Menelusuri Sejarah Keluarga dan Konstruksi Identitas dalam Optigraph (2017)

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Pernahkah kamu mencoba mencari tahu asal-usul keluargamu? Bukan hanya sekadar mengetahui silsilah atau keturunan, tapi juga menyelidiki riwayat keluarga dan bagaimana konstruksi identitas bekerja. Bahwa keluarga sesungguhnya menyimpan teka-teki dan puzzle misterius. Bagaimana rekam jejak satu atau beberapa anggota keluarga ternyata memengaruhi sejarah bangsa dan negara. Bagaimana penelusuran terhadap sejarah keluarga membuatmu jadi memikirkan situasi yang pernah dan sedang terjadi di daerah yang kamu tempati.

Itulah yang dilakukan Lee Wonwoo dalam film Optigraph (2017). Wonwoo, pembuat sekaligus subjek utama film yang telah 24 tahun tinggal di Amerika Serikat, mencoba menelusuri peristiwa sejarah di kampung halamannya pasca kematian sang kakek, Baek-su. Kakeknya dikenal sebagai individu yang baik hati, ramah, dan sederhana. Setelah pesta ulang tahun Kakek Baek-su ke-99, Wonwoo diminta sang kakek untuk menulis biografinya. Dua tahun kemudian, kakek meninggal dan Wonwoo belum berhasil menyelesaikan permintaan kakek.

Setelah pemakaman, Wonwoo menelusuri nama kakek. Betapa terkejutnya, bahwa nama sang kakek tercantum sebagai Sekretaris Keamanan Dalam Negeri (saat ini adalah Kepala Kepolisian Nasional) pada awal Perang Korea dan terlibat sebagai agen Office of Strategic Services (OSS), dinas intelijen khusus Amerika Serikat yang dibentuk saat Perang Dunia II dan menjadi cikal bakal pembentukan Central Intelligence Agency (CIA) di Amerika Serikat.

Penelusuran Wonwoo tentang riwayat kakek membawanya ke berbagai negara; Myanmar, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Gangwon (Korea Selatan). Tantangan demi tantangan pun dilalui Wonwoo dengan gigih. Mulai dari ditipu oleh penukar uang di pasar gelap Myanmar, kendala bahasa di katedral Chongqing, Tiongkok–tempat kakek dahulu menyadap sakramen penebusan dosa yang sedang dalam perbaikan, nihilnya jejak kakek di Provisional Government of the Republic of Korea di Tiongkok, serta kesulitan menemukan arsip yang sudah diverifikasi–terkait tahap awal Perang Korea di The U.S. National Archives and Records Administration (NARA). Bagaimana arsip-arsip dihancurkan, disembunyikan, dan dimanipulasi sedemikian rupa oleh negara, untuk membatasi akses warga terhadap informasi publik. Semuanya dengan dalih karena dapat menghambat proses penegakan hukum, serta membahayakan pertahanan, keamanan, dan kekayaan negara.

FFD 2019 - Optigraph

Perjalanan Wonwoo sebagai pembuat film juga dikisahkan dalam film ini. Mengisahkan Wonwoo yang sering menghadiri aksi berkabung di jalanan, yang tidak ada hubungannya dengan hidupnya. Bahwa pada kenyataannya, polisi kerap kali melakukan kekerasan kepada massa aksi, sekalipun aksi dilakukan dengan sopan dan damai. Aparat kepolisian pun tidak bertanggungjawab atas ulahnya yang beberapa kali telah menewaskan warga sipil.

Selain itu, Wonwoo juga pernah mengalami kekerasan saat mengikuti hari penyalaan lilin terbesar di Korea Selatan, 2008 silam. Wonwoo dan rekannya yang sedang melukis bendera untuk proyek pembuatan film dipukul, didorong, diusir, dimaki, dan peralatan mereka dicoba dirampas oleh sekumpulan orang asing. Namun, polisi yang berjaga di sana, yang diharapkan mampu menjaga ketertiban dan keamanan serta melindungi warga sipil, justru tidak mengacuhkan laporan Wonwoo.

Makna penting sebuah monumen diungkapkan dalam film berdurasi 104 menit ini. Ada Korean War Veterans Memorial di Washington DC, Maryland Korean War Memorial di Baltimore, Ground Zero di New York, dan Massacre Valley di Gangwon, Korea Selatan. Tujuan pembuatan monumen sulit dilepaskan dari kontroversi dan kepentingan. Pentingnya monumen dalam pembentukan sebuah negara tidak dapat dilepaskan dari konsep ingatan kolektif, mythscape (perpanjangan ruang dan waktu di mana mitos-mitos bangsa ditempa, ditransmisikan, dinegosiasikan, dan direkonstruksi terus-menerus), dan nasionalisme. Bahwa monumen dan bangunan yang didirikan setelah perang mewakili perwujudan dari narasi dominan untuk menciptakan, memperkuat, dan memelihara kesadaran nasional.

Optigraph (2017) merupakan salah satu film dalam program Focus On South Korea: Remapping South Korean Women Directors yang akan diputar pada 4 Desember 2019 pukul 19.00 WIB di Amphitheatre TBY. Silakan melihat  agenda lengkap FFD 2019 di jadwal.

Penulis: Nizmi Nasution

Close Menu