Cinta. Pernikahan. Persaudaraan. Kakak. Adik. Ibu. Kamar Tidur. Dewasa. Selamat Tinggal.
Pilihan kata, kelindan makna, serta susunan peristiwa yang dipasang, dibongkar, lalu kembali dipasang, membentuk sebuah dinamika yang mewakili keseluruhan 9 kata yang mungkin dapat menayangkan kesatuan hidup orang-orang di bawah satu atap. Terkadang, kata-kata ini diucapkan tanpa benar-benar dikatakan. Bahkan, untuk sekadar dikatakan saja pun mungkin tidak. Musabab atas perihal itu tidak jelas tandanya.

The House That Stays (Lê Ngọc Duy, 2024) merupakan bentuk reiterasi kata-kata yang mungkin sering diasosiasikan sebagai bentuk kepedulian, afeksi, dan interaksi cinta keluarga. Film ini menghidangkan sajian sensorik melalui seri imajinasi dan percakapan pribadi melalui pengalaman interaksi sang protagonis dengan ibu dan saudaranya. Sang protagonis, sutradara film ini sendiri, menafsirkan ulang masa-masa pelepasan diri dari rumah yang membesarkan dirinya.
Mulai dari percakapan tentang masakan kesukaan di rumah yang selalu dimasak ibu, persoalan siapa yang menemani adiknya di rumah sampai pada masa-masa pernikahan, hingga wejangan ibu, menghadirkan sebuah pengalaman kehidupan dan perasaan yang timbul karenanya. Bagaikan teka-teki, perasaan itu terbalut dalam misteri yang disatukan yang hadir dari setiap sudut rumah. Percakapan yang lekang tetapi tetap samar itu ternyata dapat muncul melalui ingatan. Sebuah ingatan yang mungkin tak dapat diandalkan. (Gantar Sinaga) (Ed. Vanis)
Detail Film
The House That Stays (Cuối giường dậy lên một tiếng gọi)
Lê Ngọc Duy | 15 min | 2024 | Vietnam
Seleksi Resmi untuk program Docs Docs: Short!
Festival Film Dokumenter 2025



