang merentang dalam tegangan hubungan di antara mereka. Itu pula yang berusaha dikuak dan diurai oleh sutradara Mesir, Yasmina El Kamaly, melalui dokumenter The Mother and the Bear (2024).
Dalam dokumenter sepanjang 12 menit ini, sutradara El Kamaly sedang merefleksikan hubungan antargenerasi keluarganya. Ia mereka ulang kejadian masa lalu melalui arsip rekaman audiovisual dan jurnal yang ditulis ibunya. Arsip-arsip itu lantas menjadi fondasi untuk mendedah sejarah matrilineal dalam keluarganya dan melihat ulang cara afeksi dalam sebuah keluarga bekerja.

Ragam arsip rekaman audiovisual keluarganya disusun sutradara El Kamaly menjadi montase yang membawa kita melihat betapa rumit hubungan dalam keluarganya. Komunikasi yang tidak berjalan dengan cair dan kasih sayang yang bias digambarkan secara metaforis melalui komposisi arsip dan wawancara. Mereka sedang mengidentifikasi kerinduan mereka pada kasih sayang dan hubungan intim antara seorang ibu-anak.
Ibu El Kamaly memiliki hubungan yang kompleks dengan ibunya (nenek El Kamaly). Komunikasi yang terjalin di antara mereka terasa canggung. Bahkan untuk sekadar saling menanyakan kabar dan berbagi canda tawa. Hubungan yang coba diretas untuk berbagi kasih sayang yang tulus tetapi tidak dapat terealisasi. Kasih sayang itulah yang dirindukan oleh ibu Yasmina, bahkan setelah kematian ibunya.

Melalui kamera yang saling merekam wajah mereka, sutradara Yasmina mencoba mengorek konsep kasih sayang dalam keluarga mereka. Komposisi kamera yang merekam percakapan mereka tidak sepenuhnya menangkap wajah ibu Yasmina dengan utuh–hanya sebagian–yang secara metaforis menjaga ibunya agar tetap nyaman. Namun, ekspresi yang jujur justru tampak dari sorot mata mereka yang saling melayangkan pertanyaan yang semakin subtil. Hingga akhirnya ibu El Kamaly melayangkan pertanyaan yang sedikit canggung, “Apakah kamu mencintaiku?” Sebuah pertanyaan sederhana, tetapi keluar dari lubuk hati yang sangat dalam seorang ibu.
Momen haru dan reflektif dalam dokumenter merupakan cermin yang membawa penonton melihat kembali hubungan dalam keluarganya. Berbagai pertanyaan yang subtil mengenai kasih sayang menjadi pemantik yang tajam bahan renungan untuk merefleksikan hubungan keluarga. Sejatinya, The Mother and the Bear adalah dokumenter reflektif-metaforis yang bisa mengguncang jiwa sekaligus menitikkan air mata dalam waktu bersamaan. (Ahmad Radhitya Alam) (Ed. Vanis)
Detail Film
The Mother and the Bear (الأم والدب)
Yasmina El Kamaly | 12 min | 2024 | Mesir
Berkompetisi dalam program Kompetisi Pendek
Festival Film Dokumenter 2025



