Tahun ini, Forum Film Dokumenter mengembangkan program SchoolDoc yang hadir dalam wujud lokakarya produksi dokumenter untuk pelajar SMA/sederajat. Program ini lahir sebagai upaya meningkatkan kesadaran terhadap penggunaan media pada era kini.
Dari proses tersebut, lima karya dihasilkan oleh lima peserta. Karya-karya ini dipamerkan selama Festival Film Dokumenter 2019. Instalasi karya-karya tersebut dihadirkan bersama dengan rekaman proses dan cerita di balik pembuatan karya sebagai satu kesatuan yang membentuk sebuah bacaan dokumenter. Kami mewawancarai 4 peserta SchoolDoc, Alhanz Sofyan David Alvarobin (SMKN 2 Sewon), Nickho Darmawan (SMA Kolese De Britto), Gyanrahma Indrajid Sofwan (SMA Kolese de Britto), dan Thera Karunia (SMA Kolese de Britto). Berikut rangkumannya:
Kalau menurut kalian, film itu apa, sih?
Alhanz Sofyan (AS): Film itu menurut aku adalah sebuah media di mana aku bisa mengeluarkan apa yang ingin aku sampaikan ke orang lain dengan cara audiovisual. Karena aku lebih suka mengekspresikan diriku dengan media lain, bukan dengan diriku sendiri.
Nickho Darmawan (ND): Menurut saya, film itu adalah suatu gambar yang hidup atau bergerak. Atau bisa disebut sebagai rangkaian gambar yang bergerak.
Gyanrahma Indrajid (GI): Film itu adalah media komunikasi melalui audiovisual. Terus nanti turunannya ada banyak gaya-gaya film.
Thera Karunia (TK): Kayak foto, tapi bergerak. Menciptakan cerita.
Apa alasan kalian mengikuti SchoolDoc?
AS: Awalnya karena kurang tahu, apa sih SchoolDoc itu. Ternyata SchoolDoc itu kayak sebuah program dokumenter yang mengikutsertakan pelajar dan itu menurutku sebuah hal yang sangat menarik, karena aku belum banyak tahu tentang film dokumenter. Berkat ini, aku jadi tahu kalau dokumenter itu sangat luas.
GI: Aku mau mengembangkan kemampuan kreativitasku. Jadi, aku ikut klub sinema. Kebetulan Mas Gogik (Her Raditya Mahendra Putra) dari FFD yang juga alumni (Kolese) De Britto menawarkan teman-teman untuk daftar program SchoolDoc. Nah, kebetulan aku terpilih. Di situ aku coba mengembangkan kemampuan kreativitasku untuk ngembangin film. Film tuh ya nggak hanya kreatif, tapi juga bisa dijalankan gitu, loh. Walaupun misalnya hasil produk belum tentu jadi, tapi setidaknya aku dapat proses pembelajarannya.
Di sekolah, beberapa dari kalian sudah pernah mengikuti klub film, artinya sudah pernah mengikuti lokakarya produksi film sebelumnya. Dari lokakarya yang pernah kamu ikuti, apa bedanya dengan SchoolDoc? Pengalaman atau pengetahuan baru apa saja yang kamu peroleh dari SchoolDoc?
AS: Dulu saya mencari bagaimana caranya mengekspresikan apa yang ingin saya sampaikan, tapi bukan dengan diri saya sendiri. Lalu, setelah mengikuti klub sinematografi saya jadi tahu, ternyata film bisa menjadi medium untuk mengekspresikan diri saya dan menunjukkannya kepada orang lain.
Yang menurut saya sangat menarik dari SchoolDoc adalah kedatangan mentor dari luar negeri, Mr. Jean (Jean Paul Labro) dan Miss Lyn (Lyn Nékorimaté). Mereka sangat membantu saya sebagai orang awam bisa mempresentasikan film yang saya buat. Padahal saya itu notabenenya bahasa Inggrisnya kurang bagus, tapi mereka bisa memahami apa yang saya sampaikan.
TK: Aku bisa belajar tentang penataan kamera dan sound. Karena ketika bikin film bareng teman, aku nggak diajarin. Temanku yang ngurusin. Soalnya bikin film begitu biasanya agak susah mencari orang yang niat. Kalau di ekskul kan, bisa nentuin filmnya terus bikin bareng-bareng.
