Mengikuti perempuan 22 tahun, Elizabeth de Victoria, saat sedang mempersiapkan penampilan debutnya, Babylonia (2024) menyorot sepintas ke balik layar yang sibuk dari pertunjukan drag terbesar di provinsi Artemisa, Kuba. Dalam satu malam yang panas, film ini mengeksplorasi persaudarian drag, pertunjukan, dan kekacauannya.
Kisah dokumenter ini berpusat pada perspektif Elizabeth yang memperlihatkan pengalaman dan kecemasannya. Di tengah hiruk pikuk ruang ganti belakang panggung, kejamnya para drag queen senior terhadap Elizabeth terasa jelas: ketidakramahan, ketegasan, dan ledekan tajam. Selintas, tampak ada semacam hostilitas dalam cara para drag queen lain memperlakukannya. Mengapa demikian?
Ketika tubuh dan penampilan gender seseorang menjadi medium seni mereka, ketidakpastian pun menjelma sebagai bagian dari diri.

Drag adalah budaya yang terbentuk melalui perjuangan, lahir dari kebutuhan untuk berekspresi. Secara historis, drag telah menjadi bentuk perlawanan terhadap kekerasan, pelecehan, dan mekanisme eksklusi. Pertunjukan drag dan ballroom, karenanya, menyediakan platform bagi kelompok queer dan trans untuk menemukan sesama, penerimaan diri, dan ketangguhan. Sebagai budaya yang berada di pinggiran, para queen senior harus berjuang untuk bertahan hidup, tampil, dan dihormati di tengah hostilitas cis-heteronormatif, bahkan ketika drag semakin populer di budaya arus utama (misalnya, dengan RuPaul’s). Keberanian mereka, maka, menjadi cara hidup mereka: sebagai perisai dan sebagai pedagogi.
Para sesepuh dalam dunia drag sering membaca* dan saling melempar sindiran untuk melihat apakah mereka bisa menguasai panggung dan menjadi lebih tangguh. Melalui ketegasan yang harus diatasi oleh pendatang baru dalam drag, mereka juga harus menghormati garis keturunan dan mempelajari “herstory” (sejarah diri). Yang paling penting, “ketidakramahan” terhadap pendatang baru berfungsi sebagai bentuk penjagaan gerbang, untuk memastikan bahwa seseorang serius tentang bentuk seni ini; mencegah eksploitasi dan pengambilan alih oleh pencari ketenaran dan pemangsa budaya. Hostilitas, kemudian, berubah menjadi ritual peralihan menuju tata nilai, sejarah, dan disiplin yang menopang drag sebagai bentuk seni.

Dalam satu adegan, Elizabeth meminta lem kuku kepada seniornya karena dia lupa membawa. Seniornya menjawab dengan tegas: “Ketika kamu pergi ke suatu tempat untuk pertama kalinya, […] kamu harus membawa barangmu sendiri, oke?” […] Kita semua tahu kamu baru, tapi kamu harus belajar.” Di balik setiap kritik yang tajam, tersembunyi bentuk cinta yang menyakitkan—karena dibutuhkan banyak luka tempur untuk menjadi pejuang yang baik. (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)
*Diterjemahkan dari kata “read”, adalah istilah dalam dunia drag yang merujuk pada praktik umum di kalangan drag queen untuk “menghadapi seseorang dengan bahasa yang cerdas dan kreatif yang bertujuan untuk merendahkan atau menghina seseorang” (Jones, 2007)
Detail Film
Babylonia (Babilonia)
Duda Gambogi | 23 min | 2024 | Brasil, Kuba
Berkompetisi dalam program Kompetisi Pendek
Festival Film Dokumenter 2025



