
Tahun ini, Festival Film Dokumenter mempresentasikan 90 karya dari 45 negara yang terbagi dalam 8 program. Festival Film Dokumenter 2025 digelar secara gratis di Langgeng Art Foundation, Pascasarjana ISI Yogyakarta, Kedai Kebun Forum, dan Cemeti – Institute for Art and Society.
Festival Film Dokumenter 2025
- Pengantar Festival
Yang Terbatas & yang Tak Terbatas
Pada dasarnya, temporalitas menjadi struktur dasar untuk memahami keberadaan manusia. Namun, pengalaman modernitas menuntun kita untuk menjadi linier, atau sekuensial, jika kita membayangkan tradisi sinema modern secara umum. Pengalaman yang bisa kita rasakan dari temporalitas adalah bagaimana masa lalu selalu terbuka. Sederhananya, perbincangan tentang masa lalu di masa kini mengandaikan lapisan yang tumbuh dalam berbagai perbincangan sebagaimana pengertian akan sinema yang senantiasa tumbuh, terbuka, dan mengubah cara kita melihat realitas keseharian manusia.
Kelahiran sinema sendiri telah mengubah pengertian waktu, di mana waktu filmis dalam tradisi montase bisa membawa pengalaman yang lebih intens daripada waktu nyata dalam realitas manusia. Siapa kita dalam realitas ini? Siapa kita dalam realitas film yang kita tonton? Pertanyaan ini memberi pengalaman lebih mengenai intensi tentang ruang dan waktu, keserentakan terhadap pengalaman spasial dan temporal, di antara peristiwa yang berlangsung di tempat dan waktu yang berbeda, dan ketakterhinggaan yang tak dapat dilintasi.
Seperti semesta yang terus mereproduksi dirinya sendiri, realitas terus-menerus melampaui yang tak terbatas. Setiap karya membawa detak jantungnya. Berbagai film dalam festival tahun ini merekam ruang-waktu secara alami, tetapi beberapa lainnya juga mementaskan adegan untuk mengarahkan realitas mereka, menghidupkan kembali ingatan kolektif, menyampaikan waktu biologis dan waktu historisnya, serta membuka cara pandang baru terhadap dunia yang kian bising dengan keheningan panjang.
Di dunia yang berubah dengan cepat dan kebenaran yang cair, dokumenter tetap menjadi salah satu dari sedikit tempat kita bisa berhenti sejenak. Ia menjadi tempat untuk merasakan secara mendalam dan melihat kisah-kisah kekuatan dengan berbagai bentuk kekaryaan yang menyatukan kita. Ia merekam hubungan yang terus berkembang antara kamera dan kehidupan yang memiliki struktur ruang-waktunya sendiri.
Melewati lebih dari 2 dasawarsa adalah hal yang tidak pernah dibayangkan Festival Film Dokumenter. Ini bukan angka yang luar biasa. Namun, setiap perjalanan layaknya lorong panjang atas ruang-waktu, seperti yang dinyanyikan Bob Dylan di “Maggie’s Farm”, “I try my best, to be just like I am, but everybody wants you to be just like them” (Aku berusaha menjadi yang terbaik, menjadi diriku sendiri, tapi semua orang menginginkanmu untuk menjadi seperti mereka, lit.). Semoga kegigihan kita semua berumur panjang untuk melintasi kosmos ke berbagai dunia yang lebih besar dari dunia kita sendiri.
Alia Damaihati
Direktur Festival
Update Festival
Tamu Festival
Pembuat FilmAdythia Utama

Adythia Utama
Pembuat FilmAdythia Utama adalah sutradara film yang berdomisili di Jakarta. Ia lulus pada 2010 dengan gelar Sarjana Seni dari Institut Kesenian Jakarta, dengan spesialisasi di bidang dokumenter. Karya-karya audiovisual dan filmnya telah ditayangkan secara internasional.
PembicaraAfrian Purnama

Afrian Purnama
PembicaraAfrian Purnama adalah kritikus, periset seni, pembuat, dan kurator film. Ia juga merupakan redaktur dan editor pelaksana di media kritik film Jurnal Footage pada 2016—2022, editor dan kontributor buku Harimau Tjampa (2021), ko-kurator dan periset pameran film Kultursinema, dan kurator ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival sejak 2013—2020. Afrian adalah sutradara film Golden Memories – Petite Histoire of Indonesian Cinema (2017) dan sinematografer film Amrus Natalsya Yang Membuat Kembali Keluarga Tandus Disendja (2022). Pendiri dan pengurus media kritik film daring Aspek Rasio (aspekrasio.com) ini kini sedang menempuh pendidikan magister Kajian Budaya di Universitas Sanata Dharma.
Pengelola Program, SenimanAgung Kurniawan

Agung Kurniawan
Pengelola Program, SenimanAgung Kurniawan, atau biasa dikenal Agung Leak, lahir pada 14 Maret 1968 di Jember, Jawa Timur. Sejak 1990-an, ia telah aktif di dunia seni. Agung menggunakan banyak media dalam berkarya. Ia membuat gambar, komik, instalasi, hingga wayang. Agung memiliki ketertarikan mengangkat tema dari isu-isu tabu atau isu sensitif, seperti genosida, politik, perempuan, dan transgender.
Komite SeleksiAgus Mediarta

Agus Mediarta
Komite SeleksiTenaga pengajar di prodi film, Universitas Multimedia Nusantara, peneliti lepas, dan salah satu pendiri sekaligus pengelola database online film Indonesia di filmindonesia.or.id. Di masa kuliahnya, Agus Mediarta menekuni minat kajian sejarah politik Indonesia, tetapi beralih ke bidang film saat aktif di komunitas film (Konfiden). Ia pernah mencoba banyak pekerjaan di produksi film, termasuk sebagai programmer film. Perjalanan itu membuatnya membawa minat pada tema film untuk menyelesaikan pendidikan magister sosiologi. Saat ini, Agus juga tercatat sebagai anggota asosiasi Pengkaji Film Indonesia (Kafein).
Pembuat FilmAhmad Brilian Maulana Vitjayanto

Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto
Pembuat FilmAhmad Brilian Maulana Vitjayanto, yang akrab disapa Brian, adalah seorang pembuat film asal Jombang, Indonesia. Sejak 2021, ia aktif dalam bidang audiovisual dan perfilman. Pada 2023, ia melanjutkan studi Film dan Televisi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Visi Brian adalah membuat film yang dapat memberi nilai bagi masyarakat.
Pengelola Program, SenimanAkbar Yumni