Menurut kalian film dokumenter itu seperti apa?
ND: Film dokumenter itu dulu saya tahunya ketika nonton Animal Planet. Jadi ada film dokumenter, dia bercerita tentang laba-laba tarantula yang sampai sekarang saya masih ketakutan. Itu beneran menarik sih. Jadi mengulas semua yang ada di situ. Jadi laba-laba itu cuma kayak gambar, terus ada orang yang menarasikan di belakang. Menurutku, itu film dokumenter. Bercerita berdasarkan konteks apa yang mau kita buat. Mesti ada narasinya dan gambarnya itu mesti gambar yang beda. Dan, yang membedakan itu lebih ke arah, tidak cuma hewan yang didokumentasi, ternyata manusia juga didokumentasi.
GI: Aku sebenarnya dari kecil punya budaya dengan orang tuaku nonton film setiap weekend. Terus sebenarnya bisa dibilang aku itu penonton film yang casual, bukan yang kayak garis alternatif gitu, misalnya dokumenter. Aku belum terlalu sering, atau bahkan belum menyentuh bagian dokumenter. Konsumsi harianku itu film mainstream. Sebenarnya pas masuk SchoolDoc, aku belum ada gambaran. Tahunya kalau film dokumenter itu kayak ya dokumentasi saja. Setelah mengikuti SchoolDoc, bagiku dokumenter itu kayak mengambil sebuah episode atau bagian dari kehidupan nyata, lalu diceritakan kepada kita, penonton. Tapi disajikannya secara mentah, tanpa “pemanis.”
Selama SchoolDoc, apa saja kendala atau kesulitan yang kamu rasakan?
AS: Menurut saya, kendala dari diri saya sendiri itu jangka waktu. Di mana jangka waktu, saya mengerjakan pra dan produksi itu sangat mepet sekali. Di situ saya sampai berpikir, bagaimana sih bikin cerita yang tidak perlu banyak orang, tapi mendokumentasikan suatu hal dengan sangat baik. Jadi rasanya lebih kompleks. Waktunya seminggu kalau kalau nggak salah. Ketika itu saya sedang sekolah, tapi waktu itu diberikan izin lima hari. Satu hari untuk pra-production, dari penulisan naskah, storyboard, dan sebagainya. Lalu saya mengerjakan film saya tiga jam.
GI: Aku kan tidak bekerja sendiri, ya. Interaksi antar rekan kerja, antar teman, itu perlu dijaga. Apalagi dalam keadaan capek. Misalnya, kayak kami punya shooting schedule yang padat, ada satu teman yang kerjanya bercanda doang. Jadi aku refleks menegaskan, “Eh, ini kita lagi kerja, bisa memposisikan diri, nggak”?
Apa harapan untuk SchoolDoc selanjutnya?
ND: Peserta-pesertanya itu lebih menghasilkan karya yang lebih bagus. Jadi, saya pengennya peserta tahun depan itu mempunyai kreativitas yang tidak ada batasnya. Berkaryalah tidak hanya dari kanvas, tapi berkaryalah menggunakan otak kalian. Walaupun itu tidak ada di kanvas, buatlah itu ada di kanvas. Improvisasinya itu harus ada, karena justru improvisasi yang mewarnai film itu sendiri. Dan gunakanlah elemen-elemen, kayak “element of surprise.” Semoga acaranya lebih besar. Pengennya lebih rame sih. Tidak hanya berlima, tapi kalau bisa banyak orang. Karena waktu masuk SchoolDoc, saya ingin banget belajar jadi staf itu kayak bagaimana. Kalau berlima itu kan kurang. Mungkin bisa bertujuh atau berdelapan.
GI: Harapanku sih cuma satu. Terus mengembangkan dan meningkatkan standar yang telah mereka buat, karena standarnya memang cukup tinggi, ya. Terus dengan SchoolDoc ini bisa memperkenalkan orang-orang biasa kepada dokumenter. Soalnya dokumenter itu bukan suatu hal yang mainstream. Jadi mungkin di SchoolDoc, ada basic-basic pengenalan dokumenter. Soalnya waktu aku masuk SchoolDoc ini kurang paham batasan-batasan dan definisi dokumenter. Jadi itu bisa mengubah haluan dari hasil karyanya.
Nizmi Nasution



