Huaqueo adalah praktik menggali makam untuk menemukan artefak pra-Kolumbus. Orang-orang yang melakukannya disebut (para) huaquero. Kedua kata ini berasal dari kata huaca, yang berasal dari bahasa Quechua dan Aymara, yang berarti “tempat atau benda suci”. Selama Invasi Spanyol, penduduk asli Abya Yala dipaksa untuk membongkar makam nenek moyang mereka, menghancurkan Huacas tersebut—untuk menghilangkan “penyembahan berhala” atas nama modernitas. Tragedi ini melahirkan huaqueros, yang awalnya digunakan untuk menghancurkan sejarah lokal secara paksa, kini merujuk pada pencuri rahasia yang sering menjual temuan mereka ke museum, kolektor pribadi, dan pihak lain yang bersedia membelinya.

Huaquero (Juan Carlos Donoso Gómez, 2024) adalah reenactment yang menunjukkan bagaimana para penggali kubur ini mempraktikkan Huaqueo. Alih-alih mengutuk para penggali kubur tersebut atas nama arkeologi modern, kita melihat mereka melakukannya karena keterpaksaan, karena sebagian besar dari mereka datang dari kondisi kekurangan. Tindakan menggali, memodifikasi, dan bahkan memalsukan artefak ditampilkan dengan tempo yang hati-hati, memastikan penonton memahami betapa melelahkannya proses tersebut. Kita juga melihat para penggali berusaha menjual temuan mereka; yang seringkali ditanggapi dengan curiga apakah artefak tersebut asli atau tidak, dan lebih sering lagi, disertai dengan tawaran harga yang rendah untuk artefak tersebut. Dibuat dalam 16mm, kita merasakan grain film yang menghadirkan nuansa arsip zaman dulu—yang juga membantu narasinya saat mencoba mendekonstruksi persepsi kita tentang para huaqueros.
Seiring Huaquero secara sensitif merekonstruksi praktik-praktik yang dipandang rendah oleh modernitas dan pemerintah mereka, keraguan terhadap modernitas tersebut mulai muncul dari pembacaan dekolonial baru yang disajikan oleh dokumenter ini. Praktik huaqueo, lebih sering daripada tidak, dianggap sebagai cara yang keliru untuk menerapkan praktik arkeologi yang benar. Namun, bagaimana hal itu bisa benar ketika arkeologi modern telah mengabaikan unsur “tradisional” dalam praktiknya? Sepanjang dokumenter, kita melihat para huaqueros mengunyah daun koka dan merokok sambil menggali artefak yang terkubur. Hal ini, yang tidak diketahui oleh “modern”, merupakan protokol dan bahkan tindakan seremonial.

“Mereka biasanya menggali dengan ‘cigarro al oído’, ungkapan yang merujuk pada kebiasaan menelan asap dan mendekatkan rokok ke telinga untuk mendengarkan suara yang dihasilkannya. […] Secara umum, ketika rokok mengeluarkan suara kriuk, itu pertanda tempat yang dipilih baik untuk menggali, tetapi jika mulai bersiul, itu pertanda sial; misalnya, lubang bisa runtuh atau polisi datang. […] Ketika mereka memasukkan daun koka ke mulut dan mulai mengunyahnya, daun tersebut mungkin berubah menjadi bola manis dan padat seperti “karamel”, yang berarti pertanda baik. Namun, jika daun menjadi pahit dan berpasir, itu pertanda bahwa lokasi yang dipilih tidak baik dan tidak akan ada yang ditemukan di sana.”
— Débora L Soares, dalam artikel “Working with huacos” (2021)
Ketika para huaqueros tahu bahwa di mata negara, apa yang mereka lakukan dianggap sebagai kejahatan, mereka meminta Huaca untuk memberi mereka sesuatu untuk menghidupi keluarga mereka. Hal inilah yang gagal diakui oleh arkeologi modern; bahwa episteme yang membangunnya telah mengabaikan dunia di mana artefak-artefak ini berada: arkeologis, sebagai bukti material warisan; kuno, sebagai aktor ritual dalam kosmogoni pra-Hispanik; dan kontemporer, karena huaqueros berinteraksi dengan mereka sebagai entitas hidup yang memiliki agensi. Kerangka pemikiran modern yang cacat menyederhanakan makna “situs arkeologi” menjadi sekadar tempat. Padahal, pada kenyataannya, Huacas merupakan entitas hidup yang tinggal di bawah tanah. Dalam hal ini, huaqueros tidak hanya hadir sebagai “pencuri”, tetapi sebagai individu yang harus memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus untuk menggali dan memediasi hubungan antardunia yang berbeda.

Seiring kemajuan kita dengan epistemologi yang dibangun atas ketidakpedulian modernitas, barangkali “ilmu” dan “keyakinan”; “subjek” dan “objek”; atau bahkan “masa lalu” dan “masa kini” tidak berfungsi sebagai lawan biner, melainkan sebagai entitas yang berkelindan. Kita akan bernegosiasi dengan dunia dan realitas yang berbeda, ontologi yang berbeda—sebab bagaimana kita bisa begitu yakin bahwa benda-benda ini tidak berbicara, padahal sebenarnya kita yang tak bisa mendengarnya? (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)
Detail Film
Huaquero
Juan Carlos Donoso Gómez | 81 min | 2024 | Ekuador, Peru, Romania
Berkompetisi dalam program Kompetisi Panjang Internasional
Festival Film Dokumenter 2025