Akbar Yumni
Pengelola Program, SenimanAkbar Yumni sempat belajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Ia adalah kurator ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival (2013–2018) dan aktif sebagai periset serta seniman pertunjukan. Beberapa pertunjukannya berbasis arsip film Indonesia yang hilang pada masa rezim otoriter, di antaranya adalah Menonton “Turang” (1957), Menonton “Daerah Hilang” (1956), dan Menonton “Sedap Malam” (1951). Kini, Akbar menjadi anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta untuk periode 2023–2026.
PembicaraAkiq AW

Akiq AW
PembicaraAkiq AW adalah seniman dan kurator yang berbasis di Yogyakarta. Ia merupakan anggota kolektif MES 56. Karyanya telah dipamerkan secara lokal maupun internasional. Ia berpartisipasi dalam EVA International Ireland’s Biennale ke-38 tahun 2018 dan Dak’Art 2018, Biennale Seni Kontemporer Afrika di Dakar, Senegal. Ia juga berpartisipasi dalam pameran Contemporary World di Galeri Nasional Australia, Canberra, Australia, pada 2019. Akiq menjabat sebagai Artistic Director untuk pameran Kuasa Ingatan Archive Festival yang diselenggarakan oleh Indonesian Visual Art Archive (2017) dan menjadi ko-kurator pada edisi ke-15 Jogja Biennale 2019. Pada 2023, ia menginisiasi Jogja Fotografis Festival (JOFFIS) dan masih bekerja sebagai master cetak di Juwara Fine Art Studio.
PenanggapAli Ma’ruf

Ali Ma’ruf
PenanggapAli menulis 2 buku laris berujudul Perihal Cinta Kita Semua Pemula dan Tidak Apa-Apa Sebab Kita Saling Cinta. Karya cerpen terbarunya baru saja diterbitkan oleh Penerbit Banana. Ia memiliki pengalaman 7 tahun sebagai mahasiswa periklanan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan 7 tahun bekerja sebagai jurnalis video di Mojok.co. Selain menulis, Ali mendirikan sebuah toko buku bernama Toko Perihal Cinta dan aktif di beberapa kegiatan literasi sebagai pembicara, host, maupun moderator, seperti Patjarmerah, Jogja Art Book Fest, dan Pesta Buku Jogja.
Pembuat FilmAlifah Melisa

Alifah Melisa
Pembuat Film
Pembuat FilmAngeline Teh

Angeline Teh
Pembuat FilmAngeline Teh adalah pembuat film dokumenter asal Malaysia yang karyanya mengeksplorasi ingatan, duka, dan keintiman sehari-hari. Lulusan DocNomads, film pendek debutnya, Reading You (2023), meraih penghargaan Best Student Documentary di Tirana dan diputar di SGIFF serta Clermont-Ferrand. Saat ini ia tengah mengembangkan film panjang personal tentang trauma lintas generasi.
JuriAnna Har

Anna Har
JuriAnna Har sangat tertarik untuk membangun komunitas, menjalin hubungan, dan mewujudkan dunia yang lebih adil dan setara melalui film. Dia adalah penyelenggara festival, produser dokumenter, dan aktivis hak asasi manusia.
Pembuat FilmArfan Sabran

Arfan Sabran
Pembuat FilmArfan Sabran adalah pembuat dokumenter Indonesia. Dengan debut dokumenternya, Suster Apung, ia berhasil meraih penghargaan Film Terbaik dan Film dengan Sinematografi Terbaik di Eagle Awards 2006. Debut film dokumenter panjangnya, The Flame (Bara), ditayangkan perdana di Visions du Réel 2021. Film dokumenter produksinya, Rabiah dan Mimi, berhasil memenangkan pitching forum di Tokyo Docs Film Festival 2019 serta mendapatkan kesempatan koproduksi internasional dengan TBS Sparkle Tokyo dan tayang perdana di NHK Jepang.
SenimanArif Furqan

Arif Furqan
SenimanSeniman visual yang berdomisili di Yogyakarta, Indonesia. Praktik seni Arif Furqan mengeksplorasi persimpangan kompleks antara memori, sejarah, dan identitas. Melalui berbagai medium; fotografi, praktik arsip dan riset, serta instalasi, karyanya berfokus pada narasi domestik yang intim dan mekanisme rapuh yang digunakan untuk melestarikan dan mentransmisikan memori. Pada 2021, ia menerima penghargaan Prince Claus Seed Award untuk Unhistoried, sebuah proyek seni dan riset yang mengeksplorasi arsip keluarga Indonesia dari era Orde Baru.
Delegasi FilmAsri

Asri
Delegasi Film
Pembuat FilmAziz Hammad Kusteja

Aziz Hammad Kusteja
Pembuat FilmAziz Hammad Kusteja, lahir 2003, adalah seorang animator asal Indonesia. Biasanya berperan sebagai produser, ia telah membuat 22 film pendek dalam 5 tahun terakhir. Ia juga berambisi menciptakan gelombang baru dalam dunia animasi Indonesia. Selain itu, ia turut terlibat dalam film panjang The Fox and Grandma (2025) dan Panji Tengkorak (2025). Our Father Hour (2025) merupakan film dokumenter pendek debutnya.
Pembuat FilmBae Eun-jeong

Bae Eun-jeong
Pembuat FilmSaya mengelola Curtain Call Film Festival, sebuah bioskop komunitas yang menayangkan satu film independen setiap bulannya dan memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan penonton lokal. Melalui film terbaru saya, The Road That Cannot Be Found by Search, saya menggambarkan kekhawatiran para perencana budaya yang bekerja di dalam komunitas lokal dan kehidupan orang-orang yang aktif di bidang-bidang yang belum jelas definisinya.
Pembuat FilmBeny Kristia

Beny Kristia
Pembuat FilmBeny Kristia, lahir di Magelang, menempuh studi di Malang bersama Berakinema. Karya-karyanya telah diputar di berbagai festival nasional dan internasional, termasuk Chicken Awaken (Minikino, Show Me Shorts) dan Jenglotman (BUT, CRASH IFFF). Tertarik pada shitposting, genre fantastik, budaya populer, dan humor morbid, film terakhirnya sebelum pindah ke Jakarta adalah When the Blues Goes Marching In (2025).
Pembuat FilmBichun Yang

Bichun Yang
Pembuat FilmBichun Yang lahir di Provinsi Hubei, Tiongkok, pada 1990. Setelah menamatkan gelar sarjana penerjemahan di Tiongkok, ia melanjutkan studi program MFA di Hong Kong Baptist University. Karya film pendek lulusanya, “小南門” (Xiaonanmen), tayang perdana di Ground Up Student Film Festival ke-4 di Hong Kong. A Land With No Ceremony (2024) merupakan debut dokumenter panjangnya.
PenampilBunga Siagian

