Mencari Macondo dalam Film Setengah Fiksi

Catatan Program

Mereka ulang sastra ke film adalah kerja raksasa. Kedua media ini menawarkan banyak kesamaan sekaligus perbedaan yang mencolok. Realitas sastra mengolah narasi visual yang diserap penulis dalam serangkaian deskripsi tekstual ketat, sehingga darinya diharapkan dimunculkan citraan sepadan. Sebaliknya juga pada film, visualisasi lewat serangkaian pengambilan dan penyuntingan gambar, ketataletakkan, dan sudut lekuk fotografi diharapkan memperoleh kesesuaian atau “ketidaksesuaian terkelola” dari narasi tekstual yang digarap.

Persoalan semakin menjelimet ketika berhadapan dengan media film hari ini. Keengganan sutradara film untuk tidak tunduk pada teks sastra yang diadaptasinya menjadi satu cara untuk menilai apakah sebuah film berhasil atau gagal. Semacam strategi tarik ulur yang memerlukan kekriyaan yang mumpuni dan terlatih supaya tidak semata jatuh pada kesemenjanaan.

Semua ketegangan itu–kalau boleh disebut begitu–nampak pada Nobody Ever Dies Here (Fachri Ghazali, 2025), Pen Sword (Zahra Zulya, 2025), House (Kayla Miska, 2025), In Melquiades Room: Causa-Prima (Rafael Marius, 2025), Inline Align (Shelvira Alyya, 2025), dan The Cow (Misbahul Khoir, 2025), yang dibuat untuk mereka ulang sehingga menghasilkan sebuah senyawa baru yang bisa jadi hanya meninggalkan jejak-jejak narasi sastra tekstualnya. Selayaknya gambar arang di kertas Padalarang, gambar dan citraan dibuat dalam kontras yang padat hingga tekstur dan gelap terangnya terasa sekali. Gambar yang sesekali buram mirip seperti teknik dusel dalam drawing; memberi volume dan kedalaman.

Dalam In Melquiades Room: Causa-Prima, sang tokoh yang bangkit dari mati itu dilihat dari pernak pernik “rumahnya”. Benda-benda terkumpul dan mungkin akan diberi nama, sekadar bisa menunda wabah pikun yang akan mendera kota. Akan tetapi, “film gambar” ini memperbolehkan kita menikmati film zonder perlu membaca bukunya yang tebal itu. Ia sudah menuliskan bukunya sendiri. Tak harus, bahkan mungkin tak sudi juga, dihubungkan dengan Gabriel García Márquez. Di film ini, Gabo merepih jadi kata dan nama tanpa masa lalu beserta konteks-konteksnya.

Kenikmatan dalam melihat film-film ini adalah menjadi saksi kelahiran kembali. Melquíades (memang) sudah mati di Singapura, tapi ia bangkit kembali dalam film-film ini menjadi sesuatu.

Sesuatu yang lain.

Pengelola Program

Agung Kurniawan

Agung Kurniawan, atau biasa dikenal Agung Leak, lahir pada 14 Maret 1968 di Jember, Jawa Timur. Sejak 1990-an, ia telah aktif di dunia seni. Agung menggunakan banyak media dalam berkarya. Ia membuat gambar, komik, instalasi, hingga wayang. Agung memiliki ketertarikan mengangkat tema dari isu-isu tabu atau isu sensitif, seperti genosida, politik, perempuan, dan transgender.