Review Film: Etage 39 (2017)

SHARE

Bagaimana seseorang memaknai suatu pengalaman spasial? Atau, bagaimana mereka mengungkapkan preferensi mereka atasnya? Etage 39 (2017) adalah proyek khusus yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Nicolas Boone melakukan eksperimen unik dengan menggandeng 11 orang yang memiliki kemampuan imajinasi berlebih ke dalam pertemuan di ruang tertutup; semacam kamar terbatas yang dibalut oleh green screen. Lantas, orang-orang tersebut diminta untuk berhubungan satu sama lain selama mereka bisa.

Meskipun interaksi berjalan nonskrip, Boone tidak membiarkannya benar-benar bebas dan acak. Ia menghadirkan seseorang yang bertugas seperti moderator. Muncul dan hilang bersama yang lain; meluncurkan topik percakapan, menyela, dan mengubahnya ketika perlu.

Dan, percobaan ini nyatanya menampilkan sebuah relasi yang mengejutkan. Selama lebih dari 20 menit, kita disuguhkan percakapan dan perilaku yang jujur. Dimulai dari bagaimana komunikasi tidak terjalin baik karena perbedaan daya imajinasi setiap tokoh. Kecanggungan di menit-menit awal ketika bertemu orang baru, lantas kelamaan melihatnya menjadi lebih cair. Bahkan sangat cair, hingga memunculkan sentuhan fisik yang intim maupun obrolan-obrolan yang lebih personal. Baik seputar hal-hal esensial macam keseharian, pandangan tentang suatu hal, perasaan dan preferensi personal, atau sekadar memeriksa respon lawan bicaranya saja.

Dalam kondisi yang agak menyedihkan, kita juga menyaksikan beberapa tokoh memilih untuk tidak berinteraksi dengan semestinya. Ada yang bergumam sendiri, meracau, melamun, bahkan menyanyi serampangan. Atau hadir secara fisik namun malah menjadi parasit terhadap tokoh-tokoh yang lain. Semua tindakan itu terjadi, dan bisa kita terima sebagai reaksi alamiah yang muncul atas perasaan tertekan. Keterbatasan ruang gerak nyatanya benar mampu memunculkan perasaan bosan dan sebal; seakan setiap subjek percobaan di sini adalah narapidana yang dikurung dalam sel tahanan. Belum lagi pemandangan yang kosong lompong di segala sisi, macam bilik rawat inap di rumah sakit umum. Tidak terbayang sekeras apa tiap subjek memaksa otak mereka untuk berimajinasi dan berpikir ketika tubuhnya berada dalam situs sempit yang menyuntik mati kreativitas; perlahan lenyap.

Dalam kondisi yang seperti itu, Boone menggantikan green screen yang membatasi gerak subjek dengan cuplikan pemandangan alam yang sulit dijangkau manusia; macam pantai, gunung, lereng, tebing terjal, danau, dan lain-lain. Lantas, penonton dibiarkan mengalami percobaan ini sebagai pengalaman yang kontradiktif. Sembari mengamati orang-orang yang kesulitan bergerak, penonton diberikan kesempatan untuk menjelajahi keindahan alam dalam berbagai jenis dan bentuk. Seakan ketika salah satu subjek berdiam diri di suatu titik, ia sedang menikmati horizon pantai yang menenangkan atau bersenda gurau di pinggir danau.

Proyek Etage 39 pada akhirnya menambah daftar panjang pengalaman segar penonton dalam menyaksikan dokumenter dan film itu sendiri. Benturan antara kekosongan subjek-subjek yang diisolasi dengan keseruan menelusuri lanskap alam bebas di bagian latarnya, di saat yang bersamaan, kita tangkap sebagai perasaan yang akrab sekaligus asing. Rasa kehilangan mereka atas situs geografis dan ruang-ruang terbuka kita alami juga di keseharian atas keterbatasan spasial yang muncul akibat kesibukan atau alasan-alasan lain. Namun, perasaan ini tanpa sadar tidak pernah kita akui secara penuh; entah karena tak acuh atau memang belum menyadarinya saja. Dan kita tetap menganggapnya sebagai perjalanan yang nyata. Padahal, perpindahan hanyalah ilusi yang mengekang referensi mereka (dan kita, sebagai penonton) atas percakapan yang terjadi. Tidak ada satu pun dari mereka dan kita benar-benar berkelana; hanya perputaran dan pergerakan semu semata. Pertemuan dan percakapan memang berjalan dan berlenggang kangkung, tetapi tubuh tidak ke mana-mana.

 

Etage 39 merupakan salah satu film dalam program “Spektrum” yang diputar pada tanggal 6 Desember 2018 pukul 15.00 WIB di IFI-LIP Yogyakarta. Agenda lengkap FFD 2018 dapat dilihat di jadwal.

Penulis: Anas A.H.

Close Menu