Bunga Siagian
PenampilBunga Siagian adalah seniman, kurator, dan produser budaya. Ia menyelesaikan studi masternya pada ilmu Cultural Studies. Bunga memiliki ketertarikan dengan sejarah jaringan Asia-Afrika, internasionalisme Dunia Ketiga, dan komitmen politik-sinematik kelompok kiri pada era dekolonisasi. Praktik kekaryaannya sering mengambil bentuk institusi publik, seperti Mother Bank dan BKP (Badan Kajian Pertanahan), proyek riset artistik yang fokus pada isu perempuan dan pertanahan dengan menempatkan praktiknya pada titik temu antara seni dan pengamalan kerja kolektif.
Pembuat FilmChristopher Erick

Christopher Erick
Pembuat FilmChristopher Erick “Toto” adalah sutradara, penulis, dan sinematografer asal Kudus. Mahasiswa Jurusan Film di Universitas Multimedia Nusantara, karyanya menyoroti pengalaman manusia dan kisah sehari-hari, seperti di filmnya, Forget Me Not (2024) dan Honey & Moon (2025). Kini, ia mengembangkan film naratif berbasis cerita rakyat Indonesia serta dokumenter tentang pemulung Situbondo.
Pembuat FilmCristian Hidalgo

Cristian Hidalgo
Pembuat FilmSeniman visual dan pembuat film lulusan Universidad Nacional de Colombia yang tertarik pada proses penciptaan dan penelitian interdisipliner. Konsep rumah menjadi pusat eksplorasi estetika dan artistiknya sebagai sarana untuk memahami berbagai gagasan terkait tempat tinggal serta cara fisik dan simbolis di mana individu mengonstruksi ruang.
Pembuat FilmDara Asia

Dara Asia
Pembuat FilmKetertarikan Dara Asia terhadap film dimulai saat ia masih di sekolah menengah atas, yang kemudian membawanya pada studi Film dan Televisi di ISI Yogyakarta. Saat ini, ia sedang menempuh studinya dan aktif bekerja sebagai sutradara, penulis skenario, dan produser. Proyek terbarunya meliputi film fiksi pendek In the Space Between dan film dokumenter pendek Salman Aziz: Maestro Tradisi Kampar.
JuriDave Lumenta

Dave Lumenta
JuriDave Lumenta (1971) adalah antropolog di Universitas Indonesia. Minat akademik utamanya mencakup mobilitas transnasional, etnografi wilayah perbatasan, serta praktik seni. Aktivitas lainnya berfokus pada musik dan penulisan musik latar film, dengan dua nominasi Piala Citra untuk film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (Edwin, 2022) dan satu nominasi untuk Kabut Berduri (Edwin, 2024) . Terdapat dua film dokumenter pendek yang dihasilkan dari penelitiannya, Borderless Borneo (2003, bersama Rhino Ariefiansyah) dan Performing Out of Limbo (2018, bersama Rhino Ariefiansyah & Betharia Nurhadist).
Pembuat FilmDhuha Ramadhani

Dhuha Ramadhani
Pembuat FilmDhuha Ramadhani, lahir pada 1995, adalah seniman yang berdomisili di Yogyakarta, Indonesia. Karya-karya Dhuha sebelumnya sering mengeksplorasi tema pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan negara, seperti yang tergambar dalam film-filmnya, Jakarta Unfair (2016) dan Into the Dark (2018).
Pengelola ProgramDito Yuwono

Dito Yuwono
Pengelola ProgramPraktik Dito Yuwono melintasi praktik seni dan kuratorial. Ia membahas isu sosio-politik-historis melalui video dan fotografi. Karyanya telah dipamerkan di Herbert F. Johnson Museum of Art, ISCP New York, JIPFest 2022, Festival Film Dokumenter, dan Cité Internationale des Arts, dan lain-lain. Ia merupakan bagian dari LIR Curator Collective dan alumni Independent Curators International Intensives. Pada 2024, ia ditunjuk sebagai salah satu direktur Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat.
Pembuat FilmEmilianus U. K. Patar

Emilianus U. K. Patar
Pembuat FilmEmilianus U. K. Patar, alias Ken Patar, pembuat film asal Sumba yang tinggal di Kupang. Sejak 2018, menulis, menyutradarai, dan memproduseri film pendek di NTT. Ia aktif di Komunitas Film Kupang dan Flobamora Film Festival. Bersama teman-temannya ia mendirikan Beginner, rumah produksi film independen untuk mendukung sinema independen lokal.
Komite SeleksiEric Sasono

Eric Sasono
Komite SeleksiEric Sasono adalah kritikus film Indonesia yang memperoleh gelar doktor dalam studi film dari King’s College London pada 2019. Selama 10 tahun (2009–2019), Eric menjabat sebagai sekretaris dewan eksekutif YMMFI, Yayasan Masyarakat Film Independen Indonesia, yang mendirikan Indonesian Documentary Center (In-Docs) dan menyelenggarakan Jakarta International Film Festival (JIFFest) yang kini telah berakhir. Eric telah turut menulis sebuah buku tentang industri film Indonesia dan menyunting jilid tentang sinema Asia Tenggara.
Pembuat FilmFachri Ghazali

Fachri Ghazali
Pembuat FilmFachri (lahir di Tangerang, 2000) adalah pembuat film dan video yang berminat pada teknik kamera, praktik visual, seni, dan budaya. Karyanya sering mengangkat isu-isu sosial, menggabungkan arsip, memori kolektif, dan realitas sehari-hari. Bagi Fachri, film dan video bukan sekadar alat perekam, melainkan ruang untuk mengingat, merenung, mengritik, dan berbagi perspektif. Sejak 2025, Fachri menjadi anggota Milisifilem Collective.
JuriFarah Wardani

Farah Wardani
JuriFarah Wardani adalah kurator seni independen, konsultan, dan produser program budaya, yang aktif sejak 2022. Ia merupakan anggota Dewan Pengurus Indonesian Visual Art Archive (IVAA) dan menjabat sebagai anggota Komite Ahli Museum SAKA, Bali. Ia juga tergabung dalam Komite Akuisisi National Gallery Singapore (2024–2027), kurator Program +E Ellipse Art Project di Biennale de Lyon (2024–2026), ketua program Museum Forward EUNIC Indonesia (2024–2025), dan kurator utama ARTJOG (2026–2028).
ModeratorFarida Novieti

Farida Novieti
ModeratorNovi lahir dan tumbuh di Yogyakarta. Sejak 2016, ia bergabung dalam KDM CINEMA, sebuah organisasi yang fokus pada program ekshibisi film. Fokus pada kerja-kerja manajerial, ia kini menempati posisi manajer umum dalam organisasi tersebut.
Pembuat FilmGiorgia Piffaretti

