Kisah sebuah Cerita: Wawancara Juri Kategori Kompetisi Dokumenter Panjang Internasional FFD 2022

19—11—2022
Highlight Program

Makiko Wakai, Phillip Cheah, and Pierre-Emmanuel Barthe adalah tiga juri untuk kategori Kompetisi Dokumenter Panjang Internasional di Festival Film Dokumenter (FFD) 2022. Setelah selesai berunding untuk menentukan film pemenang dan film dengan special mention, tim FFD berkesempatan untuk mewawancarai ketiganya. Wawancara ini dilaksanakan di GAIA Cosmo pada Jumat, 18 November 2022.

 

Bagaimana cara kalian menilai film-film tersebut?

Phillip: Kami menonton film and melihat cara mereka membuat kami merasakan sesuatu.

Pierre: Saya suka cerita panjang yang sutradara sampaikan pada kami. Saya bisa tergugah, tertegun bahkan merasa bosan atau melihat sebuah subject tidak menarik. Ini lah yang membuat film tersebut memesona.

Makiko: Ya, saya setuju. Tidak ada kriteria khusus atau parameter tertentu. Saya hanya merasakan melalui keterikatan emosional.

 

Lalu, siapa pemenangnya?

Phillip: (Menatap Makiko) Karena film tersebut dari negaramu, ada baiknya, kamu saja yang menyampaikan.

Makiko: (Tertawa) tidak. Saya bisa mengatakannya dalam bahasa Jepang.

Phillip: Film terbaik datang dari Shuhei Hatano’s yang berjudul I Remember. Dari Jepang. Apa judulnya dalam bahasa Jepang?

Makiko: Watashi wa Oboeteru.

 

Apa pertimbangan untuk memenangkan film tersebut?

Pierre: Ia berhasil untuk menceritakan dengan cara sederhana yaitu hanya dengan seseorang menatap kamera yang seolah mewawancarainya. Saya rasa, pemilihan karakter yang berbeda-beda itu cukup unik termasuk caranya menyampaikan cerita pada penonton, cerita tentang negara tersebut juga masyarakatnya, masa dan waktu tersebut bahkan cerita saya sendiri. Meskipun berdurasi 4 jam, film tersebut membawaku pada kegembiraan.

Makiko: Ya.

Phillip: Terdapat pula Special Jury Mention dalam kategori ini.

Pierre: Ya betul. Ada satu film yang mendapat Special Jury Mention yaitu 1970. Kami berpikir bahwa film tersebut terasa sangat orisinal untuk menunjukkan sebuah fakta. Penggunaan boneka itu sangat orisinal. Film tersebut benar-benar menampilkan cerita yang menarik. Kami ikut masuk mengikuti orang-orang dan suku tersebut juga kami merasakan kegetiran dan kemarahan mereka pada politisi. Jadi, ketika sang sutradara membuat film yang penuh dengan emosi, saya rasa ia mampu untuk menyampaikan hal yang ingin disampaikan.

Phillip: Saya perlu menyampaikan hal ini karena kami tidak memiliki kesempatan untuk mengutarakannya sebelumnya. Anda perlu tahu bahwa masyarakat yang menindas, biasanya mereka yang berbicara menggunakan boneka tersebut. Jadi, dalam film ini, digunakanlah animasi boneka dan orang-orang yang menindas boneka. Jadi, alih-alih menjadi dalang, mereka sekarang menjadi boneka. Saya pikir itu alegori yang sangat kuat dari sejarah ini.

Pierre: Ya, alegori yang kuat ditambah orisinalitas.

 

Apa harapan Anda untuk FFD juga para sineas?

Makiko: Jangan berpikir terlalu keras.

Pierre: Jalani dengan hati dan pikiran yang selaras. Dan sampaikan cerita yang memukau pada kami. Berikan kami sesuatu yang baru. Sampaikan hal yang menyentuh. Terdapat tiga hal penting yang harus ada dalam film yaitu cerita yang menarik, cerita yang memukau, dan cerita yang mengesankan. Meskipun cerita tersebut cukup sederhana, hal tersebut bisa menjadi sebuah emas tak ternilai. FFD sudah berumur 21 tahun. Sebuah umur yang cukup matang. Panjang umur Festival Film Dokumenter Yogyakarta.

Phillip: Penulis Indonesia, Budi Darma, memiliki sebuah kutipan: setelah musim dingin akan ada musim semi sehingga hal tersebut merupakan harapan saya untuk festival. Itu karena semua akan bersemi setelahnya. Merupakan sebuah pengalaman berharga untuk kami. Kami terkesan.

Bagikan ini