Siar Suara Pekerja Migran di Lingkar Taman

— Ulasan Film
FFD 2025

Sepasang lelaki duduk berhadapan di sebuah taman. Mereka saling bertanya dan bercerita mengenai kehidupan mereka di tanah rantau, ratusan kilometer dari tanah air—tanah kelahiran. Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana mengenai wisuda dan tugas akhir yang baru selesai, kisah-kisah lain yang lebih subtil bergulir. Dibangun melalui narasi puitis yang kental dengan bahasa Jawa, kisah-kisah tersebut mengalir dengan deras dan hangat. Lantas di antaranya, puisi-puisi berbahasa Indonesia dibacakan dengan jujur tanpa performativitas yang berlebihan.

Taman-Taman (Yo Hen So, 2024) membawa kita menyaksikan sekaligus merasakan peristiwa-peristiwa di Taman Tainan (Taiwan), khususnya selepas matahari lesap, secara dekat. Melalui dua orang protagonis yang menjadi titik sentral dalam dokumenter ini, kisah-kisah mengenai kehidupan pekerja migran Indonesia dituturkan. Pengalaman hidup dan perjumpaan dengan tokoh lain—yang senasib, tapi tidak sepenanggungan—silih berganti dijalin menjadi sebuah kisah yang utuh.

Asri Jalal dan Hasan Basri Maulana Firmansah, dua protagonis utama dalam dokumenter ini, memiliki janji temu setiap malam di Taman Tainan. Keduanya merupakan mahasiswa doktoral dan pekerja migran asal Indonesia yang berjumpa selepas mengikuti penjaringan penyair untuk pembuatan sebuah film. Film ini.

Dengan refleksif, Taman-Taman membawa kita pada tegangan ruang imersif yang mencampurkan realitas dan teknis perekaman audiovisual dengan cair. Rekaman di balik layar dan proses kreatif pembuatan film dibaurkan dengan percakapan sepasang aktor yang beradu nasib—kisah-kisah yang tak selalu baik. Ragam suara alam, kicau burung, desir angin, dan percakapan lain yang tertangkap alat perekam di ruang yang sama menguatkan suasana yang sedang dibangun. Bahkan dalam realitas dan performativitas film yang saling bertumbukan.

Melalui puisi yang dibacakan, cerita-cerita romansa dibagikan. Kenangan-kenangan Asri, selaku penulis, pada taman-taman dituturkan dalam rangkaian diksi. Menurutnya, romantisme kaum pekerja patut dibagikan dalam bingkai yang puitis. “Romantisme kaum pekerja itu lebih kompleks daripada romantisme kaum elit di apartemen-apartemen mewah,” tuturnya.

Ribuan kilometer jarak dari Indonesia barangkali menjadi hulu dari kerinduan pada tanah air. Melalui dokumenter ini, kita bisa melihat para pekerja migran berkumpul, berserikat, dan membagikan kisah mereka. Dekat dan hangat. Langgam gamelan dan tabuhan kendang jatilan menjadi musik latar yang kuat untuk menunjukkan muasal pekerja migran yang kebanyakan dari Jawa. Di tengah Taman Tainan yang semakin temaram ditelan malam, barisan anak-anak berlatih pencak silat. Terdengar nama perguruan mereka yang sangat Indonesia, PSHT Pusat Madiun. “Los kabeh!” teriak mereka sambil berlari menyeberangi jembatan.

Lantaran beberapa kali berjumpa dengan Asri, Hasan menawarkan media lain untuk membagikan kisah yang mereka tangkap. Ini Radio Yinni, sebuah platform radio yang membahas kisah orang-orang yang datang ke taman, dibacakan di taman, dan hanya bisa didengarkan melalui pengeras suara di taman yang sama. Keduanya lantas mencoba seolah-olah menjadi penyiar radio dan berbagi cerita.

Ribuan kilometer selanjutnya, pulang kampung menjadi impian sekaligus kerinduan bagi para pekerja migran di tanah perantauan. Dan pertemuan dengan sesama di sebuah taman menjadi keniscaayan untuk sekadar melepaskan rindu. Selepas kerja penuh waktu di tanah rantau, ada kisah yang layak untuk didengar dengan sepenuh haru. (Ahmad Radhitya Alam) (Ed. Vanis)

 

Detail Film
Taman-Taman (Park)
SO Yo Hen | 101 min | 2024 | Taiwan
Berkompetisi dalam program Kompetisi Panjang Internasional
Festival Film Dokumenter 2025