Giorgia Piffaretti
Pembuat FilmGiorgia Piffaretti (1989) adalah seniman multimedia Swiss-Italia yang berdomisili di Amsterdam dan Swiss. Karyanya mengangkat tema-tema sosial politik dengan fokus khusus pada isu feminis dan bentuk-bentuk penindasan yang terselubung. Melintasi bidang seni rupa dan film, ia telah berpartisipasi dalam berbagai pameran internasional dan festival film.
Pembuat FilmHafiz Rancajale

Hafiz Rancajale
Pembuat FilmHafiz Rancajale adalah seniman, kurator, pendidik, dan sineas. Ia merupakan salah satu pendiri Forum Lenteng Jakarta. Ia pernah menjabat sebagai direktur artistik ARKIPEL Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival (2013–2023) serta menjadi pendiri dan direktur artistik OK Video Jakarta International Media Art Festival (2003-2011).
Pembuat FilmHattie Wade

Hattie Wade
Pembuat FilmHattie Wade (Inggris, 1993) adalah seniman berbasis riset. Praktik seninya berakar pada ketertarikan terhadap penyebaran informasi, serta keinginan untuk melawan dominasi narasi sosial dan institusional yang mengancam. Ia tertarik pada cara kekerasan institusional masa lalu direproduksi melalui kerangka hukum dan legislatif, perlindungan warisan budaya, serta penyebaran narasi-narasi tersebut ke dalam masyarakat. Ia melakukan riset kritis, membongkar, dan membangun kembali apa yang tidak terlihat dengan cara yang nyata, dalam bentuk karya digital, video, dan spasial.
Delegasi FilmHelmi Yusron

Helmi Yusron
Delegasi FilmHelmi Yusron (lahir 2001) adalah mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini ia sedang belajar di Milisifilem, salah satu program yang dijalankan oleh Forum Lenteng.
Pembuat FilmHo Bin Kim

Ho Bin Kim
Pembuat FilmHo Bin Kim (lahir 1996), seniman dan pembuat film. Karyanya pernah dipamerkan di 15th Gwangju Biennale Paviliun Jerman, 2nd Seoul Art&Tech, 7th Bangkok Experimental Film Festival, Koganecho Bazaar, dan Julia Stoschek Foundation Screening.
Pembuat FilmIka Wulandari

Ika Wulandari
Pembuat FilmIka Wulandari memulai karier dokumenternya sebagai operator kamera dalam You and I (Fanny Chotimah, 2020), yang meraih berbagai penghargaan di festival film internasional. Debut sutradaranya, Planet of Love (2025), terpilih mengikuti program Yamagata Rough Cut! di Yamagata International Documentary Film Festival 2019. Film tersebut tayang perdana di Jakarta Film Week 2025 dalam program Direction Award.
Pembuat FilmIqbal Keane Kembaren

Iqbal Keane Kembaren
Pembuat FilmIqbal Keane Kembaren adalah sutradara dan produser asal Berastagi, Sumatra Utara. Saat ini ia menempuh studi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Iqbal kerap mengeksplorasi medium film melalui tema-tema relasi manusia dan sistem kepercayaan. Proyek dokumenter terbarunya, A Ghost Story from Reba, telah terpilih dalam IDOCLAB, Indonesia. Saat ini, Iqbal juga tengah mengembangkan beberapa film dari tanah kelahirannya, Tanah Karo.
PembicaraIrwan Sebleku

Irwan Sebleku
PembicaraIrwan Sebleku telah aktif berkarya di dunia produksi film sejak tahun 2015. Ia mengawali kariernya sebagai asisten produksi dalam dokumenter Nokas (Manuel Alberto Maia, 2016). Berbekal pengalaman tersebut, saat ini Irwan berperan sebagai Produser untuk berbagai film, baik fiksi maupun dokumenter. Selain peran produksinya, Irwan fokus pada pengembangan perfilman lokal. Ia terlibat aktif dalam mengelola Flobamora Film Festival. Irwan juga menjadi bagian dari Komite Komunitas Film Kupang dan telah mengembangkan serta menjalankan Workshop Film Pelajar sejak tahun 2022.
Pembuat FilmIvonne Kani

Ivonne Kani
Pembuat FilmIvonne Kani (lahir 1992) adalah pembuat film dan seniman visual asal Indonesia yang berkarya lintas medium dengan pendekatan autoetnografi. Melalui praktik seninya, Ivonne mengeksplorasi penciptaan lapisan makna yang membuka ruang dalam menafsirkan ulang perspektif yang telah mapan. Ivonne adalah peserta EFM DocToolbox 2025.
PembicaraJamaluddin Phonna

Jamaluddin Phonna
PembicaraJamaluddin Phonna adalah pembuat film Indonesia yang mendirikan Aceh Documentary dan Aceh Film Festival. Ia menempuh pendidikan jurnalistik dan saat ini sedang menyelesaikan program magister. Ia pernah menjadi peserta YSEALI dan memenangkan Eagle Awards tahun 2011. Secara rutin, ia menjadi pembicara tamu, mentor, dan narasumber dalam acara film baik di dalam maupun luar negeri, serta menjadi anggota juri untuk Piala Citra FFI 2023.
Juri, Pengelola ProgramJinna Lee

Jinna Lee
Juri, Pengelola ProgramJinna Lee adalah programmer di Ulsan Ulju Mountain Film Festival (UMFF) sejak 2018. Ia menyelesaikan program doktoral studi film di Hanyang University. Sebelum bergabung dengan UMFF, sejak 2005 ia telah bekerja di beberapa festival film di Korea dan menjadi anggota juri di sejumlah festival film. Selain itu, Jinna juga mengkurasi beberapa program yang berkaitan dengan film internasional.
Pembuat FilmJonathan Gradiyan

Jonathan Gradiyan
Pembuat FilmJonathan Gradiyan, pemenang ketiga dalam ajang Europe on Screen Short Film Pitching 2025 dengan filmnya In The Name of Me (2025), adalah mahasiswa Film & TV di IKJ asal Yogyakarta. Berfokus pada pembuatan film dokumenter, ia pernah bekerja sebagai tim Traffic JAFF, mendirikan Pallapa Pictures bersama rekan-rekannya, dan menayangkan film dokumenter hibridanya, Celebration: A Bliss Parade (2024) di berbagai festival, termasuk KKIFF Malay.
Pembuat FilmKae Oktorina

