Perjuangan Dekolonial adalah Perjuangan Ekologis adalah Perjuangan Rasial adalah …

— Ulasan Film
FFD 2025

Kongo dijajah Belgia di bawah pemerintahan Leopold II. Berdalih sebagai misi “pemasyarakatan”, ia membujuk kekuatan Eropa untuk menyetujui klaim kepemilikannya atas Kongo. Sekalipun, ia tak pernah menginjakkan kakinya di Kongo. Bagaikan miliknya sendiri, ia menamai Kongo sebagai “Congo Free State” (Negara Bebas Kongo). Namun, tak ada kebebasan bagi rakyat Kongo. Seperti yang diduga, upaya kolonialnya menjelma menjadi kerajaan raksasa dengan tujuan tunggal untuk mengeksploitasi sumber daya Kongo bagi keuntungannya sendiri. Saat dunia akhirnya menyadari apa yang dilakukan oleh raja Belgia, kemarahan masyarakat global meletus. Negara Bebas Kongo lantas hirap, berganti dengan Kongo Belgia, yang hanyalah kedok moral untuk menanggapi kemarahan publik. Praktik kerja paksa terus berlanjut, segregasi semakin menjadi-jadi, dan eksploitasi ekonomi tetap berlangsung.

Sayangnya, sejarah ditulis melalui kacamata para penjajah. Dengan upaya penulisan ulang masa lalu yang bias, The Tree of Authenticity (Sammy Baloji, 2025) menghidupkan kembali sejumlah tokoh kulit hitam yang luar biasa melalui catatan pribadi mereka yang ditemukan. Salah satu tokoh adalah Paul Panda Farnana, seorang intelektual dan botanis pionir Kongo—seseorang yang dibutuhkan Belgia untuk memperluas dan mengoptimalkan upaya mereka memeras keuntungan. Terlepas dari warna kulitnya, ia direkrut oleh Belgia untuk menjadi pegawai negeri sipil. Namun, meskipun dengan kecerdasan yang ia miliki, ia tetap diperlakukan sebagai “pribumi luar biasa” dan tak pernah dianggap setara dengan orang-orang Belgia. Melalui penafsiran ulang pengalamannya, kita diperlihatkan secara titis pengalamannya tentang diskriminasi, rasisme, dan perjuangannya untuk diakui di skena sains yang mengucilkannya.

Ketika diskriminasi membuatnya frustasi, ia mendirikan Union Congolaise sebagai perwakilan kepentingan orang Kongo untuk didengar, mendapat pendidikan, diperlakukan setara, dan diakui. Upaya tersebut menanamkan benih organisasi politik di kalangan orang Kongo, sebab ia termasuk di antara orang-orang pertama yang memperjuangkannya. Selain itu, Farnana ikut serta dalam Kongres Pan-Afrika bertindak sebagai sekretaris dalam kongres kedua.

Di tengah aktivitas politiknya, Fernana dan rasnya dihina: “[…] Penduduk asli Kongo baru saja mengentaskan diri dari bahimiah, [jadi] jangan memaksa jarum jam rapuh yang kita sebut evolusi, karena kamu akan menghancurkannya.” Hingga hari ini, “esensialisme” yang didasarkan pada kebenaran palsu (dan telah lama dipercaya), seperti hantu, masih berkuasa untuk mendiskriminasi ras, etnis, gender, segala hal yang mengusik fondasi status quo.

Ketika Fernana kembali ke desa asalnya, Nzembe, ia meninggal dalam keadaan yang misterius. Beberapa mengatakan ia sakit, beberapa lainnya mengatakan bahwa ia ditembak, bahkan diracun. Saya rasa, apa pun penyebabnya, kematian Fernana menjadi sebuah kemujuran bagi sejarah kolonial. Saat kolonialisme berusaha menghapus segala sesuatu dari yang terpinggirkan, setiap perjuangan saling terhubung. Perjuangan dekolonial adalah perjuangan ekologi adalah perjuangan rasial adalah perjuangan kelas adalah perjuangan feminis adalah perjuangan queer adalah perjuangan mencapai kesetaraan adalah perjuangan kesenjangan pendidikan adalah… Dalam kekekalannya, setiap perjuangan terhubung, setiap perjuangan selalu berkelindan. (Timmie) (Ed/Trans. Vanis)

 

Detail Film
The Tree of Authenticity (L’Arbre de L’Authenticité)
Sammy Baloji | 89 min | 2025 | Belgia, Kongo
Berkompetisi dalam program Kompetisi Panjang Internasional
Festival Film Dokumenter 2025