Seri Apa Kabar Indonesia? #3: Dinamika Masyarakat Kita

— Berita
FFD 2013

Pada 17 Oktober 2013 di pinggir bantaran sungai di dusun Gesik, Bantul sebuah layar berdiri, melengkapi karpet spons yang terjejer di depannya. Sedikit demi sedikit warga mulai berdatangan menyambangi karpet yang telah disediakan sebelumnya. Tak kurang dari 15 orang tiba menanti sajian film yang akan dihidangkan malam ini.

Sebelum pemutaran dimulai, salah seorang warga yang bernama Pak Yos yang juga pemilik halaman yang menjadi lokasi pemutaran, membuka acara dengan memberikan pengantar. Bekerja sebagai tour guide, Pak Yos menceritakan kondisi kampungnya yang ternyata sudah banyak dikunjungi wisatawan dari luar, bahkan menjadikan desa Bangunjiwo sebagai kediaman mereka di Yogyakarta. Perkenalannya dengan froghouse juga menjadi pemacu Pak Yos untuk turut membina kampungnya lewat beragam medium, salah satunya adalah pemutaran film.

Film pertama yang disuguhkan dalam acara ini berjudul “4L@Y: According to Alay”. Film yang ‘meriah’ ini segera disambut dengan berbagai celetukan komentar yang mewarnai jalannya film dari awal hingga selesai. Testimoni wawancara serta interaksi narasumber yang terekam acapkali mengundang senyum bahkan canda dari penonton. Belum lagi ketika dalam insert film ditunjukkan beberapa slideshow foto-foto alay dengan beragam pose dan gaya berpakaian warna-warni. Begitu pemutaran selesai, penonton mulai berkomentar. Salah satu perempuan berkomentar ketika ditanya karakter orang alay, “Kalau alay itu sering lihatnya dari gaya bicaranya, seperti contohnya itu ‘ih lama beudh’ atau ‘ea’”. Candra, anak muda setempat yang juga bergiat di Froghouse melanjutkan, “Saya suka film ini. Saya juga pernah ketemu orang alay. Ya sebenarnya kalau bicara karakter saya lebih kembali ke orangnya sendiri sih, mungkin dia yang ngerasain”. “Kalau ngomongin soal alay, di Jerman itu juga ada. Tapi benar apa yang diungkap di bagian terakhir dalam film, bahwa alay itu di tiap generasi itu ada. Tapi menurut saya, kalau fenomena itu nggak hilang-hilang waktu orang itu tumbuh dewasa itu yang aneh ya. Anehnya itu kadang ga lucu dan kadang negatif, ya”, ungkap Bu Riyanto, seorang warga Jerman yang menikah dengan orang Indonesia dan menetap di Bantul. “Kalau menurut saya sih, rajanya alay itu ya yang duduk di senayan itu”, seloroh Pak Yos, yang segera direspon gelak tawa dari penonton lain.

Tak lama berselang, film kedua karya Iskandar Tri Gunawan pun mulai diputar. Sayangnya, begitu melihat scene dimana tikus mulai ditangkap dan dibunuh, Bu Riyanto bersama anaknya yang masih balita mengundurkan diri dari acara. Pak Yos mengungkapkan, bahwa untuk kawan-kawan dari luar Indonesia yang tinggal disini sangat keras menerapkan ajaran untuk tidak menyakiti binatang kepada anaknya. Kepergian ini nyatanya tidak menganggu penonton yang lain, yang justru kerap tertawa ketika menonton polah kakek-kakek petani yang terlibat dalam kejar-mengejar tikus layaknya maling. Tikus yang lincah ini pun membuat kepayahan si kakek yang akhirnya menyerah dan membiarkan tikus pergi. Tawa penonton juga tersumbar ketika dalam satu scene ada penjaja obat tradisional yang berpakaian layaknya orang Asmat namun ternyata berbicara menggunakan bahasa Jawa dengan logat mirip orang Madura.

Pak Yos mengawal diskusi dengan berbagi pengalaman beliau yang menkomparasikan peristiwa di Kulon Progo. “Di Sleman juga banyak yang mengeluhkan hal serupa tapi dibarengi dengan penangkapan ular. Saya sendiri juga bertani, tapi masih belajar. Kita mencoba organik, tapi di daerah Muntilan. Itu untungnya kita belum ada… Mungkin belum ya ngonangi (menemukan) tikus, tapi kita kemarin yang banyak itu belalang sama burung. Kita juga belajar untuk tidak pakai semprot (pakai pestisida), karena kalau gitu hamanya mati, karena itu juga makanan untuk predator yang lain. Saya belajar dari kelompok tani yang disana, itu ternyata satu hektar sawah itu disemprot pakai satu kilo bawang merah, satu kilo bawang putih, sama setengah kilo cabe rawit, digerus (ditumbuk), lalu airnya itu yang buat semprot. Itu belalangnya ga mati, tapi pergi”. Pak Yos juga cerita kalau awalnya beliau ikut bertani karena kegelisahannya sewaktu kecil. “Kakek saya dulu itu kalau mau panen, pasti sambat (cerita) ke tetangga, dan tetangga itu langsung nggruduk (kumpul-bergotong royong). Sementara sekarang kalau panen sudah ada tim yang bisa disewa untuk memanen”.

Selain Pak Yos, Mas Kates juga memberi pendapat akan “Perampok Ulung” ini. “Film ini menyadarkan saya bahwa petani itu sudah berjuang semaksimal mungkin untuk mencegah adanya hama. Dan ini, saya ga tahu kalau disini, tapi di Giwangan di kampung saya itu kesadarannya agak kurang. Masyarakatnya sudah pada cuek ketika ada tetangga mengeluh soal tikus. Untungnya di keluarga saya berbeda, kalau ada tikus masuk rumah itu pasti mati. Kalau kesadaran ini merata di masyarakat, saya yakin tidak ada masalah hama tikus lagi”. Candra pun menimpali, “Itu kenapa mas kepedulian masyarakatnya bisa kurang seperti itu? Kalau di film ini kita melihat ada ritual disana yang bisa buat masyarakat mau membasmi bersama. Kalau di tempat Mas Kates gimana?”. “Oh ya, itu mungkin karena di tempat saya itu tidak ada pertemuan formal seperti yang di film itu, dan semua keluhan cuma berhenti sampai di tetangga aja”. Pak Yos pun kembali urun bicara, “Tadi di akhir film juga saya melihat sudah ada lagi yang tumbuh-tumbuh, bisa jadi ke depan akan ada tantangan-tantangan baru lagi”. Kata-kata pak Yos pun mengakhiri diskusi film, meski setelahnya acara dilanjut dengan diskusi bebas.

Data Teknis Film

4L@Y: According to Alay | Candra Aditya | 2011 | 9 menit
Perampok Ulung | Iskandar Tri Gunawan | 2009 | 84 menit