Kae Oktorina
Pembuat FilmKae Oktorina adalah seniman media yang karya-karyanya mengeksplorasi hubungan antara manusia dan alam, persepsi sensorik, serta memori budaya. Karyanya sering memanfaatkan video, animasi, dan media eksperimental untuk menciptakan pengalaman imersif yang mempertanyakan cara kita menghuni lanskap—secara fisik, emosional, dan historis. Meskipun proyek-proyek sebelumnya berfokus pada narasi lingkungan dan pertentangan antara dunia alam dan buatan, dalam Warne Mata, Kae mengalihkan perhatiannya ke sejarah: khususnya, bagaimana warisan kolonialisme terus membentuk identitas, memori, dan rasa memiliki. Terlepas dari tidak adanya pengalaman dengan sinematografi spektrum penuh, ia mengadopsi teknik ini karena kemampuannya untuk mengungkap lapisan-lapisan realitas yang tak terlihat—seperti halnya cerita-cerita tersembunyi di dalam batu permata itu sendiri.
Pembuat FilmKayla Miska

Kayla Miska
Pembuat FilmAktif berkarya melalui medium sketsa, film, dan kolase, dengan fokus pada pembuatan karya seni yang mencerminkan realitas kehidupan dan pengalaman sehari-hari manusia.
Pembuat FilmKim Dong-jin

Kim Dong-jin
Pembuat FilmSeorang kosmopolitan yang membenci totalitarianisme karena pengaruh Kazuki Kaneshiro. Ia membaca My Cultural Heritage Exploration dan menjelajahi Korea Selatan dan Jepang, lalu membaca Res Gestae Populi Romani dan tinggal di Roma.
JuriKrishna Sen

Krishna Sen
JuriKrishna Sen FAHA adalah seorang profesor asal Australia dan pakar internasional dalam kajian media serta Indonesia kontemporer. Ia menjabat sebagai Ketua Perth Centre of PEN International, Professor Emerita di University of Western Australia, dan anggota Senat Murdoch University. Lahir di India dan menetap di Australia, ia mendedikasikan sebagian besar karier akademisnya untuk meneliti dan menulis tentang hubungan antara media dan politik di Indonesia. Fokus akademisnya terhadap isu sensor media, yang berkembang melalui penelitiannya tentang Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto, kini memperkuat perannya di PEN International, khususnya dalam mendukung para penulis yang dipenjara di seluruh dunia.
Pembuat FilmKristoforus Mario

Kristoforus Mario
Pembuat Film
Komite SeleksiLee Yve Vonn

Lee Yve Vonn
Komite SeleksiLee Yve Vonn adalah produser asal Malaysia yang bekerja di Afternoon Pictures, sebuah rumah produksi berbasis di Kuala Lumpur. Ia memproduksi film Oasis of Now karya Chia Chee Sum, yang tayang di Busan New Currents dan Berlinale Forum, dan meraih beberapa penghargaan bergengsi. Ia juga ikut memproduksi film Hungry Ghost Diner karya Wejun Cho, yang memenangkan penghargaan NETPAC dari Bucheon International Fantastic Film Festival, dan saat ini tayang di Netflix Southeast Asia. Selain film fiksi, ia memproduksi Shanghai Quarantopia karya Clarissa Zhang yang berkompetisi di Ji.hlava International Documentary Film Festival.
Pembuat FilmLinda Ochy

Linda Ochy
Pembuat FilmLinda Ochy berkiprah sebagai publisher dan produser film. Salah satu karyanya, Membicarakan Kejujuran Diana (2021), meraih penghargaan Film Cerita Pendek Terpilih Piala Maya 2021 dan Penghargaan Akhir Juri untuk Film Cerita Pendek FFI 2021. Karya terbarunya sebagai sutradara adalah dokumenter Koesroyo: The Last Man Standing (2024).
Pembuat FilmLuthfan Nur Rochman

Luthfan Nur Rochman
Pembuat FilmLulusan Arkeologi ini bekerja sebagai pembuat film di Jakarta dan sehari-hari aktif di Milisifilem Collective. Ia pernah tergabung dalam Lab Laba-Laba. Luthfan juga pernah menjadi kurator dalam beberapa pameran, seperti pameran tunggal Dhanurendra Pandji berjudul Remembrance of Things Past dan Kultursinema #6: Gelora Indonesia.
Pembuat FilmM. Hafidz

M. Hafidz
Pembuat Film
SenimanMaharani Mancanagara

Maharani Mancanagara
SenimanMaharani Mancanagara lahir di Padang, Sumatra Barat pada 1990. Ia adalah lulusan Studio Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, 2013.
Pengelola ProgramMargaux Nemmouchi

Margaux Nemmouchi
Pengelola ProgramMargaux Nemmouchi adalah Direktur Institut français Indonésie di Yogyakarta. Selama lebih dari 10 tahun, ia telah bekerja di sektor kebudayaan di Prancis sebagai Cultural Director di Labo des Histoires, Delegasi Yayasan Marcel Bleustein Blanchet di Pantai Gading sebagai Project Manager Festival Seni Abidjan, dan di Madagaskar sebagai Direktur Alliance Française di Ambositra.
Pembuat FilmMathew Gunawan

Mathew Gunawan
Pembuat Film
PembicaraMin Seong Kim

Min Seong Kim
PembicaraMin Seong Kim (PhD Filsafat, University of Essex) adalah dosen di Program Pascasarjana Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia. Ia menjabat sebagai editor jurnal humaniora interdisipliner Retorik yang diterbitkan oleh universitas yang sama. Minat penelitiannya meliputi pemikiran politik pascafondasional, teori pasca-Marxis tentang ideologi dan wacana, serta ontopolitik Antroposen. Publikasi akademik terbarunya meliputi analisis wacana ideologis Indonesia tentang Pancasila dalam Journal of Political Ideologies; laporan bersama tentang perjuangan petani kecil lokal melawan Bandara Internasional Yogyakarta dalam South East Asia Research; dan bab tentang post-Marxisme dan “pluriverse” lebih-dari-manusia dalam volume Posthuman Southeast Asia: Ecocritical Entanglements Across Species Boundaries.
Pengelola ProgramMira Asriningtyas

Mira Asriningtyas
Pengelola ProgramMira Asriningtyas adalah kurator, penulis, dan salah satu pendiri LIR— art space yang kini menjadi kolektif kuratorial nomaden. Praktiknya berfokus pada karya-karya yang berbasis lokasi, berorientasi sosial, dan dekolonial, yang mengeksplorasi sejarah, ekologi, serta menanggapi konteks sosial-politik saat ini. Ia telah menjadi kurator pameran dan program publik skala internasional, dan tulisannya dimuat dalam buku dan jurnal seperti PARSE dan Stedelijk Studies. Pada 2017, ia menginisiasi 900mdpl, proyek situs-spesifik di Kaliurang, Yogyakarta. Pada 2024, bersama Dito Yuwono, ia menjadi direktur Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat di Yogyakarta.
Pembuat FilmMisbahul Khoir

Misbahul Khoir
Pembuat FilmMisbahul Khoir adalah seorang pejalan lulusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga.
Pembuat FilmMoon Hye-jung

