Pada Selasa malam (25/11), di Kedai Kebun Forum, A Land With No Ceremony (Bichun Yang, 2024) diputar sebagai bagian dari program Kompetisi Panjang Internasional FFD 2025. Dokumenter berdurasi 94 menit ini menuturkan kisah seorang violinis yang kembali ke Hong Kong pada 2020, ketika aturan pandemi mulai longgar. Kemudian, peristiwa tak terduga terjadi; kepergian sang nenek. Peristiwa ini kemudian menjadi poros naratif dalam film yang memberi kesatuan makna pada cerita. Membentang lebih jauh dari dokumentasi keluarga, film ini menjadi medium eksploratif untuk memaknai ulang seremoni, kematian, dan cara hidup sehari-hari di dalam struktur sosial modern yang kompleks.
Bichun Yang (akrab disapa Ricky) bermain-main di tapal batas fiksi dan nonfiksi. Di satu sisi, filmnya terasa begitu personal dan intim sehingga jarak antara kamera dengan subjek di depannya terasa kabur bahkan lebur. Di sisi lain, gestur-gestur pengambilan gambar dalam film terasa terkonstruksi dengan begitu rapi dan teradegankan dengan presisi. Ini pun menjadi pertanyaan tersendiri dari penonton. Menanggapinya, Ricky membagikan proses yang terjadi semasa produksi. Di balik kamera, ia dibantu oleh istrinya yang duduk sebagai sinematografer. Mereka melakukan gladi berkali-kali untuk mencari dan menentukan angle pengambilan gambar yang pas. “We just put the camera there. Silent angle. Then, we do our work in front of the camera. We really did what we did in the film.” (Kami menempatkan kamera begitu saja di sana. Angle yang senyap. Kemudian, kami menjalankan tugas kami di depan kamera. Kami benar-benar melakukan apa yang kami lakukan dalam film). Perihal fiksi dan nonfiksi, Ricky tidak ingin secara partikular mengategorisasikan filmnya ke satu jenis. Menurutnya, itu sesuatu yang tidak perlu.

A Land With No Ceremony beroperasi sebagai medium dialektika. Tanpa menyederhanakan tragedi keluarga menjadi kesedihan, film ini turut memperlihatkan bagaimana struktur sosial, kultural, dan ekonomi ikut membentuk cara seseorang memproses duka. “It’s actually by accident (Sebenarnya, ini adalah suatu ketidaksengajaan) ,” ungkap Ricky. Mulanya, ia hanya merekam rutinitas, termasuk momen-momen bersama neneknya. Ketika sang nenek wafat, kamera justru menjadi tumpuan: sebuah medium untuk memproses dan memaknai kehilangan. Namun, Ricky menolak membingkainya sebagai film duka. Baginya, film ini adalah penyadaran bahwa menuju dan menghadapi kematian adalah bagian dari proses kehidupan itu sendiri. “The fIlm is to remind myself and people that memorizing death is important.” (Film ini adalah pengingat bagi diri saya dan orang lain bahwa mengingat kematian adalah sesuatu yang penting).
Penonton lain mempertanyakan cara Ricky meyakinkan keluarganya agar berkenan berpartisipasi sebagai protagonis di dalam film. Ricky mengaku, sempat terjadi ketegangan-ketegangan tertentu selama produksi filmnya. Terlebih, bapaknya pada awalnya mengaku tidak mau direkam karena perekaman rasanya seperti pengadeganan; acting belaka. Namun, setelah menyaksikan cara Ricky merekam momen-momen terakhir mereka bersama sang nenek, barulah keluarganya mulai memahami apa yang Ricky lakukan dengan kameranya. Di titik ini, film berubah fungsi dari dokumentasi menjadi mediasi; jembatan antara Ricky dan keluarganya yang semula tidak memahami dunia sinema.

Adegan lain yang dibahas dalam diskusi adalah pengambilan gambar di adegan menuju ending; adegan yang menyoroti orang-orang lanjut usia duduk di bangku-bangku taman kota, menghabiskan waktu bersama keluarga, membiarkan sore berlalu tanpa urgensi apa pun. Ricky menyebut adegan itu sebagai representasi hari Minggu yang biasa; tidak simbolik dalam arti konvensional, tetapi sarat konteks. Ia ingin menutup film dengan suasana yang tenang tetapi tidak sentimental. Melalui adegan komunal itu, Ricky juga ingin mengatakan bahwa peristiwa yang dialami keluarganya mungkin juga dialami oleh keluarga lain; sesuatu yang unik sekaligus universal. Kematian demi kematian pasti datang.
Lantas, apa arti “ceremony” itu sendiri bagi Ricky? Baginya, seremoni adalah cara(-cara) untuk mengingat; peristiwa demi peristiwa yang hadir tanpa bisa ditampik dalam hidup ini. Dengan begitu, film ini pun dengan sendirinya sudah menjadi seremoni.
Pada akhirnya, A Land With No Ceremony memperlihatkan sekaligus menawarkan gagasan bahwa seremoni tidak selalu hadir dalam bentuk-bentuk pakem seremonial. Ia eksis dalam tindakan sehari-hari. Dalam dunia yang semakin terobsesi pada kecepatan dan performativitas, film ini menawarkan kedekatan, perhatian, dan kebersamaan yang penuh makna. Dalam ketidakteraturannya, kehidupan menyediakan ruang bagi seremoni yang lahir dari tubuh dan relasi. Bagi banyak penonton yang hadir menyaksikan film Ricky malam itu, dokumenter ini bukan hanya sebuah karya personal dari seorang pembuat film. Ia adalah pertemuan sekaligus perenungan kolektif tentang cara manusia mengingat, merawat, dan bertahan. Bahwa tidak ada seremoni hari ini bukan berarti tidak ada penghormatan. Justru sebaliknya: seremoni itu berlangsung dalam keseharian yang terus kita jalani.

Resonansi film ini tidak berhenti pada credit title dan dalam ruang pemutaran saja. Usai sesi diskusi, beberapa penonton mendatangi Ricky untuk menyampaikan terima kasih secara langsung—sebuah gestur yang sederhana tetapi menunjukkan bagaimana film ini bekerja sebagai ruang dialektik yang aman bagi mereka yang pernah mengalami kehilangan. Meskipun narasi film berangkat dari konteks keluarga di Hong Kong, pengalaman berduka yang ia tawarkan tidak bersifat partikular; ia menemukan titik-temu dengan latar penonton yang berbeda negara, budaya, dan bahasa.
Film ini memperlihatkan bagaimana dampak dokumenter dapat membentang melewati batas-batas multidimensi; bahasa, budaya, geografi. Bahwa yang personal tidak menutup kemungkinan bagi yang universal; bahwa pengalaman kehilangan yang begitu personal dapat menjadi tempat pertemuan bagi banyak kehidupan lain. (Hesty N. Tyas, 25/11/2025 [Ed. Vanis])


