Review Film: Electro-Pythagoras (2017)

SHARE

Film profil, baik dalam bentuk dokumenter maupun fiksi, kerap menggambarkan tokoh atau subjek yang diceritakan sebagai manusia istimewa tanpa cela. Kesan ini merupakan efek dari gaya penceritaan yang dipilih oleh pembuat film. Sulit memang, untuk melepaskan kekaguman pribadi tersebut. Beberapa menyatakan bahwa, hal ini memang tidak mungkin dilakukan.  Namun tidak dengan film Electro Pytagorus garapan Luke Fowler, seniman –pembuat film dan musisi— asal Glasgow, Inggris. Gaya penceritaan yang dipilih, berhasil menggambarkan Martin Bartlett, yang dipandang istimewa oleh dirinya sendiri sebagai manusia biasa.

Martin Bartlett adalah seorang musisi dan komposer musik elektronik. Perlu diketahui sebelumnya bahwa suara dan nada dari musik elektronik dihasilkan oleh alat yang disebut ‘microcomputer’; sebuah alat, yang sajak awal kemunculannya di tahun 70-an menjadi dasar penolakan atas penggolongan musik elektronik sebagai musik. Vokalis Foo Fighters, Dave Grohl, menyebut instrumen ini telah meretas keintiman antara musik dan pendengarnya; merusak imaji soal nada dan suara yang terbangun di kepala dan hati.

Alih-alih mendapat respon buruk, musik elektronik kini telah berkembang menjadi beberapa genre dan menemukan penikmatnya. Kenyataan yang seperti diharapkan Bartlett ‘semoga musik ini bisa dinikmati’.

Bartlett kecil, memang sudah menampakkan kegandrungannya pada musik. Bartlett lahir di Glasgow, Inggris tahun 1939, menetap di Vancouver, Kanada dan meninggal di tahun 1993, karena AIDS. Di sejarah musik elektronik sendiri, nama Bartlett tidak banyak dibicarakan. Namun, Fowler menambal kekurangan itu lewat Electro-Pythagoras: A Potrait of Martin Bartlett (2017).

Film keenam Fowler ini, mengajak penonton menelusuri sosok Martin Bartlett. Gaya bercerita pilihan Fowler berbeda dengan film dokumenter yang sudah-sudah; yang menempatkan aspek visual sebagai elemen utama dalam bercerita. Fowler memilih untuk mengedepankan pengalaman auditory penonton. Melalui arsip catatan harian, dan surat milik Bartlett, yang dibaca oleh narator. Terkadang, voice-over ini digabungkan dengan suara yang lain. Kadang memiliki irama yang sama, terkadang berbeda. Teknis yang dilakukan Fowler, menambah kedinamisan ketika menggambarkan sosok Bartlett. Walaupun begitu, Fowler tidak mengesampingkan elemen visual.

Di bagian teaser misalnya, Fowler memasukkan audio synthesizer, voice over narator, serta elemen visual berupa foto-foto Bartlet dari kecil hingga dewasa. Permainan elemen-elemen ini membangun perhatian bahwa tokoh yang dibicarakan akan berhubungan dengan musik yang digunakan. Menuju peristiwa selanjutnya (masih kelompok teaser), Fowler memberi jeda sekian detik sebelum berlanjut pada peristiwa berikutnya. Jeda ini menjadi tanda bahwa peristiwa kepenontonan akan berubah. Yang sebelumnya saya melihat Bartlett dalam foto, tidak bergerak, kemudian saya mengamatinya dari sebuah footage. Posisi saya sebagai penonton berubah. Yang awalnya jauh, pengamat yang berada di luar lingkar ketiga, kemudian ditarik mendekat.

Jukstaposisi antara gambar dengan footage, gambar dengan grafis, membangun asosiasi  tertentu ketika fokus mendengar cerita Bartlett dari narator. Misalnya, ketika Narator membacakan salah satu arsip Bartlett yang mengisahkan kekecewaan pada pertunjukkannya. Di bagian ini, Fowler menggambarkan kecamuk Bartlett lewat teknik kontrapung; voice-over yang membacakan surat Bartlet ditabrakkan dengan dialog film Indonesia.

Segala informasi yang disampaikan Narator, kemudian direspon dengan permainan jukstaposisi visual –leitmotif dan kontrapung– telah membangun tafsir tentang sisi personal Bartlett. Bartlett terkesan manusiawi, karena Fowler bebas menggambarkan seperti apa kekecewaan atau perasaan tokoh yang dibicarakan. Terlebih, ketika narator seolah-olah menjadi Bartlett yang sedang menceritakan peristiwanya kepada penonton secara langsung; walaupun yang didengar bukanlah suara aslinya.

Peristiwa menonton ini yang terus dimainkan Fowler selama 44 menit 58 detik. Terkadang, saya menjadi begitu dekat dengan Bartlett atau menjadi sangat jauh dan lain sebagainya. Namun, saya masih curiga, apakah film ini benar-benar tidak memanggungkan Bartlett sebagai seorang manusia tanpa cela, sehingga menjadikan karya keenam Fowler manifestasi dari menolak keseragaman narasi. Kecurigaan ini muncul ketika melihat beberapa kata yang disebut oleh narator disandingkan dengan elemen visual tertentu. Selain itu, elemen grafis berupa kalimat dengan font courier new seolah membingkai atau menjadi statement Fowler pada Bartlett; tanda bahwa Barlett adalah seorang manusia pembaharu, pejuang, istimewa tanpa cela.

 

Electro-Pythagorus: A Potrait of Martin Bartlett (2017) adalah salah satu film dalam program “DocSound”yang akan diputar di IFI-LIP Yogyakarta pada 8 Desember 2018 pukul 14.00 WIB. Cek jadwal untuk mengetahui agenda selengkapnyadari FFD

 

Penulis: Annisa Rachmatika

Close Menu