Moon Hye-jung
Pembuat Film
Pembuat FilmMuhammad Al Hafiz

Muhammad Al Hafiz
Pembuat FilmMuhammad Al Hafiz adalah remaja kelahiran 2008 yang saat ini bersekolah di SMK Negeri 1 Bireuen. Ia memiliki minat di bidang kreatif yang mengantarkannya berkecimpung di bidang perfilman. Terpaksa Liar (2025) adalah karya pertamanya.
Pembuat FilmMuhammad Bakti Akbar

Muhammad Bakti Akbar
Pembuat FilmMuhammad Bakti Akbar, lahir pada 3 Agustus 2004. Ia memutuskan untuk mengembangkan hobi dan mendaftar di sekolah menengah kejuruan (SMK) yang berfokus pada film, SMKN 1 Batumandi, tempat ia bergabung dengan komunitas Team Creative Multimedia dan telah menghasilkan beberapa karya. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan diploma di Jogja Film Academy.
PembicaraNanki Nirmanto

Nanki Nirmanto
PembicaraMengenal dunia film sejak SMA dan berhasil membuat sebuah film pendek bersama teman-temannya, di tahun yang sama Nanki kemudian memproduksi dokumenter Bumi Khayalan yang menjadi nominasi Festival Film Dokumenter 2007 kategori pemula. Setelah lulus SMA, ia bergabung dengan Cinema Lovers Community (CLC) hingga sekarang. Karyanya, Srikandi Ujung Kidul, menjadi Champion dalam Community Journalism Competition Community Entrepreneurs Challenge Wave III pada 2013. Ia terlibat dalam penyelenggara Festival Film Purbalingga (FFP) dan sejak 2022 menjadi Direktur Festival.
Pembuat FilmNavin Dharma

Navin Dharma
Pembuat FilmNavin Dharma (lahir 2002) adalah seorang sutradara yang berbasis di Jakarta. Ia merupakan seorang mahasiswa film yang terlibat dalam menyutradarai 3 film pendek fiksi, 1 film pendek dokumenter, dan menulis 4 film pendek. Navin juga aktif sebagai ketua komunitas Popsicle yang bergerak di bidang penayangan dan eksibisi film pendek dalam area kampus.
JuriNia Dinata

Nia Dinata
JuriNia Dinata, lahir di Jakarta pada 1970, menempuh pendidikan film di Amerika Serikat sebelum bergabung dengan para pembuat film Indonesia pasca-reformasi 1998. Film debutnya, Ca-bau-kan (2001) yang disusul dengan Arisan! (2003), mengangkat tema-tema sosial yang berani. Berbagi Suami (2006) mengukuhkan posisinya sebagai sutradara perempuan terkemuka, meraih penghargaan di Tribeca dan Hawaii. Sebagai penerima beasiswa Eisenhower 2008 dan Young Global Leader 2009, ia terus berkontribusi dengan mengadakan lokakarya Project Change! dari Kalyana Shira Foundation yang memberikan pelatihan bagi sutradara-sutradara pemula.
Pembuat FilmNicolle Bussien

Nicolle Bussien
Pembuat FilmNicolle Aïcha Bussien (1991) adalah seniman multidisiplin asal Swiss yang berdomisili di Zurich. Praktik seninya berbasis pada riset yang mengeksplorasi tema kepemilikan, keterasingan, perlawanan, dan keamanan, serta menantang diskriminasi kelas dan rasisme struktural. Melalui karya-karyanya yang beragam, termasuk film, fotografi, instalasi, dan teks, ia aktif berpartisipasi dalam pameran internasional.
Pembuat FilmNisa Ramadani

Nisa Ramadani
Pembuat FilmNisa Ramadani adalah seniman muda yang menggunakan tubuh sebagai bahasa utama ekspresinya dan kerap bekerja dengan materialitas benda-benda sehari-hari sebagai titik awal untuk menciptakan metafora, baik puitis maupun keseharian.
JuriOndřej Kamenický

Ondřej Kamenický
JuriOndřej Kamenický adalah Direktur One World International Human Rights Film Festival. Festival ini diselenggarakan di Praha dan 56 kota dan daerah lain di Republik Ceko, menayangkan film dokumenter dan fiksi tentang hak asasi manusia, isu sosial, politik, lingkungan, dan media. Kegiatan festival meliputi sesi tanya jawab, debat panel, acara realitas virtual, proyek dampak sosial, pemutaran film untuk sekolah, dan East Doc Platform untuk industri film. One World mendistribusikan film, membantu festival baru, dan menyelenggarakan beberapa acara lanjutan festival di seluruh dunia.
Delegasi FilmOtty Widasari

Otty Widasari
Delegasi FilmOtty Widasari (Balikpapan, 1973) adalah seorang seniman, pembuat filem, dan salah satu pendiri Forum Lenteng, sebuah kolektif di Jakarta yang berfokus pada seni, media, dan studi sosial budaya. Praktik artistiknya dipupuk oleh keterlibatannya dalam aktivisme media, pengalaman jurnalistik yang berhubungan dengan aktualitas sosial dan sejarah, serta studi dan ketertarikannya pada film. Ia adalah pemimpin redaksi Akumassa, sebuah platform kolaboratif dengan kolektif/komunitas lokal di Indonesia untuk mengadakan lokakarya dan memproduksi berbagai bentuk media komunikasi. Ia juga merupakan Ketua Selektor untuk ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival.
Pembuat FilmPark Min-kyung

Park Min-kyung
Pembuat FilmSelama masa sekolah, kebahagiaan terbesar saya datang dari berpartisipasi dalam klub film bernama Cinéma Tech, di mana kami menonton dan mendiskusikan film bersama. Kemudian, saya mengambil jurusan seni visual dan kini mengajar mata kuliah seni di universitas. Setelah mewujudkan impian lama saya untuk memproduksi film dokumenter pertama, saya terus mengeksplorasi dan memotret hubungan antara manusia, serta antara manusia dan lingkungan, melalui kamera saya. Dalam proses ini, citra visual yang berasal dari praktik seni saya secara alami menemukan tempatnya dalam film-film saya.
Bekerja secara bersamaan sebagai seniman dan pembuat film, saya berusaha tidak menjelaskan sesuatu secara sepihak, melainkan mengekspresikannya layaknya puisi visual. Saya percaya penting untuk terus mempertanyakan diri sendiri, mencari jawaban baru, dan secara terus-menerus berbagi pertanyaan dan penemuan tersebut dengan orang lain.
Pembuat FilmRafael Marius

Rafael Marius
Pembuat FilmRafael Marius adalah lulusan Tata Kelola Seni yang aktif pada bidang pengelolaan festival dan penulisan kritik seni rupa dan film.
Pembuat FilmRiandhani Yudha Pamungkas

