Ziarah, Janji Masa Lalu

Deskripsi
Sebagai seniman yang tumbuh dari latar sosial yang sarat dengan sejarah konflik dan pergeseran identitas, praktik artistik saya berangkat dari kesadaran bahwa narasi tidak pernah netral. Narasi selalu memuat posisi, memori, dan kekuasaan. Melalui proyek ini, saya ingin menelusuri bagaimana trauma kolektif yang lahir dari konflik etnis Sambas 1999 di Indonesia, bergerak lintas generasi, dan dimaterialisasi melalui tubuh, bahasa, serta ruang sosial yang kita tempati hari ini.
Proyek ini merupakan bagian dari perjalanan panjang saya dalam memahami bagaimana seni dapat menjadi medan negosiasi antara sejarah dan kemungkinan masa depan. Saya memandang seni sebagai ruang di mana luka dapat diartikulasikan tanpa harus disembuhkan secara paksa––sebuah ruang untuk mendengarkan kembali gema trauma yang sering kali dibungkam oleh narasi arus utama, atau narasi juga narasi resmi negara.
Dalam proses penciptaan karya, saya berupaya mengolah pengalaman personal dan sosial menjadi bentuk-bentuk artistik yang menolak melupakan, tetapi juga mengundang penonton untuk menafsir ulang makna rekonsiliasi. Saya percaya bahwa ternyata ada melankolia yang bukanlah akhir dari kehilangan, melainkan kondisi yang memungkinkan kita untuk tetap berhubungan dengan yang absen, dengan mereka yang hilang, terlupakan, atau dihapus dari catatan sejarah.
Penciptaan karya-karya ini seluruhnya berangkat dari titik teks aforis yang berfungsi sebagai tubuh awal––gestur puitis yang mencatat hal-hal yang tak dapat diucapkan secara langsung. Dalam setiap tahapnya, saya berupaya mempertahankan tegangan antara yang personal dan yang kolektif, antara tubuh dan sejarah, antara keheningan dan ujaran.
Saya menempatkan proyek ini tidak hanya sebagai penciptaan karya seni, tetapi juga sebagai upaya penyusunan ulang narasi sosial; cara transmisi ingatan, trauma, kehilangan, dan rekonsiliasi bergerak melalui generasi dan medium. Saya ingin memperlihatkan bahwa memori bukan sekadar arsip statis, melainkan organisme yang hidup dan terus menyesuaikan diri dengan tubuh dan konteks sosialnya. Dengan demikian, karya ini bukan hanya tentang peristiwa Sambas, tetapi tentang bagaimana kita semua, sebagai masyarakat, terus bergulat dengan warisan sejarah yang tidak selalu dapat kita pilih, tetapi harus kita hadapi dengan keberanian dan kesadaran.
Saya memosisikan karya ini sebagai medan ingatan, bukan untuk meredam luka, tetapi untuk menjaga kesadaran terhadap sejarah kekerasan dan membayangkan kemungkinan hidup bersama di luar warisan dendam. Terutama ketika kami menempuh perjalanan bersama selama 20 hari, melintasi Madura, laut Jawa, dan sampai ke ujung Sambas di pulau Kalimantan. Perjalanan performatif pos-generasi pasca-konflik. Dalam proyek ini, tubuh menjadi arsip yang berbicara—bukan hanya tubuh individu, melainkan tubuh sosial yang menanggung beban sejarah.
Proyek ini menegaskan bahwa seni dapat menjadi bentuk aktivisme kultural yang penuh empati; bukan dengan menghapus luka, tetapi dengan mengartikulasikan memori sebagai fondasi etis untuk hidup bersama. Proyek ini memperlihatkan bagaimana seni dari pinggiran Indonesia dapat berbicara pada ranah global tentang trauma, identitas, dan rekonsiliasi, dengan caranya sendiri.
Format karya: Mixmedia, variable dimensions
Jadwal
21–28 November 2025 | 11:00–17:00 WIB WIB
Kredit

Suvi Wahyudianto
Suvi Wahyudianto lahir di Bangkalan, Madura, pada 28 April 1992. Ia adalah seniman muda yang baru saja menyelesaikan studi doktoral di ISI Yogyakarta. Melalui elaborasi pendekatan autoetnografi ke dalam karya seni, fokus Suvi adalah menciptakan karya-karya yang berusaha mengungkap narasi baru sebagai tandingan dari narasi arus utama. Eksplorasi puitis tersebut kerap diterjemahkan ke dalam berbagai teknik penciptaan dan pengolahan medium yang beragam, mulai dari lukisan, instalasi, hingga karya berbasis teks.
