Notes From The Fringe (2019): Menyaksikan Penggusuran dengan Pendekatan Etnografi Indrawi

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1993 telah mengeluarkan resolusi bahwa praktik penggusuran paksa merupakan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia, terutama hak atas tempat tinggal yang layak. Indonesia pun telah meratifikasi Konvensi Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya dengan Undang-Undang No.11 Tahun 2005 dan melindungi hak atas tempat tinggal dalam Undang-Undang Hak Asasi Manusia dalam Pasal 40. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia mengatur mengenai hak atas tempat tinggal dalam Pasal 28H ayat 1. Perlindungan hak atas tempat tinggal merupakan amanah konstitusi.

Peristiwa penggusuran paksa juga rentan dengan pelanggaran HAM lainnya. Misalnya menggunakan cara-cara kekerasan oleh aparat penegak hukum atau oknum militer terhadap warga ketika dilangsungkannya penggusuran, serta anak-anak yang tidak dapat bersekolah dalam waktu yang lama karena terpaksa harus mengikuti orang tuanya berpindah-pindah tempat tinggal. Pemerintah juga kerap kali tidak memberikan solusi yang proporsional terhadap pelanggaran-pelanggaran tersebut. Beberapa hal seperti lamanya waktu relokasi warga ke rumah susun, kualitas kehidupan yang tidak layak di rumah susun baru, hingga kompensasi yang tidak sesuai dengan nilai kerugian yang ditanggung warga tergusur. Penggusuran juga dapat berdampak kepada hilangnya mata pencaharian seseorang, apabila hunian yang digusur juga merupakan unit usaha dari warga tersebut.

Potret penggusuran dalam wajah yang berbeda coba ditawarkan Aryo Danusiri dalam film Notes From The Fringe (2019). Tidak ada ekskavator yang masih terus beraktivitas menghancurkan puing-puing bangunan. Tidak tampak konflik atau represi yang dilakukan oleh personel Satuan Polisi Pamong Praja, personel TNI, atau personel POLRI terhadap warga yang mempertahankan ruang hidupnya. Tidak terlihat isak tangis atau tatapan nelangsa dari warga terdampak penggusuran yang mampu membuat kita terenyuh.

Film yang terdiri dari dua channel yang diputar secara bersamaan ini merekam keseharian warga sebelum dan sesudah penggusuran. Proyeksi di sebelah kiri berlatar rumah seorang tukang daging di daerah kumuh tepi Sungai Ciliwung, Jakarta, selama musim hujan pada 2014. Adegan ini direkam hanya beberapa bulan sebelum sebuah penggusuran paksa besar-besaran dimulai sebagai bagian dari proyek mitigasi yang didanai Bank Dunia.

Banjir menjadi ajang bermain bagi anak-anak. Air yang keruh kecoklatan–yang mengandung berbagai bakteri serta virus yang mengundang penyakit–tidak menyurutkan semangat dan keceriaan anak-anak. Tidak banyak yang mereka pikirkan kecuali bermain, berenang menikmati air yang tergenang, memercikkan air ke sesama temannya, diiringi gurauan. Anak-anak yang belum memikirkan gejolak penataan saluran air kota yang tidak becus. Di tengah hiruk pikuk Jakarta dan ketiadaan “taman bermain” karena telah digusur paksa, apakah anak-anak itu bisa menemukan lahan bermain yang lain?

Proyeksi di sebelah kanan direkam satu bulan setelah penggusuran sporadis. Bunyi alat-alat bangunan beradu dengan reruntuhan bangunan. Warga berupaya mengumpulkan kerangka besi, semen, dan batu bata yang masih bisa dimanfaatkan. Nampaknya para warga masih bertahan di wilayah gusuran pasca rumah mereka diratakan, hingga pemerintah memberikan kompensasi yang sesuai atau memberikan beberapa solusi lain jika berdiskusi dengan warga secara setara.

Menariknya, ada sebuah grafiti yang setengah terkubur di reruntuhan bangunan yang bertuliskan, “Mungkin kami kalah, suatu saat pasti ….” Setiap penggusuran, rakyat melakukan perlawanan. Akan tetapi, penggusuran terhadap rumah, kios, toko, dan bangunan milik mereka tidak menyebabkan proses penggusuran dihentikan. Di sini tembok menjadi medium alternatif bagi warga guna mengekspresikan segala hal yang mereka rasa dan pikirkan. Selain itu, cara ini juga dapat digunakan sebagai wujud pemenuhan kebutuhan akan eksistensi diri maupun komunitas.

Notes From The Fringe (2019) menghadirkan persimpangan antara produksi audio-visual dan pendekatan etnografi indrawi guna menawarkan pemahaman realitas melalui indra. Ada kemungkinan pendekatan lain untuk memahami kehidupan dan kebudayaan masyarakat di berbagai tempat, tidak melulu secara verbal seperti testimoni dan voiceover yang lazim digunakan dalam film dokumenter konvensional.

Notes From The Fringe (2019) adalah satu dari lima karya yang ditampilkan dalam program Etnografi Indrawi: Saksi Mata. Film ini bisa dinikmati dalam bentuk pameran (ekshibisi) pada 2-7 Desember 2019 pukul 13.00 WIB hingga 21.00 WIB di Kedai Kebun Forum.

 

Penulis: Nizmi Nasution

Close Menu