Riandhani Yudha Pamungkas
Pembuat FilmRiandhani Yudha Pamungkas memulai kariernya sebagai sutradara film dokumenter dan komersial pada 2012. Film dokumenternya, Etanan (2018) dan Maramba (2022), masuk dalam nominasi Film Dokumenter Pendek Terbaik di Festival Film Indonesia pada 2019 dan 2022.
PembicaraRiar Rizaldi

Riar Rizaldi
PembicaraRiar Rizaldi aktif berkarya sebagai seniman dan pembuat film. Karyanya mengeksplorasi hubungan antara sains, teknologi, tenaga kerja, dan alam, serta pandangan dunia yang bertentangan, sinema genre, dan kemungkinan fiksi teoretis. Karyanya telah ditampilkan di berbagai festival film internasional (termasuk Berlinale, Locarno, IFFR, FID Marseille, Viennale, BFI London, Cinema du Reel, Vancouver, dll.) serta Singapore Biennale (2025), Thailand Biennale (2025), Museum of Modern Art New York (2024), Whitney Biennial (2024), Taipei Biennial (2023), Istanbul Biennial (2022 & 2025), Venice Architecture Biennale (2021), Biennale Jogja (2021), Centre Pompidou Paris (2021), Galeri Nasional Indonesia (2019), dan tempat-tempat serta institusi lainnya. Pameran tunggal dan program fokus terbaru telah diselenggarakan di Almanac, Turin (2025); Gasworks, London (2024); Institut Seni Kontemporer, London (2024); Z33 – House for Contemporary Art, Design & Architecture, Hasselt (2024); Centre de la Photographie Genève (2023); dan Batalha Centro de Cinema, Porto (2023), dan masih banyak lagi.
JuriRisa Permanadeli

Risa Permanadeli
JuriRisa Permanadeli adalah Direktur Center for Social Representations Studies dan lulusan École des Hautes Études en Sciences Sociales, Paris, Prancis. Ia fokus pada kegiatan penelitiannya untuk mempelajari fenomena sosial lokal seperti kekuasaan, perempuan, gerakan urban, tradisi lisan, dan cerita hantu guna mengidentifikasi aspek sosiogenetik dari fenomena-fenomena tersebut dalam masyarakat non-modern/non-Barat. Saat ini, ia merupakan anggota dari Reseaux Mondial Serge Moscovici, Prancis, dan tim kerja internasional untuk Indigenous Psychology.
PembicaraRizki Lazuardi

Rizki Lazuardi
PembicaraRizki Lazuardi (lahir 1982) adalah seniman dan kurator Indonesia yang aktif bekerja dengan media gambar bergerak dan sinema eksperimental. Setelah menyelesaikan studi filmnya di HFBK University of Fine Arts Hamburg, Lazuardi melakukan riset artistik tentang arsip kolonial di Netherlands Institute for Sound and Vision. Selama dekade terakhir, berbagai karya Lazuardi berusaha mengungkap dinamika kekuasaan yang terjalin dalam praktik pengarsipan, baik pada tingkat formal-institusional maupun amatir-vernakular. Karya dan program kuratorialnya telah dipamerkan di Image Forum Tokyo, Berlinale Forum, EMAF Osnabrück, Jakarta Biennale, TOKAS, dan Yamagata International Documentary Film Festival. Instalasi film multi-saluran terbarunya, Operation Thunder Tooth, merupakan salah satu karya yang dikomisikan oleh Singapore Biennale 2025. Selain praktik studionya, Lazuardi juga menginisiasi Palapa Screening Program, platform sinema mikro untuk berbagai jenis film alternatif di Bandung, Indonesia.
Pengelola ProgramShelma Feraniza

Shelma Feraniza
Pengelola ProgramSebagai seorang penggemar film yang gemar menjelajahi seni, budaya, dan kreativitas, Shelma Feraniza menghabiskan waktunya dengan berpartisipasi dalam proyek dan acara yang berkaitan dengan film. Ia berupaya untuk memperdalam pemahaman tentang sinema dan berbagi apresiasi film dengan khalayak yang lebih luas.
Pembuat FilmShelvira Alyya

Shelvira Alyya
Pembuat FilmShelvira Alyya (Bandung, Indonesia) adalah seorang seniman dan pengajar. Ia lulus dari Program Film dan Televisi di Universitas Pendidikan Indonesia. Selain mengembangkan karya seninya, ia juga aktif sebagai pelatih tari dan seni peran, kurator, dan pemrograman film. Film-filmnya telah ditayangkan di beberapa festival nasional dan internasional, termasuk ARKIPEL 2024 dan Art Beats Festival 2023-2024.
Pembuat FilmStar Jessalyn Sunaryadi

Star Jessalyn Sunaryadi
Pembuat FilmStar Jessalyn “Mei” percaya pada kekuatan film untuk menjembatani budaya dan komunitas. Mahasiswi Jurusan Film tingkat akhir di Universitas Multimedia Nusantara, ia aktif mengembangkan keahliannya dalam manajemen dan pasar film melalui JAFF Market, UCIFEST 16, dan Minikino Film Week 11 Short Film Market. Honey & Moon (2025) merupakan film pendek pertamanya sebagai produser.
Pembuat FilmSuharditia Trisna

Suharditia Trisna
Pembuat FilmSuharditia Trisna, biasa disapa Tia, lahir di Bekasi pada tahun 1997. Tia sangat tertarik pada isu-isu pelanggaran hak asasi manusia dan sejarah. Melalui filmnya, Tia berharap dapat memperkuat solidaritas antarkelompok rentan.
SenimanSuvi Wahyudianto

Suvi Wahyudianto
SenimanSuvi Wahyudianto lahir di Bangkalan, Madura, pada 28 April 1992. Ia adalah seniman muda yang baru saja menyelesaikan studi doktoral di ISI Yogyakarta. Melalui elaborasi pendekatan autoetnografi ke dalam karya seni, fokus Suvi adalah menciptakan karya-karya yang berusaha mengungkap narasi baru sebagai tandingan dari narasi arus utama. Eksplorasi puitis tersebut kerap diterjemahkan ke dalam berbagai teknik penciptaan dan pengolahan medium yang beragam, mulai dari lukisan, instalasi, hingga karya berbasis teks.
Pembuat FilmSyarifa Amira Satrioputri

Syarifa Amira Satrioputri
Pembuat Film
JuriTaichi Ishikawa

Taichi Ishikawa
JuriSementara berkarya sebagai sutradara film fiksi, Taichi Ishikawa telah berpartisipasi aktif dalam Yamagata International Documentary Film Festival sejak 2019. Ia menjabat sebagai Associate Coordinator untuk program New Asian Currents pada edisi 2025 festival tersebut.
JuriTan Pin Pin

