Strategi Festival, Kerja Kuratorial, dan Kelindan Keduanya 

— Berita
FFD 2025

Kelas panel Curatorship & Context: Strategy of Festival & Networking dilaksanakan di Pascasarjana ISI Yogyakarta (26/11) sebagai seri kelas panel Festival Film Dokumenter 2025 yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI. Kelas ini menghadirkan Ondřej Kamenický, Direktur Program One World International Film Festival, dan Alia Swastika, kurator seni rupa dan Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta. Dipandu oleh Dinda Intan Pramesti Putri, sesi ini menyoroti bagaimana kuratorial dalam sebuah festival berkembang dari sekadar memilih karya menjadi proses pembentukan konteks, arah jaringan, dan arena representasi.

Dinda Intan membuka sesi dengan penjelasan rancangan kelas yang diintensikan untuk mengurai cara kurasi bekerja di balik layar festival; bahwa keputusan pemrogram memiliki efek berlapis: pada film, pada pembuatnya, pada audiens, dan bahkan pada ekologi kebudayaan yang lebih luas. Kelas ini mencoba untuk menganalisis bagaimana strategi di tingkat festival menciptakan arah baru dalam jaringan internasional.

Sejak kalimat pertamanya, Ondřej menegaskan bahwa kerja kurasi festival bukan teknis, melainkan politis dalam arti struktural. Mengacu pada pengalamannya di One World International Film Festival (atau One World)—salah satu festival dokumenter terbesar di dunia yang berfokus pada isu HAM—ia menjelaskan bahwa program festival harus dibangun berdasarkan keberanian untuk memberi ruang pada suara yang mungkin tidak mendapat tempat di platform arus utama. Menurutnya, alih-alih sebagai aggregator film, festival menjadi mediator akses yang menentukan siapa yang perlu didengar dan kapan suara itu tiba di publik. Mengacu pada pernyataan tersebut, Ondřej menyatakan bahwa strategi kuratorial adalah keputusan etis, bukan prosedural.

Ondřej kemudian menguraikan tiga lapisan kerja kurasi dalam festival: penemuan film, pembentukan konteks pemutaran, dan penjembatanan film dengan penontonnya. Ia menceritakan bagaimana film yang dipilih One World seringkali datang dari wilayah konflik, struktur koersif negara, atau komunitas rentan, sehingga pemrograman festival tidak pernah bisa dilepaskan dari realitas sosial-politik tersebut. Dalam banyak kasus, strategi kurasi adalah strategi perlindungan yang memastikan bahwa film dan pembuatnya tampil tanpa dieksploitasi dan tanpa diperas menjadi berita sensasional. Baginya, festival adalah ruang aman di mana suara yang sering dibungkam dapat digaungkan.

Ketika pertanyaan mengenai bagaimana strategi jaringan dilangsungkan secara praktis, Ondřej menanggapi bahwa festival tidak hanya berlangsung selama hari-hari pemutaran, tetapi sepanjang tahun melalui jaringan pendanaan, laboratorium pengembangan, market, residensi, co-production meeting, hingga advokasi kebijakan budaya. Ia menekankan istilah “networking as infrastructure” (berjejaring/jaringan adalah infrastruktur), yaitu gagasan bahwa festival bertahan bukan karena ukurannya, tetapi karena kemampuannya membangun hubungan jangka panjang. Hubungan yang dimaksud meliputi hubungan antara pembuat film, institusi, platform distribusi, peneliti, hingga organisasi sosial yang relevan dengan tema film.

Pada bagian sesi kedua kelas, Alia Swastika membawa panel ke arah yang berbasis pengalaman tubuh kuratorial dalam seni kontemporer. Berbeda dari Ondřej yang memulai dari kerangka festival HAM, Alia membahas kuratorial sebagai praktik relasional: seni yang hidup dalam jaringan kekuasaan, bahasa, sejarah, dan institusi. Ia mengungkapkan bahwa kurator selalu berhadapan dengan struktur yang tidak netral, baik dalam konteks ruang galeri maupun festival. Keputusan kuratorial selalu berkelindan dengan politik representasi; siapa yang tampil, siapa yang ditinggalkan, siapa yang dibawa ke panggung global, dan dalam bingkai apa.

Alia menyoroti fenomena meningkatnya ekspektasi ideologis terhadap kurator, terutama dalam lanskap global. Ia mengingat masa ketika ruang alternatif bekerja sebagai perlawanan terhadap institusi mapan, lalu bagaimana bienial yang dulu diposisikan sebagai ruang kontestasi akhirnya perlahan menjadi sistem sendiri yang memiliki tuntutan politik, ekonomi, dan pendanaan. Dalam keadaan seperti itu, menurutnya, kurator perlu menjaga integritas kerja bukan dengan menjadi penentu makna, tetapi pembuka kemungkinan. Ia menyatakan bahwa kurasi mengandung risiko menjadi terlalu dominatif, seolah kurator adalah otoritas absolut atas karya. Tantangan terbesar adalah menahan godaan itu, sekaligus tetap memberi penonton peta pendekatan tanpa menjebak mereka dalam satu arah interpretasi.

Baik Ondřej dan Alia, keduanya bertemu dalam satu titik pikir bahwa praktik kuratorial adalah kerja produksi pengetahuan. Film atau karya seni tidak membawa pengetahuan yang utuh sendirian, tetapi disusun pengetahuannya melalui cara ia diperlihatkan, dijelaskan, dirayakan, atau bahkan diperdebatkan. Keduanya sepakat bahwa pemrograman—baik dalam festival film maupun bienial—bukan sekadar daftar karya, melainkan kerangka berpikir yang dapat mengubah cara masyarakat memandang dunia.

Pandangan itu semakin terlihat ketika moderator mengangkat pertanyaan mengenai bagaimana festival dan institusi seni menavigasi kontroversi. Ondřej menanggapi bahwa kontroversi adalah sesuatu yang dihadapi ketika festival memilih untuk tidak menjauh dari isu penting. Ia menyebut bahwa bagi One World, kritik publik adalah bukti bahwa festival memunculkan percakapan. Namun, ia juga mengakui bahwa festival harus tetap bertanggung jawab dalam cara mempresentasikan film dan pembuatnya—tidak menjadikan trauma sebagai tontonan, tidak memperebutkan penderitaan sebagai komoditas.

Alia menambahkan bahwa perdebatan publik bukan sesuatu yang mesti ditakuti. Ia menyoroti bahwa kesalahpahaman terhadap kurator sering terjadi ketika publik ingin karya atau festival membawa jawaban tunggal. Padahal, bagi seni, pertanyaan seringkali jauh lebih penting daripada jawaban. Ia mengatakan bahwa dalam jaringan internasional, kurator harus menjaga keseimbangan antara menyuarakan konteks global dan mempertahankan sensitivitas lokal. Setiap karya membawa sejarahnya, dan publik membawa pengalaman masing-masing; kurator hanya menyediakan ruang bagi keduanya untuk bertemu.

Sesi tanya jawab membuka percakapan praktis: apakah strategi festival dan jaringan kuratorial dapat mempengaruhi perkembangan film dan seni di Indonesia? Ondřej menjawab bahwa festival internasional tidak bisa menggantikan kerja komunitas lokal. Jaringan global hanya akan bermakna jika ia terhubung dengan infrastruktur lokal yang sehat, yaitu komunitas pembuat film, pendidikan, pendanaan, kritik film, arsip, dan diskusi publik. Alia menutup dengan menyatakan bahwa institusi lokal adalah fondasinya, sedangkan jaringan global hanyalah perpanjangan tangan. (Sarahdiva Rinaldy, 26/11/2025)