• 7 film

PERSPEKTIF

Pada awal perkembangannya, sejarah mencatat bagaimana manusia kebingungan dalam menghadapi isu kesehatan mental. Masalah mental kerap kali dianggap sebagai ketidaknormalan yang menghinggapi manusia; kegilaan. Institusi kejiwaan, eksperimentasi dalam penanganan pasien, dan lahirnya pengetahuan (ilmu) atas hal tersebut merupakan bukti bagaimana kekuasaan hadir sekaligus berkaitan dengan persoalan kesehatan mental.

Kali ini, Program Perspektif hendak memperluas pembicaraan terkait isu kesehatan mental yang terjadi di sekitar kita. Dengan tidak terpaku pada persoalan klinis semata, kami mencoba untuk menghadirkan beragam aspek dan pendekatan lain dalam mengerangkai program ini melalui tujuh film pilihan.

FILM
48 years: Silent Dictator
48 years: Silent Dictator
Sunairi Hiroshi
76 min.
Anxiety of Concrete
Anxiety of Concrete
Yunmi Jang
35 min.
China Man
China Man
Jerrel Chow
24 min.
Good Neighbours
Good Neighbours
Stella van Voorst van Beest
80 min.
Love Talk
Love Talk
SHEN Ko-shang
88 min.
Turning 18
Turning 18
Ho Chao-ti
87 min.
Village of Swimming Cows
Village of Swimming Cows
Katarzyna Trzaska
78 min.

Doctalk

Kesehatan Mental dan Kebahagiaan yang Tidak Sederhana

Orang-orang yang mengalami masalah mental telah sangat lama dilekatkan dengan berbagai stigma buruk—gila, aneh, berlebihan, terlalu sensitif, dan masih banyak lagi. Kegagapan masyarakat dalam menghadapi orang-orang yang dianggap bermasalah ini kemudian diwujudkan dalam praktik-praktik pendisiplinan; dikurung, dipasung, atau  diasingkan. Berbagai mitos dibangun. Apa yang dianggap normal dan tidak normal dibekukan dalam ilmu pengetahuan dan dilembagakan untuk mengafirmasi praktik-praktik peliyanan dan pendisiplinan.

Seiring waktu, isu kesehatan mental kian populer. Kini, narasinya pun berubah menjadi lebih positif, dari “penyakit mental” yang penuh dengan stigma, ke pentingnya menjaga “kesehatan mental”. Paling tidak sejak dua tahun terakhir, isu kesehatan mental hiruk pikuk di media dan produk-produk budaya populer. Perkembangan narasi ini membuat praktik-praktik peliyanan dan pendisiplinan berupaya menjadi lebih ’manusiawi’. Upaya mengurung, membelenggu, mengamankan masyarakat dari orang-orang dengan masalah mental, berganti ke ajakan-ajakan untuk mencintai diri yang terasa lebih membebaskan.

Dalam dunia yang serba cepat dan tuntutan sosial yang berjejal, kecemasan kian meningkat. Kita pun tidak punya waktu untuk memikirkan dan memahami diri. Oleh karenanya, muncul bentuk-bentuk kesadaran untuk mencoba peka (aware) pada kondisi fisik-mental kita; semacam mekanisme untuk mampu mengatur dan merawat diri sendiri. Praktik-praktik gaya hidup sehat dan perawatan diri menjadi kian digemari masyarakat sebagai cara untuk menenangkan hati. Di hidup yang sesak informasi, distraksi diobati dengan meditasi. Konten-konten media dan aplikasi telepon genggam mengajak untuk menjalankan tipe-tipe rutinitas pagi yang menyehatkan. Budaya berolahraga digiatkan kembali. Beberapa orang tertib memakan makanan super sehat untuk mengurangi kecemasan—karena adanya fakta bahwa obat antidepresan tidak efektif dan memiliki efek samping. Semua ini merupakan ragam upaya yang dianggap mampu menenangkan dan membahagiakan diri di dunia modern yang pelik; yang melelahkan mental-mental kita.

