Commission artwork by Tehato for Festival Film Dokumenter 2025. Image designed by Noufal Madha.
21-28 November 2025

Tahun ini, Festival Film Dokumenter mempresentasikan 90 karya dari 45 negara yang terbagi dalam 8 program. Festival Film Dokumenter 2025 digelar secara gratis di Langgeng Art Foundation, Pascasarjana ISI Yogyakarta, Kedai Kebun Forum, dan Cemeti – Institute for Art and Society.

Festival Film Dokumenter 2025

  • Yang Terbatas & yang Tak Terbatas

    Pada dasarnya, temporalitas menjadi struktur dasar untuk memahami keberadaan manusia. Namun, pengalaman modernitas menuntun kita untuk menjadi linier, atau sekuensial, jika kita membayangkan tradisi sinema modern secara umum. Pengalaman yang bisa kita rasakan dari temporalitas adalah bagaimana masa lalu selalu terbuka. Sederhananya, perbincangan tentang masa lalu di masa kini mengandaikan lapisan yang tumbuh dalam berbagai perbincangan sebagaimana pengertian akan sinema yang senantiasa tumbuh, terbuka, dan mengubah cara kita melihat realitas keseharian manusia.

    Kelahiran sinema sendiri telah mengubah pengertian waktu, di mana waktu filmis dalam tradisi montase bisa membawa pengalaman yang lebih intens daripada waktu nyata dalam realitas manusia. Siapa kita dalam realitas ini? Siapa kita dalam realitas film yang kita tonton? Pertanyaan ini memberi pengalaman lebih mengenai intensi tentang ruang dan waktu, keserentakan terhadap pengalaman spasial dan temporal, di antara peristiwa yang berlangsung di tempat dan waktu yang berbeda, dan ketakterhinggaan yang tak dapat dilintasi.

    Seperti semesta yang terus mereproduksi dirinya sendiri, realitas terus-menerus melampaui yang tak terbatas. Setiap karya membawa detak jantungnya. Berbagai film dalam festival tahun ini merekam ruang-waktu secara alami, tetapi beberapa lainnya juga mementaskan adegan untuk mengarahkan realitas mereka, menghidupkan kembali ingatan kolektif, menyampaikan waktu biologis dan waktu historisnya, serta membuka cara pandang baru terhadap dunia yang kian bising dengan keheningan panjang.

    Di dunia yang berubah dengan cepat dan kebenaran yang cair, dokumenter tetap menjadi salah satu dari sedikit tempat kita bisa berhenti sejenak. Ia menjadi tempat untuk merasakan secara mendalam dan melihat kisah-kisah kekuatan dengan berbagai bentuk kekaryaan yang menyatukan kita. Ia merekam hubungan yang terus berkembang antara kamera dan kehidupan yang memiliki struktur ruang-waktunya sendiri.

    Melewati lebih dari 2 dasawarsa adalah hal yang tidak pernah dibayangkan Festival Film Dokumenter. Ini bukan angka yang luar biasa. Namun, setiap perjalanan layaknya lorong panjang atas ruang-waktu, seperti yang dinyanyikan Bob Dylan di “Maggie’s Farm”, “I try my best, to be just like I am, but everybody wants you to be just like them” (Aku berusaha menjadi yang terbaik, menjadi diriku sendiri, tapi semua orang menginginkanmu untuk menjadi seperti mereka, lit.). Semoga kegigihan kita semua berumur panjang untuk melintasi kosmos ke berbagai dunia yang lebih besar dari dunia kita sendiri.

     

    Alia Damaihati
    Direktur Festival

Update Festival

Menakar Perspektif, Bentuk, dan Dampak: Catatan Penjurian Kompetisi Panjang Internasional FFD 2025

Menghadirkan film-film dari rentang wilayah dan pendekatan yang luas, Kompetisi Panjang Internasional Festival Film Dokumenter…

Menemukan Diri Sendiri, Menyoal Sang Tokoh: Catatan Penjurian Kompetisi Panjang Indonesia FFD 2025

Kompetisi Panjang Indonesia Festival Film Dokumenter (FFD) 2025 menampilkan 4 film yang mewakili berbagai perspektif…

Kejelian dalam Kesederhanaan: Catatan Penjurian Kompetisi Pendek FFD 2025

Dua belas film dari berbagai negara dan pendekatan artistik dipresentasikan dalam Festival Film Dokumenter 2025…

Membaca Realitas, Meruwat Sensitivitas: Catatan Penjurian Kompetisi Pelajar FFD 2025

Program Kompetisi Pelajar Festival Film Dokumenter (FFD) 2025 menghadirkan enam film terpilih yang menggambarkan keragaman…

Film, Masyarakat, dan Narasi Kota dalam Festival Film 

Tidak ada satu pun festival film yang bekerja dalam kekosongan. Itulah atmosfer yang terasa sejak…

Strategi Festival, Kerja Kuratorial, dan Kelindan Keduanya 

Kelas panel Curatorship & Context: Strategy of Festival & Networking dilaksanakan di Pascasarjana ISI Yogyakarta…

Tamu Festival