Dalam Gelap, Kugenggam Ingatan
Berangkat dari ketertarikan sekaligus kekhawatiran terhadap narasi tunggal sejarah, program kolaborasi Forum Film Dokumenter dengan Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat ini diselenggarakan. Pameran ini mengundang Suvi Wahyudianto dan Maharani Mancanegara, dua seniman yang secara konsisten melakukan penelitian berbasis sejarah sebagai bagian dari proses penciptaan mereka. Pendekatan kerja mereka yang menggunakan arsip, serta pencatatan yang teliti menjadi penting untuk melihat bagaimana seni beririsan dengan praktik dokumentatif sebagai upaya merawat ingatan dan berspekulasi atas masa depan.
Suvi Wahyudianto adalah seniman Madura yang kerap melakukan penelitian terkait sejarah Madura dan relasinya dengan peristiwa kekerasan yang terjadi pada kisaran masa transisi Orde Baru ke pascareformasi. Sejak 2023, ia melakukan perjalanan mengikuti jejak peristiwa konflik antara Madura dan Sambas. Bersama dengan Aloysius, fotografer-videografer asal Sambas, Kalimantan Barat, ia melakukan perjalanan untuk memahami lebih jauh terkait konflik kekerasan yang terjadi pada 1999, satu tahun pascareformasi Indonesia. Perjalanan selama 20 hari ini kemudian menjadi perjalanan yang memberikan kejelasan pada narasi-narasi yang awalnya tak sepenuhnya mereka pahami––mengingat peristiwa tersebut terjadi di masa kecil mereka. Perjalanan ini pun kemudian memberi celah bagi mereka untuk memahami dengan cara yang berbeda: dengan lebih intim dan memberikan tawaran pembacaan lain, baik atas sejarah itu sendiri maupun atas spekulasi-spekulasi rekonsiliasi di masa depan.
Memiliki ketertarikan yang sama pada sejarah, selama 10 tahun terakhir Maharani Mancanagara meneliti sejarah Indonesia dengan menelusuri jejak kakeknya, R. Soegriwo Joedodiwirdjo. Penelitiannya dimulai dengan menelusuri sosok R. Soegriwo Joedodiwirdjo yang bekerja sebagai seorang guru. Melalui narasi personal ini, Rani menemukan bagaimana gejolak politik di Indonesia pada 1965 menyebabkan kakeknya terseret dengan tuduhan terlibat dengan Partai Komunis Indonesia. Maharani menggunakan pengalaman kakeknya sebagai korban dan tahanan politik untuk menggali lebih dalam atas situasi politik Indonesia pada tahun 1965. Ia meneliti buku harian pribadi kakeknya yang ditemukan selama proses riset. Temuan ini membawanya pada narasi-narasi lain, di mana ia mengamati bagaimana sejarah kekerasan ini jarang dibicarakan di kalangan masyarakat. Karya-karyanya kemudian tidak hanya menawarkan potongan sejarah kekerasan di Indonesia, tetapi juga memberikan tawaran kemungkinan bagi siapa pun untuk menginterpretasikan narasi besar sejarah Indonesia melalui pengalaman-pengalaman yang personal.
Ketertarikan kami pada praktik seni yang beririsan dengan isu-isu sosial saat ini menjadi semakin mengemuka seiring dengan berbagai hal yang terjadi, baik dari berbagai peristiwa dan peperangan yang berlangsung di luar negeri maupun berbagai gejolak sosial dan politik di dalam negeri. Sejarah memiliki peranan penting dalam pembangunan narasi utama yang ingin disebarkan––baik dalam konteks global maupun lokal. Sejarah memiliki peranan penting dalam pembangunan narasi utama yang ingin dirayakan dan diingat oleh pemegang kekuasaan. Dengan menghadirkan satu narasi tunggal, sejarah digunakan sebagai alat untuk merebut dan melanggengkan kekuasaan. Penunggalan narasi ini, yang kemudian diikuti dengan pelarangan tawaran penafsiran lain atas sejarah, menjadi tantangan yang terus hidup hingga saat ini.
Program yang hadir dalam format pameran ini merupakan bagian dari proses panjang untuk kami, sebagai institusi bersama dengan seniman dan berbagai praktisi lintas disiplin belajar kembali tentang relasi sejarah dan kekerasan. Upaya untuk belajar sejarah ini kemudian menjadi titik pijak yang penting untuk kita dapat memahami makna solidaritas dalam cakupan yang luas, khususnya dalam berbagai perjuangan atas krisis dan konflik yang terjadi di berbagai wilayah baik di dalam maupun di luar Indonesia.