Kesadaran untuk membongkar stigma buruk memang menjadi momen penting bagi kawan-kawan dengan masalah mental—yang selama ini terbungkam dan tereksklusi dari masyarakat—untuk bersuara dan memiliki opsi-opsi yang lebih baik. Meski demikian, kesadaran untuk meruntuhkan stigma mungkin baru satu hal. Pertanyaannya, apakah tawaran-tawaran solusi yang dihadirkan kemudian membebaskan seseorang dari praktik-praktik kekuasaan, ataukah justru semakin membelenggu individu dengan menciptakan ilusi-ilusi?

Ajakan-ajakan kepedulian untuk merawat dan mencintai diri menjadi justifikasi untuk membahagiakan diri sendiri melalui konsumsi produk; semata-mata demi kedamaian hati. Kebahagiaan menjadi sesuatu yang harus dibeli. Mungkinkah kita semakin tertekan karena tidak sanggup memenuhi hasrat-hasrat (baca: membeli pengalaman) yang dipercaya mampu membantu masalah mental kita membaik?

Kemudian, bagaimana dengan kontribusi orang-orang di sekitar? Tidakkah masalah-masalah individu ini juga merupakan bagian dari lingkungan sosial yang lebih luas? Apakah tawaran untuk menyelesaikan masalah kita sendiri muncul karena frustasi pada masyarakat dan sistem yang tidak berfungsi?

Sejak dulu hingga kini, ketidakadilan adalah benang merah dari masalah mental. Tahun ini, program Perspektif ingin mengupas isu kesehatan mental dengan berpijak pada cara pandang tersebut. Persoalan mental adalah persoalan relasi kuasa. Masalah-masalah mental muncul karena mencoba memenuhi ekspektasi sosial. Penilaian masyarakat dan citra diri ideal menjadi sesuatu yang begitu penting hingga menimbulkan kecemasan tiada akhir. Kami sepakat bahwa semakin besar ketidaksetaraan terjadi, semakin tinggi pula risiko mengalami masalah mental.

Kami berharap, diskusi ini menjadi ruang temu untuk menilik kembali tentang kondisi kita saat ini; bagaimana kita memahami, memandang dan bersikap terhadap masalah mental yang ada di sekitar kita.

(*) Diskusi ini merupakan rangkaian dari program Perspektif. Untuk dapat mengikuti diskusi, penonton sangat dianjurkan menyaksikan pemutaran film-film Perspektif sepanjang festival berlangsung.

  • Lanjut baca

Pembicara

Rifki Akbar Pratama

Rifki Akbar Pratama

Mengisi waktu luangnya dengan menjadi peneliti dalam program Sekolah Salah Didik yang diinisiasi oleh Kunci Study Forum & Collective. Sejauh ini, ia menaruh perhatian lebih pada studi pengambilan keputusan, politik afeksi, juga kajian agraria. Keterlibatan psikolog dalam peristiwa ’65 dan hubungan antara kerja dengan kondisi mental ialah topik yang akhir-akhir ini ia telusuri. Kini, ia sedang gemar melakukan riset personal bersandar pada psikologi kultural-historis Lev Vygotsky: sebuah irisan antara psikologi, budaya, dan sejarah. Belakangan ini, ia juga mengakomodir pertemuan rutin @id.overthinkers, sebuah support group eksperimental berbasis di Yogyakarta. Ia bisa ditemui di @rifkiap__ juga [email protected] untuk korespondensi lebih jauh.

Pembicara - Shalfia Fala Pratika

Shalfia Fala Pratika

Lahir di Muntilan pada 15 Juni 1998. Mahasiswi Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada yang sedang berusaha menyelesaikan skripsinya. Sejak remaja tertarik dengan film dan feminisme. 3 tahun yang lalu didiagnosa mengidap Bipolar Personality Disorder dan hingga saat ini masih teratur pergi ke psikiater dan psikolog.

Close Menu