Wawancara Bersama Sebastian Winkels

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Pada Jumat, 8 Desember 2018, tim Media dan Publikasi FFD mendapatkan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Sebastian Winkels, seorang sutradara film asal Jerman. FFD di tahun ini, bekerja sama dengan Goethe-Institut, menggelar pemutaran film terbaru Sebastian Winkels yang berjudul Talking Money untuk pertama kalinya di Indonesia. Berikut perbincangan tim FFD dengan Sebastian Winkels:

 

Mengapa anda memilih untuk bekerja di dunia dokumenter?

Secara umum, mengapa saya memilih bekerja di dunia dokumenter, karena saya tertarik untuk mengabadikan kehidupan manusia dan setiap esensi di dalamnya. Usaha ini tentu suli,t dan kadang tidak berhasil. Tetapi jika berhasil, maka hal ini akan terlihat sangat mengagumkan. Saya suka aspek otensitas yang terkadang saya temukan di dalamnya. Itulah sebabnya saya memilih bekerja di dunia dokumenter.

 

Bagaimana kondisi perfilman dokumenter di negara anda? Bagaimana peran serta pemerintah dan relasi publik atas karya-karya dokumenter di sana?

Kami memiliki beberapa sumber pendanaan di Jerman. Saya rasa itu membuat situasi di Jerman lebih baik dibandingkan dengan Indonesia. Di sini, stasiun televisi dan pemerintah tidak banyak membantu untuk mendanai komunitas film dokumenter independen.

Di Jerman sebenarnya juga tidak mudah; banyak persaingan di sana. Ada banyak orang mengajukan permintaan untuk memperoleh pendanaan dari pemerintah. Saya kira, ada banyak kesulitan untuk menghasilkan uang dan anggaran yang cukup membuat film. Film Talking Money sendiri dapat terselesaikan melalui kerja sama dengan stasiun televisi di Jerman dan Switzerland. Jadi, masih ada kemungkinan.

Dalam 21 tahun terakhir, ada banyak sekolah film yang muncul di Jerman, dan menghasilkan banyak pembuat film baru yang mencari peluang untuk bekerja. Jadi, untuk mendapatkan pendanaan kami harus melewati persaingan yang ketat.

Saya rasa publik menyukai dokumenter. Namun film-film dokumenter tidak selalu mudah untuk ditemukan, karena stasiun TV menayangkannya larut malam. Tetapi mereka juga dapat menyaksikan film dokumenter di bioskop. Abad ini, orang-orang dapat menyaksikan apa pun melalui telepon genggam mereka –termasuk film dokumenter. Jadi kami (sebagai penggiat dokumenter) harus tetap berjuang mempertahankan audiens kami.

 

Bisakah anda menceritakan secara singkat proses kreatif pembuatan film terbaru anda, Talking Money?

Saya memulainya dengan sebuah pertanyaan: apakah saya menjadi orang lain ketika saya berbicara tentang uang? Karena, ketika saya pergi ke bank untuk pertama kalinya dan duduk di meja konsultasi, saya tiba-tiba merasa menjadi orang lain. Saya pikir saya harus memberitahu orang lain, barangkali mereka juga merasakan hal yang sama.

Saya mencoba untuk melihat lebih dekat dan menemukan apa yang sebenarnya terjadi di sana. Saya menemukan hal yang menarik. Bagi saya, meja konsultasi di bank adalah tempat di mana kita saling berpura-pura. Ketika kita dihadapkan dengan begitu banyak pertanyaan dan kita menjawabnya, pada saat itulah kita tidak menjadi diri sendiri. Kita bahkan berpura-pura dan berbohong. Kita ibarat sebuah boneka yang dikendalikan dalam sebuah pertunjukan. Dan saya tertarik untuk mengabadikan situasi yang aneh ini ke dalam sebuah film.

 

Ada delapan bank di delapan negara yang menjadi objek dalam Talking Money. Bagaimana anda menentukannya? Apakah anda memilihnya berdasarkan pertimbangan tertentu, terutama berdasarkan kondisi ekonomi negara tersebut?

Saya lebih tertarik untuk mengabadikan kehidupan masyarakat di negara yang berbeda-beda. Seperti di negara-negara kaya ataupun miskin, negara-negara yang lebih berorientasi kapitalis atau sosialis, juga negara-negara berbasis agama yang berbeda, misalnya negara republik Islam seperti Pakistan atau negara berbasis agama Katolik yang kuat seperti Bolivia. Bahkan negara bekas jajahan Uni Soviet, seperti Georgia. Saya ingin tahu, apakah orang-orang yang dibesarkan di negara-negara yang berbeda dan tentu saja memiliki bahasa yang berbeda ini memilik reaksi yang sama ketika mereka di tempatkan di satu situasi yang sama, yaitu ketika membicarakan tentang uang, atau saya justru menemukan banyak perbedaan di antara mereka.

Saya menentukan pilihan tidak berdasarkan pertimbangan latar belakang ekonomi negara tertentu. Representasi Eropa dalam film ini tidak hanya mewakili sisi yang lebih kaya seperti Jerman atau Luxemburg tetapi juga menyentuh negara yang tidak kaya seperti Italia dan Napoli. Saya lebih tertarik pada latar belakang sosial, di mana orang-orang dengan tingkat ekonomi rendah menceritakan kisah pribadi tentang keluarga mereka. Saya membayangkan kehidupan mereka di luar bank.

 

Pesan apa yang hendak anda sampaikan melalui Talking Money?

Saya tidak ingin film saya memberi pesan apa pun. Saya hanya ingin penonton merefleksikan hubungan mereka dengan uang. Saya ingin mengeksplorasi bagaimana hubungan orang-orang di seluruh dunia dengan uang.  Saya mulai dengan sebuah kasus yang menarik yang menggambarkan suatu situasi psikologis di meja konsultasi bank. Saya tidak ingin membuat film yang mengatakan: ini hal yang baik, atau ini hal yang buruk. Saya ingin menunjukkan hal yang berimbang: sisi terbaik dan sisi terburuk di balik meja konsultasi bank. Saya tidak bermaksud membuat film yang mengkonfirmasi bahwa sistem perbankan atau sistem keuangan itu buruk. Atau mengajak anda melawan sistem perbankan.

Talking Money merupakan film tentang; apakah kita benar-benar saling percaya satu sama lain? Dengan lebih banyak menggunakan pendekatan antropologis, saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sekarang, setelah krisis finansial melanda sepuluh tahu yang lalu.

 

Ini adalah pertama kalinya Talking Money diputar di Indonesia. Mengapa anda memilih Festival Film Dokumenter sebagai tempat pemutaran pertama?

Saya sangat senang mendapatkan penerjemah dalam bahasa Indonesia. Karena ini penting bagi penonton (di Indonesia) agar dapat mengikuti setiap percakapan satu sama lain dan mengetahui situasi dalam film ini. Saya sangat suka festival ini, saya tahu tentang FFD sejak beberapa tahun lalu. Meskipun saya tidak bisa hadir setiap tahun, namun beberapa tahun ini saya mengenal orang-orang yang menjalankan FFD dan orang-orang yang mendanainya. Dan saya sangat senang bisa memutar film Talking Money pertama kalinya di sini, pada hari ini.

Close Menu