Berbeda dengan sinema “konvensional” yang menggunakan realitas sebagai representasi untuk mendukung narasi, di dalam sinema dokumenter, penggunaan dan kehadiran realitas justru terbuka untuk diperbincangkan kembali dan disusun ulang, diolah, dimanipulasi, dan lain sebagainya sembari mencari celah-celah bagi kehadiran personal si pembuat dalam melihat realitas yang lebih segar. Hal yang personal ini menjadi penanda yang cukup kuat sebagaimana yang sering kita dengungkan tentang sinema. Namun, mungkin yang terpenting, pengulangan istilah “personal” dalam karya sinema ini sebagai interupsi secara politik, yang dalam kerangka berpikir Jacques Ranciere adalah mengubah atau setidaknya mengganggu rezim tatanan “yang sensibel”, “yang terlihat”, “yang terdengar”, dan seterusnya untuk menjadikan yang tak terlihat dan tak terdengar menjadi bagian dari tatanan agar terlihat dan terdengar.
Dalam kerangka tersebut, sinema dokumenter menjadi politis karena bukan saja mengarah pada pendekatan sinema tertentu, pengertian dokumenter kerap merujuk pada tangkapan ruang dalam keadaan yang tak terbagi ketika dimuati oleh tubuh dan objek yang identitasnya belum berada dalam tatanan yang telah ditentukan. Oleh karenanya, ia semacam realitas mentah yang masih memiliki otonominya sendiri yang berbeda dengan sinema fiksi, pengertian ruang dan para penghuni tubuhnya sudah dibagi dan distribusikan ke dalam sebuah rezim makna dan terhubung dengan tatanan sosial tertentu. Berbeda dengan sinema fiksi yang tak yang cenderung pedagogis, sinema dokumenter seakan mengandaikan kesetaraan tertentu karena kemungkinan-kemungkinan cara menghadirkan ruang dan tubuh ke dalam sebuah konfigurasi tertentu masih terbuka luas.
Potensi kesetaraan dalam sinema dokumenter secara tidak langsung dipengaruhi perkembangan teknologi dan media yang semakin personal. Sebagaimana arah sinema dokumenter yang cenderung personal dan intim, ketidakdugaan dan keragamannya semakin menjangkau kompleksitas dan perluasan realitas yang hidup disekitar manusia. Perkembangan teknologi media digital memang telah merayakan personalitas. Namun, pertanyaan selanjutnya ketika yang belum “terlihat” dan “terdengar” mengambil bagian dari tatanan yang sudah ada, membentuk tatanan baru, sedemikian hingga menjadi penting adalah bagaimana sinema dokumenter untuk terus-menerus menghadirkan perluasan, ketidakterdugaan, kompleksitas, untuk terus-menerus dibela di dalam sebuah festival, sebagaimana juga kesetaraan menurut Ranciere sendiri adalah situasi yang terus menerus diandaikan, dan bukan tujuan.






