Seri Apa Kabar Indonesia? #2: Iklim, Tanah, dan Dunia Sekitar Kita

— Berita
FFD 2013

Catatan Program

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia tentunya mengalami dampak dari perubahan iklim paling besar. Pemerintah Indonesia memang menandatangani semua perjanjian internasional yang penting pada tindakan untuk melawan perubahan iklim, tetapi langkah-langkah terkait belum mencapai sebagaian besar penduduk. Oleh karena itu–di samping keputusan politik–sangat dibutuhkan ide-ide praktis, bagaimana masyarakat umum dapat menangani masalah ini dengan kehidupan sehari-hari mereka dan menyesuaikan kebiasaan mereka.

Forum Film Dokumenter dalam proyek Climate Art Festival ini ingin mengajak penonton untuk melihat upaya masyarakat dalam merespon lingkungan tempat tinggalnya. “The Bank”, karya Jatmiko Wicaksono menginspirasi warga Bantul untuk mengubah mindset soal sampah. Lalu ada pula seorang Agus, seniman yang menggunakan lukisannya sebagai medium untuk mengajak masyarakat menghormati alam Merapi dalam film dokumenter karya Dhimas Saputro. Bila Agus menggunakan lukisan, baba Akong beserta istrinya langsung terjun ke lapangan untuk mencegah bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari bencana tsunami dengan menanam bakau seluas 23 ha dalam film “Prahara Tsunami Bertabur Bakau”. Keberhasilannya, meski menuai cibiran masyarakat pada awalnya, akhirnya bisa menular dan diikuti oleh 2.000 orang lainnya. Dari NTT menuju Bali, lain lagi ceritanya. Bagus Pramundana menyoroti masyarakat Badung yang percaya dengan mitos Ratu Niang membuat mereka selalu menjaga kebersihan sungai, yang menjadi nadir kehidupan mereka.

Liputan Pemutaran

Suasana di Ledok Tukangan hari Sabtu, 12 Oktober 2013. berbeda dari biasanya. Lapangan yang biasa untuk bermain bulu tangkis kala itu ramai dengan anak-anak, ada yang duduk, ada yang bermain. Anak-anak muda dan juga orang tua lebih memilih untuk berjejer di samping atau di belakang lapangan. Tak kurang dari 70 orang menanti pemutaran film dimulai. Pukul 19.15 WIB, “The Bank” yang diproduksi Jatmiko Wicaksono membuka rangkaian pemutaran. Begitu dimulai, penonton mulai khidmat menikmati film. Adanya speaker besar membuat penonton tetap fokus meskipun tidak sedikit orang berlalu lalang di satu sisi lapangan. Salah seorang warga, Sutrisno, ketika mengomentari film mengatakan demikian, “Bener kuwi, kudune dhewe melu nggawe bank sampah, itung-itung nambah modal nggo bayar sekolah anak” (Benar itu, harusnya kita ikut membuat bank sampah, hitung-hitung menambah modal (uang) untuk bayar sekolah anak).

Film kedua, “Pelukis Merapi” karya Dimas Saputro diputar. Melihat Merapi, beberapa warga yang sebelumnya menonton dari kejauhan mulai mendekat, terutama ketika Agus Merapi mulai membaca mantra. Seorang anak pun kerap berceloteh menonton hasil karya Agus Merapi, bahkan mengenali sosok Nyai Roro Kidul yang ada pada lukisan Agus. Begitu film selesai, Anang yang juga ketua RT di Ledok Tukangan pun berkomentar, “Saya suka film ini, menunjukkan kalau tanggap lingkungan itu bisa menggunakan berbagai cara, termasuk lukisan. Mural-mural yang kita buat dalam festival ini harapannya juga bisa menumbuhkan kesadaran lingkungan warga Tukangan”.

“Prahara Tsunami Bertabur Bakau” kala diputar memberi nuansa berbeda bagi warga Ledok Tukangan. Beberapa warga ternyata belum tahu bentuk pohon Bakau, apalagi fungsinya bisa mencegah tsunami. Lokasi NTT yang jauh ternyata membuat film ini seolah berjarak dengan penonton. Setelah film usai, tidak ada dari warga yang berkomentar tentang film ini. Komentar justru datang Yuslim, seorang pengunjung festival yang ternyata pernah mengunjungi NTT. “Apa yang dilakukan oleh baba Akong menjadi bahan untuk saya bekerja dalam membina masyarakat di pesisir utara Jawa untuk mengajarkan pentingnya pohon Bakau, karena disana rawan terjadi abrasi”.

Film Bagus Pramundana yang berjudul “Ratu Niang” menjadi penutup pemutaran Climate Art Festival, karena kesamaan ekologi antara masyarakat Badung dengan masyarakat Tukangan, yang sama-sama tinggal di pinggir sungai. Retno, salah satu pemuda berkomentar, “Mungkin kalau disini juga ada mitos, yang mungkin berkaitan sama Ratu Kidul, bisa jadi sungai kita juga ikutan bersih”. “Tep angel nek kuwi Nduk, soale kene wis ra peduli bab ngono neh” (Tetap susah kalau itu, soalnya disini sudah tidak peduli mitos-mitos seperti itu lagi), timpal Mas Bejo, ketua pemuda Ledok Tukangan. Fitri DK, salah seorang penggagas acara Climate Art Festival menimpali, “Tanpa dibuat mitos pun kita seharusnya bisa tetap menjaga lingkungan. Adanya mitos seperti di film Ratu Niang itu hanya menjadi salah satu pendorong saja. Karena tanpa adanya partisipasi aktif dari masyarakat, sungai akan tetap kotor”. Komentar Fitri DK pun menutup apresiasi terhadap film Ratu Niang dan menutup pemutaran kali ini.

Pemutaran ini merupakan rangkaian program Let’s Screen Docs! (LSD), sebuah program pemutaran dokumenter yang dikelola oleh Forum Film Dokumenter. Program pemutaran ini bekerja sama dengan lembaga dan komunitas lain untuk memperlebar ruang agar tepat sasaran dan menjangkau khalayak yang lebih luas. Semua film yang diputar dalam program ini adalah film arsip Forum Film Dokumenter yang telah terkumpul sejak tahun 2002.

Data Teknis Film

Prahara Tsunami Bertabur Bakau | Emanuel Thome Hayon dan Mikhael Yosviranto | 2008 | 15 menit
The Bank | Jatmiko Wicaksono | 2009 | 14 menit
Pelukis Merapi | Dimas Dhifka Saputro | 2009 | 10 menit
Ratu Niang | I Gusti Bagus Pramundana | 2012 | 6 menit