Film, Masyarakat, dan Narasi Kota dalam Festival Film 

— Berita
FFD 2025

Tidak ada satu pun festival film yang bekerja dalam kekosongan. Itulah atmosfer yang terasa sejak menit pertama kelas panel Curatorship & Context: Film, Audience, and City Narrative yang dilaksanakan di Pascasarjana ISI Yogyakarta (27/11). Dipandu oleh Thomas Barker, kelas ini menghadirkan dua figur penting dalam jaringan festival dokumenter Asia: Jinna Lee dari Ulsan Ulju Mountain Film Festival (UUMFF) dan Taichi Ishikawa dari Yamagata International Documentary Film Festival (YIDFF). Di depan peserta yang memenuhi ruangan, keduanya membedah strategi kuratorial festival yang beriringan dengan bagaimana masyarakat memahami lanskap budaya, lingkungan, dan hubungan antarwilayah.

Thomas membuka panel dengan menyatakan bahwa topik ini sulit dipisahkan dari konteks geopolitik Asia. Festival film dokumenter kian menjadi ruang pertarungan gagasan, baik tentang ekologi, identitas budaya, maupun representasi ruang yang jarang terlihat dalam sinema arus utama. Pertanyaan dasarnya sederhana tapi penting: bagaimana festival membangun hubungan antara film dan penonton, antara daerah dan dunia, antara lokalitas dan globalitas tanpa kehilangan kedalaman konteksnya.

Jinna Lee menjadi pembicara pertama yang memaparkan perspektif kuratorial dari UUMFF, sebuah festival yang tumbuh dari gagasan tentang pegunungan sebagai lanskap pengetahuan dan pengalaman hidup. Ia menjelaskan bahwa alih-alih sebagai latar visual, UUMFF justru memosisikan “gunung” sebagai hubungan antara manusia dan lingkungannya. Menurut Jinna, film-film dalam festivalnya dipilih bukan berdasarkan dramatisasi petualangan atau estetika ekstrem, melainkan cara film mengajukan pertanyaan ekologis: bagaimana manusia memahami alam, tinggal di dalamnya, merawatnya, atau menghancurkannya.

Ia menyebut bahwa “mountain film” (film [tentang] gunung) yang dikurasi UUMFF merepresentasikan relasi. Banyak film yang berasal dari komunitas yang hidup di daerah pegunungan—dengan budaya, kepercayaan, dan sistem pengetahuan yang kerap luput dari sorotan sinema arus utama. Dengan demikian, strategi kurasi UUMFF tidak hanya mempromosikan “isu lingkungan”, tetapi juga memberi ruang untuk memaknai kembali tubuh, kerja, ritual, serta kontinuitas kehidupan dalam lanskap alam yang rapuh. Jinna menekankan bahwa festival adalah ruang untuk menyusun ulang cara kita melihat alam tanpa memisahkannya dari manusia yang hidup bersamanya.

Sementara Jinna mewakili festival yang lahir dari lanskap ekologis, Taichi Ishikawa memaparkan bahwa YIDFF hadir sebagai ruang pertemuan tradisi film dokumenter Asia sejak akhir 1980-an. YIDFF berkembang sebagai tempat bertemunya komunitas pembuat film yang membawa sejarahnya masing-masing. Dalam perspektifnya, film dokumenter bukan sekadar produk estetika semata, tetapi bentuk ingatan kolektif. Ketika festival memilih film, mereka juga memilih arsip sosial yang dibawa oleh film itu. Taichi menyoroti bagaimana YIDFF berperan sebagai ruang yang mendengarkan. Bagi YIDFF, kerja kuratorial mereka adalah praktik untuk memastikan bahwa film tetap berakar pada konteks asalnya sambil bergema secara internasional. Taichi menyebut bahwa hubungan antara festival dan pembuat film bersifat jangka panjang. Karena setelah film diputar, ia menemukan kehidupannya di luar layar melalui pertemuan, percakapan, dan kolaborasi.

Di pertengahan sesi, diskusi mulai menunjukkan titik temu gagasan antara keduanya. Meskipun datang dari latar geografis dan estetika yang berbeda, Jinna dan Taichi sama-sama menolak kuratorial yang mengabstraksi realitas. Jinna menolak cerita alam yang estetis tetapi menanggalkan sisi humanis, sedangkan Taichi menolak festival internasional yang mengangkat isu lokal tetapi mensterilkan sejarah sosialnya. Keduanya meyakini bahwa festival harus bekerja sebagai ruang yang etis. Film tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas geografi atau identitas. Pemrograman atau kuratorial yang bertanggung jawab harus mempertimbangkan bagaimana komunitas asal film direpresentasikan dan bagaimana film dipertemukan dengan audiens baru.

Percakapan masuk ke wilayah jaringan internasional ketika seorang peserta menanyakan bagaimana festival Asia bekerja sama di tengah dinamika pendanaan dan kompetisi internasional. Taichi menjelaskan bahwa kolaborasi antarfestival bukan kompetisi tersembunyi, tetapi kerja saling menguatkan. YIDFF bekerja dengan festival di Asia Tenggara, Jepang, Taiwan, dan Korea untuk memastikan bahwa karya penting dari wilayah ini tidak tenggelam dalam algoritma distribusi global. Jaringan yang terbentuk adalah sebuah mekanisme solidaritas. Jinna menambahkan bahwa festival pegunungan seperti UUMFF bekerja dengan jaringan lingkungan hidup dan organisasi masyarakat untuk memperluas fungsi festival. Dalam konteks tersebut, film menjalankan perannya sebagai pengalaman pendidikan dari dalam komunitas itu sendiri.

Dalam sesi tanya-jawab, Thomas membawa percakapan ke ranah reflektif. Ia bertanya bagaimana kurator atau pengelola program dapat menjaga keseimbangan antara visi program festival dan kebutuhan industri film independen yang terus berubah. Taichi menjawab bahwa festival tidak boleh mengambil alih arah film; tugas festival bukan membentuk gaya sinema, tetapi menyediakan ruang agar keberagaman gaya tetap hidup. Sementara itu, Jinna berpendapat bahwa festival juga harus menjaga empatinya. Dalam film tentang komunitas atau alam, estetika tidak boleh menghapus kenyataan hidup komunitas yang menjadi subjek film. (Vanis, 27/112025)