Tan Pin Pin
JuriTan Pin Pin adalah seorang seniman dan pembuat film asal Singapura yang percaya bahwa berkarya seni adalah cara untuk memahami diri sendiri serta tempat dan masa dari mana ia berasal. Ia dikenal karena film-film inovatifnya tentang Singapura, termasuk Singapore GaGa (2005), Invisible City (2007), IN TIME TO COME (2017), dan To Singapore, with Love (2013). Ia pernah mengadakan pameran retrospektif di Montreal International Documentary Festival (RIDM), Dok Leipzig, dan Flaherty Seminar.
JuriTaufiqurrahman Kifu

Taufiqurrahman Kifu
JuriTaufiqurrahman Kifu adalah seniman multidisiplin yang juga telah mengkurasi beberapa pameran seni. Saat ini, ia menjabat sebagai selektor dan kurator di ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival, serta Direktur Artistik Festival Film Tengah di Palu. Filmnya, A Tale of the Crocodile’s Twin (2022), mendapatkan Jury’s Special Mention di Kurzfilmtage Oberhausen 2023. Film ini juga telah ditayangkan di berbagai festival internasional lainnya dan dipamerkan di beberapa forum akademik dan konferensi sinema.
SenimanTehato

Tehato
SenimanTehato adalah seniman dan desainer grafis yang berbasis di Yogyakarta, Indonesia. Dalam karyanya, ia mengolah kisah rakyat, sejarah, mitos, serta isu sosial, menjadi figur-figur dengan gaya visual dekoratif. Ia pernah mengikuti Residensi Seniman Pasca Terampil (2020) di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK). Hingga kini, Tehato aktif terlibat dalam berbagai pameran, antara lain Ancient Indonesian Military Conquest di Erasmus Huis Jakarta (2019), Excursion di Galeri Nasional (2019), Melipat Senjang di PSBK (2020), dan Timelapse di Museum Benteng Vredeburg (2023).
JuriThomas Barker

Thomas Barker
JuriThomas Barker adalah Profesor Kehormatan di Australian National University. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Kepala Fakultas di University of Nottingham Malaysia, dan menjadi peneliti tamu di UCLA, National Chengchi University, National University of Singapore, dan National Library of Australia. Ia pernah menjadi anggota juri untuk International Documentary Association dan Freedom Film Festival Malaysia, serta menulis untuk Far East Film Festival. Ia telah menulis secara ekstensif tentang industri perfilman Indonesia dan Asia Tenggara.
Komite Seleksi, Moderator, Pengelola ProgramValencia Winata

Valencia Winata
Komite Seleksi, Moderator, Pengelola ProgramValencia Winata adalah peneliti film yang telah membuat beberapa video pendek. Sejak 2024, ia merupakan bagian dari komite seleksi ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival. Ia juga pernah menjadi bagian dari tim database di Forum Film Dokumenter, Yogyakarta, yang mengelola koleksi film dokumenter Indonesia. Saat ini, ia sedang melanjutkan pendidikannya di bidang Kajian Budaya di Universitas Sanata Dharma. Penelitiannya berfokus pada sejarah, estetika, dan budaya film.
Pembuat FilmVibinur Wulandari

Vibinur Wulandari
Pembuat FilmVibinur Wulandari adalah seorang produser film yang berbasis di Yogyakarta dan Malang, Indonesia. Ia aktif berkarya di berbagai bidang audiovisual, termasuk film pendek, dokumenter, serial, iklan, dan video musik.
Pembicara, Pengelola ProgramWimo A Bayang

Wimo A Bayang
Pembicara, Pengelola ProgramWimo Ambala Bayang (lahir 1976) adalah seniman multidisiplin dan kurator yang berbasis di Yogyakarta. Lulusan Institut Seni Indonesia, ia bekerja dengan fotografi, video, dan teks untuk mengeksplorasi memori, sejarah, dan kebiasaan sehari-hari. Pada 2002, ia turut mendirikan Ruang MES 56, sebuah kolektif yang mendorong perkembangan fotografi dalam seni kontemporer. Ia telah mengikuti residensi internasional dan mengkurasi proyek-proyek di Asia dan Eropa.
ModeratorWok The Rock

Wok The Rock
ModeratorWok The Rock adalah seniman dengan praktik yang melintasi ranah visual, bunyi, dan relasi sosial. Ia mengeksplorasi kerja-kerja kolaboratif, eksperimental, dan lintas disiplin dalam berbagai kegiatan artistik yang terbuka dan berkelanjutan. Wok merupakan anggota kolektif seni MES 56 serta mengelola label musik Yes No Wave Music. Film dokumenter pendeknya, Wisisi Nit Meke (2023), meraih Piala Citra di Festival Film Indonesia 2023 sebagai Dokumenter Pendek Terbaik. Ia adalah ko-kurator platform musik GAUNG dan kini menguratori panggung Yes No Klub di Pestapora.
Pengelola ProgramYosua Imantaka

Yosua Imantaka
Pengelola ProgramYosua Imantaka adalah staf program di In-docs, sebuah organisasi yang berfokus pada pengembangan ekosistem film dokumenter Asia. Ia terlibat dalam Docs by the Sea, sebuah laboratorium dan forum film dokumenter yang berbasis di Indonesia, sembari turut serta dalam program festival film dan pemutaran film komunitas.
Pembuat FilmYu So-young

Yu So-young
Pembuat FilmYu adalah seorang pencinta hiburan yang senang menonton film. Water Celery (2022) adalah debut penyutradaraan dokumenter pendeknya.
Pembuat FilmYuki Aditya

Yuki Aditya
Pembuat FilmYuki Aditya merupakan lulusan Jurusan Administrasi Fiskal Universitas Indonesia dan sempat bekerja sebagai Auditor Perpajakan di sebuah Kantor Akuntan Publik di Jakarta. Sejak 2013, ia mengisi posisi sebagai Direktur Festival ARKIPEL International Documentary and Experimental Film Festival. Yuki merupakan produser dari film-film yang diproduksi oleh Forum Lenteng, meliputi Golden Memories: Petite Histoire of Indonesian Cinema (2018), Om Pius… This is My Home Come the Sleeping (2019), Dolo (2021). Bersama I Gde Mika, ia menyutradarai The Hypothesis of Wandering Images of Jakarta (2021) dan The Myriad of Faces of Future Challengers (2022).
Pembuat FilmZahra Zulya

Zahra Zulya
Pembuat FilmZahra Zulya adalah seorang mahasiswa Universitas Indonesia. Ia telah menjadi anggota aktif Milisifilem Collective sejak tahun 2025.









































