Turang and Cinema of New Emerging Forces

Deskripsi
Khrisna Sen adalah sosok penting bagi sejarah film Indonesia. Bukunya, Indonesian Cinema: Framing the New Order (1994), atau dalam translasi Indonesia oleh salah satu penerbit Kuasa Dalam Sinema Indonesia: Negara, Masyarakat & Sinema Orde Baru adalah rujukan utama dan satu-satunya pada masanya bagi para pembaca kajian film Indonesia yang ingin mempelajari periode yang dihilangkan oleh Orde Baru dari sejarah film Indonesia: sejarah film kiri. Pada salah satu bab buku tersebut, Krishna Sen mengkaji dua sutradara Indonesia, Usmar Ismail dan Bachtiar Siagian, di dalam tegangan antara “keindividuan” dan “kemassaan” (warga), atau antara konflik dramatis yang terletak di benak sang pahlawan beserta solusinya dan pengalaman emosi dari individu yang “material” bersama massa yang berada dalam situasi revolusi menuju tindakan yang bersifat publik. Krishna Sen juga merupakan satu-satunya pengkaji film yang berjumpa dan mewawancarai langsung Bachtiar Siagian dan para pembuat film kiri. Arsip suara hasil wawancara tersebut kini menjadi sumber pengetahuan yang penting di dalam konteks arsip-arsip film yang dihilangkan rezim Orde Baru.
Dalam memetakan karya-karya Bachtiar Siagian, Krishna Sen tidak segera menyandarkannya dengan gerakan sinema ketiga, yang dianggap tidak sepenuhnya dapat menangkap dorongan radikal dalam perfilman Indonesia. Baginya, radikalisme perfilman Indonesia perlu didefinisikan di dalam konteks konstelasi politik di dalam negeri dan tidak dapat ditafsirkan secara generalisasi dalam kaitannya dengan Hollywood, budaya global, atau kapitalisme. Dalam wawancara dengan Krishna Sen, Bachtiar Siagian menyatakan bahwa sinema realis sosialis tidak bisa dipelajari dari ‘tangan kedua’ (second hand) di dalam buku, tetapi melalui sebuah perkembangan praktik sosial. Hal ini memberikan warna tersendiri dalam mendiskursuskan sejarah sinema Indonesia yang memiliki anasirnya sendiri di dalam merespons fenomena sinema global pada masanya.
Bunga Siagian mengembangkan tawaran Khrisna Sen melalui proyeknya Sinefo (Sinema of Emerging Forces) sebagai cara membaca gelagat sinema yang berkembang setelah Konferensi Asia Afrika, sekaligus preseden dari sinema ketiga. Sebuah sinema yang lahir berbarengan dengan lahirnya sebuah bangsa baru merdeka, berorientasi massa, dan mengakar pada dinamika jaringan trans-nasional anti kolonial. Di dalam kuliah ini, Turang yang baru saja pulang ke konteks sosialnya, akan menjadi pintu masuk untuk menciptakan dan memahami apa itu cinema of new emerging forces.
Foto ©︎ Turang (Bachtiar Siagian, 1957)
Jadwal
26 November 2025, 19:00 WIB
Langgeng Art Foundation
Kredit

Akbar Yumni
Akbar Yumni sempat belajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Ia adalah kurator ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival (2013–2018) dan aktif sebagai periset serta seniman pertunjukan. Beberapa pertunjukannya berbasis arsip film Indonesia yang hilang pada masa rezim otoriter, di antaranya adalah Menonton “Turang” (1957), Menonton “Daerah Hilang” (1956), dan Menonton “Sedap Malam” (1951). Kini, Akbar menjadi anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta untuk periode 2023–2026.

Krishna Sen
Krishna Sen FAHA adalah seorang profesor asal Australia dan pakar internasional dalam kajian media serta Indonesia kontemporer. Ia menjabat sebagai Ketua Perth Centre of PEN International, Professor Emerita di University of Western Australia, dan anggota Senat Murdoch University. Lahir di India dan menetap di Australia, ia mendedikasikan sebagian besar karier akademisnya untuk meneliti dan menulis tentang hubungan antara media dan politik di Indonesia. Fokus akademisnya terhadap isu sensor media, yang berkembang melalui penelitiannya tentang Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto, kini memperkuat perannya di PEN International, khususnya dalam mendukung para penulis yang dipenjara di seluruh dunia.

Bunga Siagian
Bunga Siagian adalah seniman, kurator, dan produser budaya. Ia menyelesaikan studi masternya pada ilmu Cultural Studies. Bunga memiliki ketertarikan dengan sejarah jaringan Asia-Afrika, internasionalisme Dunia Ketiga, dan komitmen politik-sinematik kelompok kiri pada era dekolonisasi. Praktik kekaryaannya sering mengambil bentuk institusi publik, seperti Mother Bank dan BKP (Badan Kajian Pertanahan), proyek riset artistik yang fokus pada isu perempuan dan pertanahan dengan menempatkan praktiknya pada titik temu antara seni dan pengamalan kerja kolektif.

