Why do you love me
So sweet and tenderly
I’ll do everything
To make you happy
— Why Do You Love Me? (Koes Plus, 1972)
Ketika aku masih kecil, kira-kira usia TK sampai jenjang awal SD, suara Yok Koeswoyo yang sember mendayu itu sering memenuhi ruang keluarga, setiap pagi di akhir pekan. Selain “Why Do You Love Me?”, lirik yang masih membekas dan terus berputar seperti kaset di ruang ingatanku adalah “Diana”. Karena judulnya sama dengan nama teman sebangkuku ketika SMP, yang pada suatu hari–hingga lulus–enggan duduk di sampingku lagi, entah kenapa. Diana, Diana, kekasihku…

Hilmar Farid, mengutip (dan merangkum dari) H.B. Jassin, bilang begini: apa yang Pujangga Baru butuh 200 halaman untuk mengucap, Chairil Anwar bisa jadi dua kalimat; dan di musik pop pada masanya, Koes Plus punya efek serupa. Singkat, padat, plus menyengat menembus telinga lintas generasi. Lagu-lagu Koes Plus tetap hidup hingga kini. Karena, kurasa, selain berhasil menjadi pemandu nostalgia, mereka juga punya kekuatan eksplosif untuk memantik dan meledakkan riak-riak emosi yang dalam sekaligus universal.
“Boleh, tapi sekarang. Besok aku belum tentu ada,” begitu kaya Yok ketika Sutradara Linda Ochy meminta izin hendak merekamnya, seperti yang dilansir dari liputan di salah satu media. Koesroyo: The Last Man Standing (2024) merupakan surat cinta Sari Koeswoyo kepada sang ayah. Sari ingin mengabadikan sosok Yok di balik sorot lampu panggung dan seruan penggemarnya yang menamai diri mereka Jiwa Nusantara. Montase perjalanan Yok bersama Koes Plus dijahit melalui arsip foto, kliping koran, dan cuplikan video ketika mereka beraksi di atas panggung. Kamera bergerak retrospektif untuk mengonstruksi dan merefleksikan relasi Yok dengan—terutama tapi tidak terbatas pada—musik.

Musik sebagai profesi yang sekaligus berkelindan dengan laku syukurnya sehari-hari. Musik menjadi cara Yok merawat ingatan, memeluk kehilangan, mendoakan bangsa, dan mengucap terima kasih pada kehidupan dan Sang Pencipta. Setelah credit title, jariku langsung tergerak untuk membuka aplikasi pemutar musik dan mencari lagu-lagu Koes Plus. Seperti masuk ke lorong waktu, aku kembali terlempar ke masa itu. Masa kecil, di akhir pekan, di ruang keluarga dengan pengeras suara yang melantunkan lagu “Why Do You Love Me?”. Barangkali, film ini adalah gerbang yang dapat kita masuki untuk menyelami masa lalu sembari merayakannya bersama-sama. Masa legendaris Yok, the last man standing. (Hesty N. Tyas) (Ed. Vanis)
Detail Film
Koesroyo: The Last Man Standing
Linda Ochy | 61 min | 2024 | DKI Jakarta
Berkompetisi dalam program Kompetisi Panjang Indonesia
Festival Film Dokumenter 2025



