
Politik Estetika Setelah Screenlife dan Desktop Documentary
Proses representasi dari kenyataan fisik mempertanyakan cara pergeseran mendasar mengenai relasi kita dengan kenyataan, realitas tidak lagi dihadirkan di depan kamera melainkan yang direpresentasikan di dalam layar. Film-film pasca-optikal atau pasca-sinematik terkini yang tampaknya meninggalkan proses “pemindahan realitas dari benda ke reproduksinya” (André Bazin) memantik diskursus bagaimana peran representasi dan politik. Dokumenter pasca optical tidak lagi berupaya mempresentasikan realitas.
Sesi ini berupaya merumuskan dan memproses pertanyaan-pertanyaan tentang representasi dan politik yang memperoleh relevansi baru setelah kemunculan screenlife dan dokumenter desktop, dengan merujuk pada refleksi Jacques Rancière tentang politik estetika, serta tesisnya bahwa yang membedakan film dokumenter dengan film fiksi bahwa, “Tidak memperlakukan yang nyata sebagai efek yang harus diproduksi, melainkan sebagai fakta yang harus dipahami.”
Bahasa pengantar
Bahasa Indonesia, English
Pembicara
Afrian Purnama (Kritikus, Periset Seni)
Min Seong Kim (Pengajar, Periset)
Moderator
Valencia Winata
Mitra
Fakultas Ilmu Religi dan Budaya, Univ. Sanata Dharma
Agenda lain
- DetailSabtu, 21 Nov 26, 13:00 WIB(1h 20min)Pascasarjana ISI Yogyakarta, Ruang Galeri

- Detail
- Maintain Speed and Heading
- Offside
- The Table
- Tutu Teno: The Song for the Bees
Rabu, 25 Nov 26, 19:00 WIB(1h 47min)Pascasarjana ISI Yogyakarta, Ruang Galeri
- Detail
- Rainy Day Mother
- The Other Spring
- Retrograde
- A Small Alley Dreams of Us
Sabtu, 21 Nov 26, 15:00 WIB(2h 3min)Pascasarjana ISI Yogyakarta, Ruang Galeri